16 comments on “Jakarta Makin Ruwet… Siapa Suruh Datang ke Jakarta?

  1. Ini artikel ungkapan hati ya mas? Tapi seru artikel kayak ginian yg jadi trademark nya smartf41z panjang gak ngebosenin..ringan di baca dan di cerna..anti mainstream juga yah..hahah keep blogging mas..

    • Ya jelas bro.. pemakai moge jelas punya mobil… klo yang harian pake motor kecil dan kebetulan kudu lewat sono ya kasian… perlu berangkat lebih pagi, pulang lebih malem. Lebih sedikit waktu untuk keluarga

  2. ini nih yang saya alami

    puluhan bahkan mungkin lebih teman2x zaya di tarik dari daerah ke kantor pusat. sy sendiri bekerja di salah satu BUMN.coba bayangin mas, perusahaan mengeluarkan biaya pindah yang tidak sedikit bagi zaya. suami, istri dan 3 anak menjadi penghuni yang namanya jakarta. sy sendiri masih sangat berharap pulang ke daerah asal.

    kebijakan yang patut dipertanyakan. dari sisi biaya menjadi beban perusahaan. dari sisi saya malah sangat memberatkan. coz udh merasakan hidup yg aman dan nyaman ehhhh malah bermacet ria pluz biaya hidup yang tidak sedikit.

    haruznya perusahaan/instansi pemerintah/swasta memikirkan cara untuk “mengekspor para karyawan dari pusat ke daerah bukannya mengimpor.

    sory maz curhat pluz tatanan bahasa yang kurang.

  3. 100% sependapat bro, memang sih beberapa perusahaan ada yang kantornya hanya satu2nya alias di Ibu kota doang, kalo kondisinya seperti itu memang risikonya pegawai harus ngikut, tapi untuk perusahaan dg cabang di hampir tiap daerah seringkali penempatan pegawainya ga sesuai dengan kota asalnya, ok lah untuk yang masih bujang dan senang main ini jadi kesempatan untuk keliling dan dapat pengalaman baru, tapi untuk yang berkeluarga malah jadi beban, baik dari biaya maupun batin, ujung2nya motivasi kerja menurun. solusinya memang antara resign dan cari kerja lagi di kota asal, atau jadi wirausahawan, tapi dua2nya juga ga mudah dan butuh proses lagi. makanya betul itulah pentingnya pemerataan pembangunan dan lapangan kerja, kalo ada pemerataan lapangan kerja para pencari kerja pun bisa kerja sesuai dengan daerah asalnya ga perlu lintas daerah (kecuali yang emang pengen), jadi ga ada cerita satu daerah padat penduduk dan daerah lain sedikit penduduk.

    Saya pribadi juga kebetulan sempat ditempatkan di luar daerah asal (Bandung), dan betul tiap hari selalu kepikiran pengen pulang, bisa disebut Homesick mungkin yah he3, makanya kalo sudah hari jumat pasti jam beres kerja langsung ngilang pulang ke Bandung he3, tapi Alhamdulillah akhirnya dipindahin lagi ke Bandung dan betul2 kerasa efeknya, kerja lebih semangat krn lebih dekat dengan keluarga, uang gaji pun banyak lebihnya jadi bisa untuk orang tua, nabung, dll.
    Tapi mungkin pengecualian kalo dapet beasiswa ke luar negeri sih saya juga ga nolak kalau harus menetap di sana untuk sementara he3

    • Sangat menjadi beban bro… setiap tahun saya buang sekitar 25jt (bukan dibiayai pemberi kerja) untuk kontrak dan mudik… coba kalau di homebase … utuh duitnya…

  4. Denger2 sih hampir 80% duit beredar hanya di jakarte, jadi ada gula ya ada semut deh….mbok ya nyontoh negara jaran eh jiran tuh yg mampu misahin kota pusat ekonomi dgn pemerintahan, jadinya gak ruwet2 amat kayak jakarte, imo loh…. 🙂

  5. Ya begini ini jadinya kalau negara strateginya money oriented bukan people oriented….semua dipikir pake duit bukan pake orang…pusatnya mau ngowel duit makanya orang ditarik semua ke pusat….

Leave a Reply

Your email address will not be published.