Pengalaman hidup SF, 20 tahun lebih di sekitaran dolly- Surabaya.

Monggo cari camilan dulu, ngopi dulu karena artikel berikut lumayan panjang…. πŸ™‚

image
Sumber: roten.blogspot.com

Ga bisa di pungkiri Dolly adalah bagian dari sejarah hidup SF. Jangan salah paham dulu…. SF tinggal di Dukuh Kupang Lebar, kira-kira berjarak 2 km dari pusat dolly. Tapi sebelum di gang dollynya ada yang namanya jalan jarak. Dolly hanya berupa gang yang susah dilalui 2 mobil berpapasan. Itu dulu pusatnya.. tapi seiring perkembangan jaman lokalisasi ga hanya di gang dolly namun sudah merambah di jalan jarak. Bahkan di gang tikuspun dijadikan puskesmas alias Pusat Kesenangan Mas-mas… makin berkembangnya jaman makin luas kompleks pelacuran sehingga makin mendekat dengan kediaman SF. Hingga jaraknya kurang dari 1 km.
SF bersekolah di SDN dekat rumah, di SD tersebut banyak siswanya berasal dari area jarak dan sekitarnya… Latar belakang teman SF bermacam-macam ( tau sendirilah), saat itu sih kita anak SD ga peduli kamu anaknya sapa. Saat reuni SD belasan tahun silam, SF begitu miris mendengarkan berita dari teman-teman yang hadir.. ada teman yang jadi preman di dolly, ada yang terseret arus Dolly, ada yang jadi makelar di dolly, ada teman SF yang masuk penjara karena bacokan, namun Alhamdulillah ga sedikit juga rekan yang menuai sukses dalam hidup.
Kehidupan jaman kecil SF cukup berwarna.. cerita mengenai kenakalan teman kampung SF ( langsung dari nara sumber ) cukup bikin miris. Masih di usia SD mereka sudah menikmati tubuh wanita… ada teman di kampung bercerita diajak begituan gratis oleh PSK, denger-denger itu syarat dari sang dukun. Sperma bocah perjaka bikin awet muda dan bisa sebagai penglaris! Katanya…
Ada juga yang saking penasarannya mereka mengumpulkan duit untuk main dengan PSK. Akhirnya malah ketagihan….!
Selain Dolly ada satu area perbatasan dengan dolly yakni kuburan Cina kembang kuning. Saat malam tiba, kuburan yang seharusnya berkesan angker malah menjadi tempat mesum remang-remang… Yup kuburan dijadikan sarana prostitusi…! Eksekusi pun tak jarang dilakukan diatas nisan!
Penjaja cinta disini biasanya wanita STW (setengah tua) yang sudah tidak laku lagi di kawasan dolly/jarak, area ini juga dihuni oleh Waria.  tarifnya jelas jauh lebih murah dibanding dolly …cukup beberapa lembar ribuan, katanya (duluuu ya… ) konsumennya dari anak SD hingga kakek-kakek… byuuhhh… rusakkk….
Dikisahkan oleh seorang teman yang tinggal di kawasan Jarak, pemilihan RT/RW disana diperebutkan… karena RT/RW kabarnya menerima iuran rutin dari wisma tiap bulannya.
ABG tak cukup umur seharusnya ga diperbolehkan jadi pelacur… nyatanya buanyak tuh yang dibawah umur. Entah bagaimana mereka bisa dapat KTP… rekan SF tau betul info ini karena dia sempat ikut pendataan penghuni wisma info ini.
Saat bulan puasa , wisma yang seharusnya tutup masih beroperasi secara sembunyi-sembunyi…memang sih dari luar wisma terlihat tertutup rapat. Namun sang makelar berkeliaran menjemput mangsa.

Saat SF sekolah SMP dan SMA, jalur SF terdekat kesekolah adalah melewati “kota” jarak. Seminggu sekali (entah kamis/jumat pagi-lupa) jalanan nampak lebih padat dibanding hari biasa. Masalahnya ada kegiatan senam pagi yang diadakan penghuni wisma dolly…. otomatis jalanan ramai, ramai karena banyak yang nonton PSK senam di pertigaan dolly! entah apa sekarang masih diadakan kegiatan ini ….
Penduduk sekitar dolly sebagian memang bergantung pada keberadaan dolly…. penyedia tempat parkir, depot makanan, karaoke, biliard, kios rokok, penjaja makanan keliling, makelar prostitusi, tukang parkir, tukang becak, supir pengantar “dinas luar”, hingga pemilik tempat kos dikelola warga sekitar.
Dari jaman SD hingga sekarang rencana penggusuran dolly beberapa kali di gulirkan. Pernah dulu entah jamannya walikota siapa, para penjaja sex ini di bekali ilmu untuk berkarya misalnya memasak, salon atau menjahit, dll. Namun karena pesimis penghasilan bakal mencukupi mereka tetap memilih menjadi PSK. Maklum penghasilan yang diperoleh sewaktu jadi psk setara level manager, tanpa dipotong Pph lagi. Pantas saja saat Ibu Risma memutuskan untuk menutup Dolly, banyak penghuni kelabakan dan protes keras.
Praktik jual beli wanita sangat umum didolly ini. Banyak dari mereka ga bisa meninggalkan wisma karena mereka terikat kontrak… wisma membayar makelar yang mendatangkan psk ini. Biaya makelar dan bunganya konon dibebankan ke sang wanita. Penghasilan mereka dipotong beberapa periode hingga cukup untuk melunasinya. Biasanya setelah lunas mereka tetap terjebak di wisma… gimana lagi …. kehormatan sudah tercabik, kerja lain ga punya skill, dan lagi… penghasilan kedepannya sudah diterima full ga dipotong hutang lagi,… ya tetep deh jadi psk…akhirnya ya makin hari makin luaslah komplek pelacuran ini….

SF bukanlah pakar, jadi susah untuk memberi pemikiran agar Surabaya bisa lebih baik. Jelasnya dari pengalaman masa kecil hidup dipinggiran kawasan merah, generasi penerus bangsa yang paling terpengaruh kondisi di dolly. Bagaimana mereka dengan bebasnya menyaksikan wanita mengumbar aurat, minuman keras banyak diperjualbelikan, judi dimana-mana, kekerasan sering dijumpai. Bersyukurlah jika mereka mempunyai keluarga yang bisa membentengi mereka… lah kalau sebaliknya,… ya runyammmm…

Pemerintah kota Surabaya dibawah pemerintahan Ibu Risma tentunya sudah menyiapkan langkah langkah pasca penutupan Dolly. Harapan SF, penutupan Dolly ga menciptakan masalah baru misal : pelacuran merajalela ke jalan-jalan, wisma-wisma gelap makin bertebaran dan susah di monitor, mantan penjaja sex serta pihak pendukungnya tetap berupaya jualan dengan segala cara.

Mau ga mau penggusuran tetap harus dilakukan … ga mungkin kita sebagai umat beragama membiarkan praktik maksiat berlangsung tanpa batas… Kasihan generasi penerus bangsa.. kalau dari kecil sudah direcoki kehidupan di prostitusi, bagaimana jika mereka jadi kepala rumah tangga, bagaimana mereka mendidik anak-anaknya kelak? Apalagi area prostitusi dolly itu gabung sama perumahan warga loh….

Bayangkan kalau prostitusi malah dilindungi pemerintah (baca artikel kemarin )
Apa jadinya beberapa tahun kedepan?, berapa banyak yang malah memilih jadi PSK karena pengasilannya yang menggiurkan (saya yakin banyak daei mereka ga ber NPWP alias ga bayar pajak), dilindungi pemerintah lagi. Berapa lagi generasi penerus bangsa jadi korban tak langsung dari keberadaan Dolly. Kalau tidak ditutup sekarang kapan lagi?

Terima kasih kepada mama-papa yang berhasil melindungi anak-anaknya dari pengaruh buruk dolly. Semoga penjaja sex dan pihak pendukung keberadaan Dolly diberi kesempatan kedua oleh Allah, diampumi tobatnya, dan diperlancar rejeki yang halal.

0 thoughts on “Pengalaman hidup SF, 20 tahun lebih di sekitaran dolly- Surabaya.”

  1. Subhanallah….sukses surabaya suksesi dolly segera di tutup…,semoga semua pihak sadar demi kepentingan umat…pertama kali menginjakkan kaki di surabaya senang dengan lingkungannya yg bersih…gak ada gelandangan pengemis dan sejenisnya..,tapi miris juga begitu lihat sepanjang jalan wanita di jejer dalam aquarium kaya ikan hias…semoga penutupan dolly tdk menyisakan masalah baru…dan salut buat mas SF dengan artikelnya,.mantap…

  2. Setuju om, sy juga ga tw prosentase keberhasilan solusi yg diberikan Bu Walkot terhadap mantan germo, mantan pelacur, & warga sekitar. Tp yg namanya fasilitas buat zinah ya harus ditutup, masa iya diantepin mulu.

    Saran bwt kita semua, termasuk saya, stop lah penggunaan istilah ‘Pekerja’ Seks Komersial. Pelacur sih pelacur aja, perek sih perek aja. Kalo istilah itu dianggap merendahkan mereka, ya bantu angkat dong harkat & martabat mereka. Jgn hanya ngomong HAM smpe berbusa2 sambil membiarkan martabat saudara-saudari kita itu terus diinjak2, jadinya ya kita yg tdk menghargai HAM. CMIIW

    1. Sudah diupayakan untuk dibekali ilmu dan modal, ditawari juga digaji pemda untuk jadi linmas… tapi karena ga mencukupi pada ga mau. Jelas kalau mereka tetep mau minimal 5 juta sebulan ya susah. Saudara-saudara kita kerja banting tulang siang malam dapat uang 2 juta saja sebulan dah lumayan. Sekitar 2007 saya kerja di sebagai senior officer di perusahaan besar dapat cuma 2.5 jt sebulan.alhamdulillah saat itu saya merasa cukup. Penghasilan segitu bagi pelacur dianggap terlalu sedikit. Berapapun hasilnya asal halal dinikmati saja. Penurunan ekonomi pasti terjadi… tapi saya rasa akan lebih terhormat jika uang diperoleh dengan cara halal. Bagaimana jika ortu atau anak di desa tau jika ibunya seorang pelacur… apa mereka mau makan dari hasil keringat ibunya… tentunya banyak yang rela hidup lebih sederhana asal uangnya halal.

  3. mengurangi dan bahkan menghilangkan segala bentuk kemaksiatan,
    akan mendatangkan rahmat bagi seluruhnya,
    harta dicari karena ke halal lannya dan BarakahNya,walau pun sedikit

    sejatinya bu walikota sedang menarik para ahli maksiat dari jurang kemaksiatan,kepada kesalamatan di dunia dan akherat,…mestinya berterimaksih dan bersyukur.
    ========================================
    KASUR BUSA INOAC

  4. memang berwirausaha juga bukan hal mudah.. intinya pemerintah harus bekerja sama juga dengan para social entrepreneur.. pemerintah yang membina dengan pelatihan.. entrepreneur yang menampung.. sehingga sinergi antara kebutuhan SDM dan pendapatan.. intinya memang kalau kita IMAN ALLAH AKAN BERI JALAN.. yang susah itu imannya ga ada…

  5. ihirr…. kapan nih penulis ngopi2 di deket UWK?? bolehlah kita ngopdar hehehehe

    saya pribadi bukan orang asli surabaya, pendatang yg kebetulan sekarang berdomisili di Surabaya dan menetap di radius sekitar 10 km dari dolly. saya setuju banget ma om SF ini, secara tidak sadar pengaruh tempat maksiat pasti mengimbas kepada masayarakat sekitarnya dan peran keluarga sangat besar dan berat untuk membentengi keluarganya dari pengaruh negatif tersebut.

    “Allah tidak akan mengubah nasib umatnya, bila umatnya tidak berusaha mengubahnya juga” mungkin itu kata-kata yang tepat untuk saat ini. para penghuni disana tidak mau mengubah nasibnya, karena dibutakan dan diperbudak oleh dunia…..

    1. wah.. kapan kopdar nih? kebetulan saya juga pendatang, sekarang domisili surabaya, daerah dukuh pakis (tinggal nyebrang jalan aja nyampe kok dukuh kupang :D)

      denger2 info dari sumber terpercaya, sekali masuk dolly, keluarnya perlu tebusan (lebih tepatnya ditebus) ke mucikarinya oleh orang yang akan ‘membawa’ si psk. Nah, mungkin it alasan yang mmbuat para psk disana susah untuk kembali ke keluarga mereka / keluar dari sana.

      bukan tidak mungkin mrk yang ada disana jg pny keinginan untuk lepas dari sana, tapi dengan keadaaan yang seperti itu (spt yg sudah dijelaskan diatas oleh smartf41z.com ) dimana Banyak dari mereka ga bisa meninggalkan wisma karena mereka terikat kontrak… wisma membayar makelar yang mendatangkan psk ini. Biaya makelar dan bunganya konon dibebankan ke sang wanita. Penghasilan mereka dipotong beberapa periode hingga cukup untuk melunasinya menjadi alasan terberat.

      Ya, semoga saja dengan dideklarasikanny penutupan dolly, prostitusi bisa dikurangi di kota Surabaya ini, dan mudah2an setelah pentutupan dolly, para psk yg bekerja disana bisa mendapat tempat mencari rejeki yang lebih baik, dan bukan malah ‘berjualan’ ditempat lain. It bisa jadi tambah runyam.

      Amin..

    1. Monitoring kudu diperketat… kalau mereka pindah ke ruko2 terselubung ga terang terangan efeknya ga sedasyat dolly yang berada di tengah perkampungan padat penduduk. Saya yakin ibu Risma ga bakal menutup mata

  6. kalau dijakarta, pernah iseng nanya sih om. itu yang kelas alexis, red top hotel dan sekitarnya. penghasilan mereka udah selevel GM loh. mobilnya paling buluk honda jazz rs terbaru, yang paling bagus? udah kelas pajero keatas. kalo nongkrong di klub stadium dan klub malam ternama lainnya (makanya ati2 yah kalo dugem, salah2 dapet ceweknya terapis πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ ), gayanya jetset total.

    yaa mungkin ini sebabnya mereka menolak ditutup. dengan penghasilan segitu besarnya. kalau ada yang selevel dalam hal gaji mungkin mereka bakalan cabut dari dunia haram tersebut. tapi biar bagaimanapun kalo efeknya itu merembet sampe anak-cucu ya emang kudu ditutup.

    salut sama Bu Risma, Jakarta aja kalah soal ginian :p

  7. ternyuh membaca tulisan abang…seorang wanita yang harus di muliakan menurut wasiat rosululloh di perjual belikan dengan harga tak seberapa…semoga doli bisa di tutup secepatnya dengan tanpa menyisakan masalah baru bang

Leave a Reply

Your email address will not be published.