Aparat punya keterbatasan dalam menindak pelanggar, ada skala prioritas dalam bertugas

image

Melalui email bro Galuh menceritakan pengalamannya berargumen dengan polisi yang akan menilangnya. Langsung saja ke TKP

:

selamat pagi mas yanuar, apa kabar ? hehe saya mau sekedar berbagi cerita nih mas, cerita itu juga sudah saya tulis di blog pribadi saya -> http://galuhyulham.blogspot.com/mudah2an bisa jadi pengalaman kita semua hehe (monggo kalo mas yanuar berkenan ditulis ulang di blog)

Sore ini cukup dibuat sedikit emosi gara-gara ulah aparat Polisi lalu lintas yang hampir menilang saya dengan tidak adil. Walaupun saat itu saya berada di posisi salah, tapi saya kira kesalahan saya sangat sepele dan tidak berpotensi menyebabkan kecelakaan atau menghambat kelancaran arus lalu lintas. Kok bisa tidak adil ? Begini ceritanya, sore tadi saya bermaksud untuk mengunjungi rumah seorang teman dengan mengendarai mobil. Seperti biasa, saya mengendarainya dengan kecepatan santai karena keadaan lalu lintas yang cukup ramai sore itu. Sampai di perempatan jalan Ir. Soekarno (rumah saya di komplek Araya) saya belok ke kiri untuk menuju daerah Rungkut. Tanpa disangka polisi lalu lintas yang setiap sorenya bertugas mengatur lalu lintas di jalan itu memberhentikan saya. Saya pun segera menepi dan tersadar sedari tadi saya mengendarai mobil tanpa memasang sabuk pengaman. Polisi itu memberi tahu kesalahan saya seraya meminta saya untuk menunjukan SIM dan STNK. Setelah menunjukannya, polisi itu membawa surat-surat saya menuju mobil dinas mereka. Waduh, ditilang nih ! Saya segera menanyakan alasan kenapa beliau langsung menilang kesalahan sepele seperti itu. “Peraturan tetap peraturan mas” jawab polisi itu. Mendengar jawaban tersebut saya tidak terima karena di jalan yang sama banyak pelajar SMP yang jelas-jelas tidak punya SIM mengendarai motornya tanpa menggunakan helm. Nah ! Lebih parah mana salahnya ? Polisi yang bertugas jelas melihat anak-anak SMP itu tapi tidak menindak mereka karena mereka berada di lajur kanan dan susah untuk diberhentikan karena lalu lintas sedang rame. Mereka lebih memilih menjaring mobil-mobil di lajur kiri dengan kesalahan yang amat sepele. Melihat polisi tidak menindak anak-anak SMP dan pengendara mobil lain yang tidak memasang sabuk pengaman tapi berada di lajur kanan, saya pun terus berkilah agar saya cukup diperingatkan dan tidak diberi surat tilang, toh saya juga menyadari kesalahan saya. Mungkin saya berbicara dengan nada sedikit tinggi (hehehe) sehingga membuat polisi itu juga emosi dan menyerahkan masalah saya ke atasannya yang lebih tinggi.Atasan polisi itu juga bersikeras akan meinilang saya. Saya pun bersikeras agar hanya diberi peringatan (udah salah tapi ngeyel hehe). Kira-kira seperti inilah isi adu argumennya : Polisi: Ada apa mas? mas sudah salah tapi ngeyel nggak mau ditilang.Saya: Bukan nggak mau pak, saya ngerti saya salah. Tapi kesalahan saya sangat sepele dan nggak berpotensi bikin kecelakaan pak. Kapolri juga pernah bilang kalo jangan gampang kasih surat tilang kalo kesalahannya cuma sepele dan tidak berpotensi menimbulkan kecelakaan.
P: Peraturan tetap peraturan mas, walupun kecil salah ya salah, kalo dibiarkan bisa salah terus! (mulai emosi)
S: Iya ngerti pak, tapi nggak bisa gitu juga pak, itu anak-anak SMP nggak pake helm kenapa dibiarin ? orang tadi nyetir nggak pake sabuk pengaman kenapa dibiarin ? (ikutan emosi)
P: Kami punya keterbatasan mas dalam menindak! (setengah membentak)
S: Bukan pak, soalnya mobil saya dalam posisi yang gampang di stop, jadi langsung diberhentikan dan mau main tilang langsung.
P: Sekarang coba mas saya kasih seragam terus bertugas disini, kami punya keterbatasan mas!
S: Iya pak saya ngerti! Disini yang saya masalahkan kenapa ada pelanggaran lain yang parah malah dibiarin. Kapolri sendiri pernah bilang kalo pelanggarannya ringan cukup diperingatkan saja, jangan gampang menilang!
P: Oke kalo maunya mas gitu, kali ini saya peringatkan, lain kali jangan diulangi! (dengan wajah dan nada bicara kesal)
S: Iya pak, makasih! Cukup alot adu argumen sore tadi. Dengan memasang tampang garang dan tingkah selengekan saya berhasil memenangkan adu argumen itu. Disini saya bukan sebagai anak seorang Jendral, saya hanya tidak terima melihat polisi seolah-olah menutup mata terhadap pelanggaran lain yang lebih parah (anak SMP naik motor tanpa memakai helm). Apa polisi memang sengaja menilang para pelanggar yang posisi kendaraan mereka mudah diberhentikan? Saya hampir yakin jika tadi saya tidak ngeyel pasti polisi tersebut akan menilang saya sambil menawarkan jalan “damai”. Polantas harusnya bukan mengedepankan jumlah pelanggaran yang ditilang, tapi lebih mengedepankan penyuluhan dengan cara santun dan simpatik. Jika kesalahan yang terjadi tidak bisa ditolerir dan berpotensi menimbulkan kecelakaan, silahkan ditilang. Saya disini tidak berniat sok menggurui atau ‘ngeles’ dari kesalahan, tapi sekedar menyampaikan pendapat yang didasari dari instruksi petinggi Polantas itu sendiri.

Sumber : http://galuhyulham.blogspot.com/2013/09/polantas-jangan-gampang-ngeluarin-surat.html

Menghadapi situasi ketimpangan jumlah polisi yang tidak sebanding dengan jumlah penduduk yang diayomi. Sebaiknya polisi lebih akurat dalam melakukan penilangan. Menurut pendapat SF prioritas penilangan ditujukan kepada pengendara yang sekiranya berpotensi membahayakan pengendara lain. Bukan target yang paling gampang di tangkap dan “potensial” dalam pengertian negatif.

SF tertarik reblogging artikel ini karena SF penduduk rungkut juga. Ortu dan rekan-rekan di daerah Rungkut dan sekitarnya (Surabaya-Sidoarjo) sering cerita mengenai ulah oknum yang bertugas dititik-titik blindspot untuk menangkap pelanggar lalu lintas… meleng dikit Ciluk Baaaa…..  ya salah sendiri sih kita langgar aturan… tapi sengaja melanggar dengan alpa beda soal loh….  Cari-cari pelanggar untuk kepentingan pribadi jelas mencoreng kehormatan aparat.  Meski ada efek positif : shock terapi bagi pelanggar yang menyepelekan aturan lalulintas. Namun mangkel juga kalau kita ditilang melalui jebakan betmen karena kealpaan kita misal : lupa pakai sabuk pengaman, tak melihat rambu karena tak jelas/tak tahu, salah jalur karena tak tahu daerah sekitar, dll.
Seharusnya ada batas yang jelas tindakan polisi dalam memberi peringatan atau menilang pengendara.

Dari kasus diatas monggo dijawab pertanyaan berikut : kenapa polisi memilih menilang pengendara mobil.

Karena menilang pengendara mobil lebih ………….  daripada menilang bocah smp pengendara motor.
Silahkan isi titik-titik diatas! Mau jawab serius monggo, mau guyon juga silahkan 🙂

0 thoughts on “Aparat punya keterbatasan dalam menindak pelanggar, ada skala prioritas dalam bertugas”

  1. Kalo pelanggaran sepele dan gak terlalu membahayakan lalu lintas, asal kita jago ngomong aja mah bisa bebas kok.

    Pernah saya ngalamin gak nyalain lampu depan di daerah Bekasi dari jalan Bekasi Raya ke arah MM. Pas sampai di perempatan kebetulan lampu merah dan akhirnya di-stop Polisi yang kebetulan lagi berdiri di sekitar traffic light, terus disuruh ke Pos.

    Setelah di-Pos akhirnya terjadi nego antara Saya (S) – Polisi (P) dan Teman Saya (T), kurang lebih seperti ini percakapannya:

    P: Tau mas, apa kesalahannya?
    S: Iya pak, maaf lupa gak nyalain lampu.
    P: Yaudah kamu saya tilang ya, nanti sidang tanggal … (lupa pastinya)…
    S: Waduh, di bekasi ya pak? Jangan pak, rumah saya jauh?
    P: Emang dimana?
    S: Di Pluit pak.
    P: Ah deket itu mah mah.
    S: Yah pak serius, jauh banget itu. Maaf pak tadi gak sengaja kelupaan abis beli bensin disana… (padahal enggak, cuma males aja :D). Lagian juga motor tua pak, belum AHO.
    P: Ah masa, itu motornya masih bagus kok! (sambil ngeliat ke arah motor)
    S: Beneran pak, kalo gak percaya liat STNK aja. Janji deh pak, saya gak bakal ngulangin.
    P: Yaudah, kamu kan katanya abis beli bensin. Sekarang gantian deh beliin bensin buat motor saya, terserah mau ngasih berapa aja.
    S: (buka dompet, niat mau ngasih 5rb atau 10rb gitu lupa).
    P: Eh, gak usah deh mas. Jalan aja, tapi lain kali jangan diulangi ya…

    Lalu temen saya ikutan masuk ke Pos, dan bilang:

    T: (Dengan tiba2 dan nada agak sombong atau gimana gitu) Maaf pak kita lagi buru2, mahasiswa biasa lagi ngerjain tugas… Saya juga instruktur safety riding kok pak! (sambil nunjuk protector di lutut, karena kebetulan itu pas mau ke salah satu tempat daerah Cikarang mau latihan cornering) 😀
    P: (Membalas dengan nada agak kesal) jadi yang bener kamu apa nih? Kalo mahasiswa malah saya tilang…
    S: Enggak pak, beneran tadi saya cuma lupa nyalain lampu. (mengalihkan pembicaraan temen tadi)…
    P: Yaudah jalan (sambil balikin STNK), tapi lain kali jangan diulangi lagi ya…
    S: Iya pak, makasih. Saya janji gak akan ngulangin lagi… (keluar Pos, dan akhirnya legaaa :D)…

    Jadi intinya kalo sama Petugas itu jangan kurang ajar macam ngaku2 Mahasiswa lah, Jurnalis lah, Pers lah dll. Intinya respek aja, kalo kita respek insyaallah itu Polisi juga bakalan respek juga kok…

    Pernah juga kejadian ke Sepupu pas zaman sekolah dulu pulang malem abis nonton Bola, kena razia belum punya SIM. Akhirnya sepupu pun kasih alasan: “Ya pak, sebenernya saya juga lebih suka naik umum, enak banyak temennya. Tapi tau sendiri pak Jakarta kaya apa, ntar ada apa2 di jalan misal ada tawuran atau kena begal, kasian orangtua saya. Ini aja motor almarhum kakek Saya (Honda Prima, STNK juga masih nama kakek)…”

    Dan akhirnya lolos juga, cuma dikasih peringatan sama Polisi: “Yaudah deh mas, lain kali hati2 di jalan ya…” 😀

    1. jangan ngaku mahasiswa lah, MHS itu musuh bebuyutan polisi.
      duh,,,,culunnya…
      lebih baik ngaku ANAK MENTRI pasti beres, jangankan cuma pelanggaran ringan, pelanggaran beratpun PASTI bakal bebas

  2. ironis, justru dg segala keterbatasannya polkish hrsny lbh inovatif dg memberikan penyuluhan, pembinaan dan menjadi tauladan.

    kyk pas mati lampu, lalu lintas semrawut = Polkish menghilang, lenyap. Giliran lalin lancar = Polkish kongkow rame dipos nya.

  3. mahal. yang penting sebisa mungkin kita meminimalisir membuat kesalahan dg mengetahui peraturan dan mentaatinya, agar tidak dimanfaatkan oleh oknum tsb, kalaupun kita berbuat salah lebih baik jangan menghindar atau ngotot beradu argumen mencari pembenaran. jelaskan dg baik mengapa sampai melakukan kesalahan dan mengikuti proses hukumnya yang sesuai peraturan berlalu lintas. imho

    1. makasih mas, saya sadar kalo salah, cuma ya itu.. polisi yang suka kongkow di daerah jalan itu sukanya cari2 kesalahan, tetangga saya pernah dikejar sampe masuk perumahan lho wkwkwkwk, makanya kemarin rada geregetan hehehe 😀

  4. yaelah, nilang anak SMP paling cuma dapet Rp 2.000.-| kalo nilang mobil kan bisa cepek tuh :mrgreen:
    dan itulah alasannya kenapa saat razia ane milih di jalur cepat di belakang mobil 😀

  5. betul kata org2 diatas, mata duitan polisinya.
    Deket rmah ane ada pos polisi, tapi pas macet2nya, ane GA PERNAH liat polisi kluar dan bantu ngatur. Giliran malem sepi, malah pada keluar razia2 pas di dpan posnya. Mnrut ane dari sini ud keliatan lah kualitas polisi lalu lintas jakarta -.-

  6. Tanpa bermaksud menghakimi yg bagi cerita, sepertinya mental kita semua perlu dirubah deh. Kalau setiap kali ditangkap dan mau ditilang trus kita merengek bilang…Pak kan yg lain juga melanggar kenapa saya yg ditilang….gak adil….lha besok2 saya pengendara R2 juga bisa dong bilang pak kok kalau razia kelengkapan cuma R2? Kapan R4 juga dirazia itu banyak yang mobilnya pake lampu HID gak pernah ditangkep padahal bikin silau…giliran motor aja spion cuma satu ditangkep…tjape deh….

  7. Wah ini sih namanya mencari pembenaran mas.
    Itu kan mental:
    #lho itu juga kok?
    #lha ini juga kok?
    #kok itu nggak?
    #kok anu boleh?
    #dll
    Saya pikir harusnya kita bisa memulai dari diri sendiri.

    Saya pernah kok merasakan dalam posisi mas. Saya berbuat salah dijalan pakek R4, eh saya doang yang ditilang. Padahal kanan, kiri, atas, bawah, saya buanyaaaakkk juga yang melanggar. Terutama motor. Ya saya sih mikirnya saya lagi apes saja. Nggak kepikiran ngeles ini-itu untuk mencari pembenaran atas kesalahan saya.
    Diberhentikan : manut.
    Dikasih-tau kesalahannya : ngaku
    Ditilang : ya silahkan saja.
    Sing paling penting buat saya adalah nggak ada ‘money talks’ yang berbicara. Tilang ya tilang saja.

    #just my two cent

  8. jd doi gk pake sabuk pengaman,trus gk mau disalahkan gt jujur kalau ini saya lebih bela polisinya,kata siapa tidak menggunakan safety belt kesalahan sepele,kalau nabrak bisa fatal tuh mobil yg dilengkapi srs air bag aja gk ngejamin penumpang selamat walau sudah pakai safety belt?,gimana gk dipake?memang safety belt gk separah org naik motor gk pake helm tp inget hal sepele juga bisa membuat masalah besar galuh-galuh

  9. saya kira salah polisinya,tp setelah baca sampe bawah kesalahan yg sesungguhnya ada pada pak galuh,
    polisi yg suka nilang memang menyebalkan tp lebih menyebalkan org yg sadar salah tp membenarkan kesalahannya

Leave a Reply

Your email address will not be published.