AHO lagi, jangan bandingkan luar negeri donk.

image

Di Eropa gini, di Malaysia gini, di Amrik gini loh…. emang kita tinggal disono? Coba bandingkan sarana prasaranya, bandingkan tingkat kriminalitas, bandingkan tingkat keamanannya(aparat) antara indonesia dengan negara maju!. Loh apa hubungannya dengan AHO (automatic headlight On) !? Buanyak… contohnya diluar negeri apa perlu plat nomor di bagian depan motor? Di Indonesia wajib tuh, kalo pas masuk parkiran apa bisa petugas parkir melihat nopol motor kalo lampu utama dinyalakan, bisa buta matanya lama-lama. Apalagi klo motornya kaya motorku yang pake lampu 50 watt dan DC ( langsung ambil dari aki) 🙂 . Kalo diluar mungkin tempat parkirnya ga ada petugasnya kali.
Bagaimana dengan kondisi sosial penduduk  ?perumahan di Indonesia beda jauh dengan luar. Berapa banyak penduduk kita yang tinggal di gang tikus?, trus aktivitas sosial berkumpul di luar rumah juga tinggi di Indo. Klo dinegara maju mah mana ada yang namanya gang tikus trus antar tetangganya cangkrukan 😆 bisa jadi malah tetangga sebelah aja ga kenal.
Trus apa hubungannya tingkat kriminalitas dan keamanan dengan AHO? Erat banget bro. Dipintu gerbang perumahan mertuaku ada tulisan saat keluar/ masuk gerbang lampu utama harap dimatikan dan helm bagi pemotor harap dibuka. Alasannya agar security dapat melihat jelas wajah pengemudi yang keluar masuk. Kenapa juga di Indonesia ga pake parkiran yang humanless, bisa ilang semua motor diparkiran ato protol partsnya :mrgreen: 
image
Ane pun sering matikan lampu utama waktu berkendara yakni saat muacet parah, dan berhenti lama dilampu merah atau  dipersimpangan kereta api. Tiger ane pernah ga bisa stater elektrik pagi hari gara2 malemnya kejebak macet parah 1,5 jam dalam kondisi lampu melotot terus. Lah kalau terjadi pada ninja gimana. Kalo bebek dan motor lainnya kebanyakan lampu utama dayanya ambil langsung dari putaran mesin, jadi ga bikin aki tekor.

13 thoughts on “AHO lagi, jangan bandingkan luar negeri donk.”

  1. beda negara, beda kondisi ,beda budaya.. pembuat aturan aho terlalu instan dlm melkukan banding, asal liat,bikin, terapin.. perlu direvisi lagi neh AHO, berapa banyak sih memberikan konstribusi yg positif..

    1. Klo alasannya safety DRL ok dijalankan spy motor yg suka selap selip bakal lebih terpantau oleh pengendara lain. Masalahnya saklarnya diilangi itu loh, cuma pabrikan aja yang diuntungkan :mrgreen:

  2. Menurut hemat saya ada beberapa faktor yang membuat AHO dipilih untuk mensukseskan Daytime Running Light (DRL) kenapa?
    1. Ketaatan masyarakat kita terhadap peraturan sangat rendah, takut aki tekor lah, lampu panas dan cepet putus lah, pemanasan global lah, dll pokoknya masyarakat Indonesia pintar berdalih untuk tidak mengikuti peraturan.
    Masbro memang setuju dengan DRL, tapi banyak di luar sana yang resist dengan DRL, meskipun mungkin hanya 5-10% saja (kira2 aja ya!) yang nolak DRL,, sudah jelas program DRL ini gak bisa berjalan.
    Kurangnya ketaatan terhadap peraturan ini sulit dirubah sampai kapanpun, sudah membudaya dan tidak bisa dihilangkan hanya dengan peraturan dan tilang belaka karena gak patuh DRL. Jangan2 lampu dinyalain pas ada razia atau di tempat tertentu saja.. cape deeeeh!!!

    2. Kemampuan sosialisasi aparat terhadap masyarakat yang kurang. Jangankan untuk mensosialisasikan peraturan, kinerja di jalanan aja penilaiannya negatif mulu! ditambah lagi faktor dana untuk sosialisasi yang tidak sedikit.
    Ditambah adanya faktor `penolakan` dari segelintir masyarakat meskipun sudah dijelaskan maksud peraturan DRL. Karena biasanya orang yang `merasa paling benar` cenderung tidak mau nurut tuh! kalau sudah begini susah lagi deh!

    Kesuksesan DRL = Kepatuhan Absolut para rider
    ON semua, atau OFF semua… Kalau masbro seorang pengemudi truk besar pasti bisa mengerti pentingnya DRL, TAPI itu semua percuma apabila ada rider nyeleneh (lupa atau melanggar) dengan lampunya yang OFF,,, justru jadi gak keperhatiin bisa nimbulin kecelakaan.
    Segala sesuatu memang sulit pada awalnya, namun demi menjamin keselamatan hal yang maslahatnya lebih banyak dari madaratnya patut dipilih!!!
    Awalnya mungkin banyak masalah baik dari rider maupun tunggangannya, tapi semua bisa diperbaiki. Pabrikan akan terus berinovasi melakukan perbaikan produknya, tukang parkir yang silau bisa menggunakan kacamata hitam (yakin deh plat nomor masih kebaca!) atau cara lain, masyarakat di gang kecilpun saya yakin akan mulai terbiasa melihat lampu menyala!

    1. lebih penting mana, lampu dimalam hari atau di terik siang hari yang panas dan terang?

      Dan lagi angka kecelakaan diindonesia tetap naik dari tahun ke tahun…
      Apakah aho berfungsi klo begitu?
      Katanya mengurangi angka kecelakaan….

      Terlebih banyak rider yang ga nyadar klo dia riding menyalakan lampu high beam, justru malah membuat silau pengendara didepannya…

    1. Nah coba 89 rb kali ratusan bahkan ribuan motor. Belum lagi ongkos pasangnya. Klo ane sih juga deket dengan masyarakat bawah kadang suka ikut kongkow dengan orang2 kecil, jadi tepa selira sangat dijunjung. Mending swicth ke lampu kota saat melewati kumpulan orang.

  3. Menurut ane sih.. Semua ga ada yang salah, yang salah aparat pemerintah, seharusnya survey dan sosialisasikan terlebih dahulu. Dan jelaskan manfaat, juga alasan-alasan harus pake lampu siang hari. Selain survey dan sosialisasi, harus ada anggran buat lampu yang padam diganti gratis sama polisi sama pemerintah terkait.

Leave a Reply

Your email address will not be published.