0 comments on “Pemda Jakarta berulah… declare war terhadap pengendara roda 2 nih

  1. Coba itu si Para Pejabat Terhormat Pemprov DKI suruh ikut acara semacam tukar nasib seperti yang pernah tayang di salah satu stasiun tv beberapa tahun lalu… Mereka gantian jadi kurir yang kerjanya antar barang / dokumen dari Gedung A ke B ke C dst, tapi disuruh naik Angkutan Umum… Dan gak boleh telat!!!

  2. Coba dicermati deh isi peraturan produk pemerintah sebelumnya yg menyatakan motor dikecualikan dari ERP dan fakta bahwa di jalan-jalan protokol akan dikenakan ERP….sebenarnya yg bikin motor dilarang adalah karena motor gak kena ERP jadi daripada gak dapet pemasukan dan motor makin berjibun dilarang aja sekalian gitu sih kalau pada sadar….dan inget yg mau ditiru soal pelarangan motor di jalan protokol adalah cerita sukses di RRC yang mana jalanannya super lebar (soalnya harus bisa dilewatin tank) jadi gak masalah kalau dilewatin mobil dan negaranya otoriter jadi rakyatnya gak bisa protes….jadi aneh juga kan pemerintah di negara demokratis memberlakukan aturan otoriter…..

  3. saya setuju sama comment diatas gan, banyak perda yang dibuat memaksakan, dan asal ceplok dari peraturan negara lain. sebelum ditetapkan seharusnya dibuat semacam uji kelayakan dulu apakah bisa diterapkan atau memang harus direvisi bahkan dibuang, karena beda negara, beda kota beda juga permasalahan yang ada. kalau saran saya, sebaiknya memang di perbaiki dulu mental alat negara. banyak polisi yang bisa dibeli gan… dan kita sebagai pengguna kendaraan roda 2 bukannya tidak mau tertib kok.

  4. Memang aneh sekali aturan pemda yang satu ini, justru mobillah sama angkutan umum yang menyumbang kemacetan. Sering saya liat pas jam pulang kantor, yang mayoritas 1 mobil diisi 1 orang saja, belum lagi ditambah angkutan umum seperti metro mini, kopaja, angkot” yang suka ngetem di sembarang tempat, bahkan ada yang sampai ngetem di tengah jalan. Kalo dibandingkan dengan mobil,justru motorlah yang lebih efisien, macet masih bisa nyelip. Angkutan umum jakarta seperti busway, angkot, kopaja masih belum diandalkan soal ketepatan waktu. Dulu saya mau ke daerah cawang dari arah cengkareng karena ada meeting disebuah perusahaan, saya berangkatnya jam 7 pagi, tapi sampai disana saya malah sampainya jam 9.30 gara” lama menunggu busway, padahal saya janji ketemuannya jam 9 pagi. Kalau saya naik motor paling lama mungkin hanya memakan waktu 1 jam saja. Dulu pas saya ke negara tetangga, jalanannya yang lebih lebar dan lebih bagus saja masih bisa macet pas jam pulang kerja. saya juga sekalian mencoba monorailnya, sangat tertib dan tepat waktu sekali, setiap 2 menit sekali selalu tersedia, belum lagi angkutan busnya seperti rapidKL, yang setiap 5 menit sekali busnya sudah pasti ke halte yang kita tunggu, beda apabila dibandingkan dengan transjakarta. Menurut saya, sebaiknya ditertibkan lebih dahulu kondisi jalannya. Jalanan selebar apapun kalau penggunanya tidak tertib akan macet juga.

    • Ya itu sebelum pemda yg sekarang bertugas pun saya sudah mencoba pakai TJ waktu masih hanya koridor 1. Tiga bulan pertama TJ masih nyaman saya masih bisa naik tanpa menunggu lama dari kawasan Sarinah ke Blok-M memasuki bulan ke-4 saya kembali pakai motor karena setiap mau pulang dari Blok-M (terminal terakhir) harus menunggu sampai 1 jam akibat TJ yang masuk terminal sudah penuh oleh penumpang. Sediakan dulu angkutan umumnya, larang yang pakai mobil baru setelah itu motor.

  5. Kebijakan yg sepihak ya om… Padahal pengguna mobil sudah banyak diberi keistimewaan, boleh masuk tol, boleh naik jalan layang non tol, boleh memakai ruas jalan manapun baik kiri atau kanan dan jalur cepat atau lambat, dan mereka juga boleh nenggak bbm subsidi lebih banyak dibanding motor. Lalu kenapa masih motor yg salah? #miris…

  6. ini semata2 lebih karena para pejabat tidak capable dalam membuat keputusan dan sudah putus asa sehingga mengambil jalan pintas…. padahal sudah banyak yg bilang angkutan umumnya dibenahin dulu baru silahkan mau larang ini larang itu….di RRC angkutan umum (bus) nya sangat tepat waktu dan tidak kejar setoran salip2an dan ngetem sembarangan spt di jakarta dan betul jalan disana luebar luebaaaarr……

  7. ini lah memang sialan semu pejabat di indo mikir enaknya sendiri, saya sebagai pengguna motor pun miris liat mobil ditengah macet yg masih banyak isinya masih cuman 1-2 penumpang saja , justru orang2 yang tidak sadar itu dibuat semakin enak, jalan layang bebas pula tinggal pilih motor banyak sekarang larangan jala layang, lalu masuk jalur lambat cepat, tol segala macam, memang gak rasional pemda dki ini, makin lama kemacetan makin parah aja kalau begini sekarag bayangkan jka motor dilarang lalu orang yg biasa naik motor tapi punya mobil misalnya jadi harus mengeluarkan mobil mereka ke jalan yang dilarang lewat motor itu, tohh yaaa jadi tambah macet kan, semua mobil berkumpul pula, makin gabetah di indo yaampun

  8. terkesan solusi yg dipaksakan krn memang mngkin hmpir g ad solusi total. plg engga, kepadatan ibukota displit, disamaratakan ke daerah lain. Ibukota sudah selayaknya dipindah..

Leave a Reply

Your email address will not be published.