Ban vulkanisir dan batik ulang mengancam nyawa!

image

Seringkali SF melihat serpihan ban di jalanan sekitar cacing dan marunda, sering juga SF melihat truk yang menggunakan ban yang mengelupas di beberapa titik, maklum biasanya SF menyelinap diantara truk kontainer :mrgreen: . 2 kali saat melewati cacing maupun marunda SF mendengar ledakan seperti suara bom, yang ternyata ban truk yang meletus. SF mendapat info dari satpam yang rumahnya daerah sono.  banyak pengusaha truk yang melintas di cacing/marunda menggunakan ban vulkanisir maupun ban yang dibatik ulang untuk menutup biaya operasional.

Beberapa hari lalu SF berada di samping sebuah truk yang menarik kontainer ukuran kecil melewati pom bensin yang didepannya terdapat persimpangan jalan . Kondisi jalan memang basah dan sedikit kotor berlumpur. Melihat banyak motor dan mobil melewati persimpangan SF mengurangi kecepatan untuk berhenti…. terdengar disamping kiri SF suara ban ngesot yang berasal dari truk sebelah. Padahal kecepatan saat itu ga seberapa tinggi , tapi ban truk itu sempet ngunci beberapa meter! Hingga sampai akhirnya berhenti.¬† Memang sih dari persimpangan masih agak jauh. Tapi ga bisa dibayangkan jika ada sesuatu yang tak terduga , misalnya pengendara sepeda/motor terpeleset didepannya (maklum banyak “jebakan” dijalan ini ), ada penyeberang jalan, dll.. bisa kelindes tuh….! Daripada ngurus knalpot , mending pak polisi menertibkan hal-hal seperti ini…
Dulu saat SMA, SF sendiri pernah jadi korban penggunaan ban vulkanisir pada motor…

Posted from WordPress for Android

18 thoughts on “Ban vulkanisir dan batik ulang mengancam nyawa!”

  1. Emang Mas… Masih mending cuma kontainer, lah kalo bus penumpang?

    Tapi untungnya beberapa bus penumpang sekarang udah banyak pakai ban regroovable. Katanya sih boleh dan masih aman untuk dibatik ulang, tapi gak tau sampai berapa kali…

  2. sebenarnya ban vulkanisir untuk truk/bus sah-sah saja digunakan.
    dengan catatan:
    1. ban itu memang tipe REGROOVABLE. biasanya tulisan ini ada di dinding ban.
    2. saat regrooving ban biasanya dilakukan di tempat produsen dan bahannya bagus. bukan sembarangan karet.
    .
    untuk sepeda motor ane belum pernah menemukan ban tipe regroovable. dan maskapai pesawat terbang di dunia juga banyak yg pake ban regroovable.

  3. Merasa bannya banyak mungkin, jadi pecah satu tidak masalah, kalau ban depan biasanya baru, nanti kalau agak botak pindahin ke belakang. Joss info pak Tarno

  4. Kalau ban truck dan bus di Indonesia memang sebagian besar hasil vulkanisir dan memang diijinkan pemerintah makanya gak heran kalau banyak yg copot di jalan (terserpih). Yg harusnya di tertibkan itu kelas jalannya, dulu di jalanan Plumpang dsk itu truck gak boleh lewat antara jam 7 – 21 sekarang mah bebas padahal jalannya sudah gak memadai karena sempit.

  5. Waktu bokap masih ada, ane kebetulan memiliki beberapa truk fuso,
    memang ada beberapa merk ban yg memang bisa divulkanisir ulang, karna karakter urat ban truck itu yg dilapisi kawat baja… Tp ane lupa kalo ga salah cuma bisa 1-2x vulkanisiran saja. Tp yg jelas ban truck haram dibatik ulang…..

  6. @pak tarno mantab pak informasi tambahannya.. beberapa kali mendengar letusan ban truk di cacing-marunda sepertinya penggunanya ga mempedulikan batas kemampuan ban itu sendiri (batik beberapa kali misalkan?). Ada kasus di kantor lama saya Ispat Indo – Sidoarjo sekitar tahun 2006-2007. seorang pekerja tewas karena ban meletus Kena pecahan besi atau sesuatu bagian dari velg, atau mungkin scrap yang ada disekitar ban yang meletus itu

    Vulkanisir diperbolehkan pemerintah? Ada yg tau aturannya? Bukannya ban juga harus lolos sertifikasi? SNI misalnya..
    Apakah ada sertifikasi atau jaminan keamanan ban vulkanisir? Bahan dari industri vulkanisir satu dan lainnya mungkin bisa juga berbeda. Masa pakai ban sendiri sebelum di vulkanisir kemungkinan juga expired…
    Pengalaman disamping truk ngerem dan selip beberapa meter bikin merinding…

    Mungkin pak tarno bisa ngasih pencerahan…

  7. Di eropa sebagan ban truk volvo dan scania juga pakai vulkanisiran. tp yang me vulkanisir emang skala pabrik demikian juga quality controlnya

  8. mas SF.
    sebenarnya ada 2 hal
    1. regrooving (membuat alur dengan mencoak ban)
    2. retreading (menempelkan layer baru di bagian tapak ban)
    .
    1
    untuk regroovable tyre dimungkinkan karena ban itu memang dirancang terdiri dari beberapa layer dan bisa dibatik ulang. pembuatan alur baru umumnya dilakukan sebelum alur benar-benar habis.
    pada ban ada penanda yg menentukan masa pakai ban berdasarkan alur. jadi jika penanda keausan ban tercapai maka ban bisa dibikin alur lagi. langkah ini dilakukan hanya sekali saja.
    .
    2.
    untuk retread tyre ini biasanya dilakukan di pabrik besar.
    setau ane good year bikin pabrik retread di sini. tentunya merk besar lainnya juga bikin pabrik retreading.

    untuk ban regroove dan retread aturannya gak boleh dipake di depan, harus di belakang. dan umumnya juga gak boleh dipake sampe gundul.
    pabrik besar tentunya punya standar dalam pengerjaannya, kecuali pabrik abal2.
    .
    tapi ya dasar orang sini pake ban gak aturan, mau ban retread/regroove/ban baru sekalipun makenya sampe kelewat batas, itu yg jadi biangnya mala petaka. intinya pake ban recycle juga tau dirilah. jangan muat berlebih.
    INGAT!!, GAK SEMUA BAN BISA DIREGROOVE/RETREAD.
    TERGANTUNG JENISNYA.

    1. kata siapa? justru ini ilmu dari luar negeri kok. eropa amrik ostralia juga banyak ban vulkanisir.
      .
      untuk keamanan gradenya adalah (dari teraman – terburuk)
      ban baru > regroovable tyre > retread tyre > ban gundul

  9. ya harusnya polisi ngurus ban vulkanisir dan juga knalpot berisik, jangan satu belum dtangani terus jadi alasan untuk membiarkan gangguan yg lain, nanti ada yg bilang daripada ngurusin spion dilipat, atau ban cacing, atau trek trekan di jalan mending nangkap jambret, terus jambretnya daripada nangkap yg kecil2 mending nangkap koruptor, akhirnya ga mulai action dan jadinya lingkaran setan jadi negara tanpa aturan

Leave a Reply

Your email address will not be published.