Jakarta Makin Ruwet… Siapa Suruh Datang ke Jakarta?

Siapa suruh datang Jakarta? Ga bisa dipungkiri.. pendatang adalah penyebab padatnya ibukota ini…
Bukan 100% salah pendatang juga… contohnya SF dan beribu-ribu rekan kerja SF. Kita kerja disini karena penempatan oleh pemberi kerja… ga bisa milih tempat…. coba bisa milih .. jelasnya pengen di homebase… meskipun di Surabaya juga ga beda jauh dengan Jakarta (macet,banjir,panas)… tapi karena rumah sudah ada , ga perlu ngeluarkan uang kontrak lagi, ga perlu pusing mikirin mudik yang bisa ngabisin jutaan rupiah, ga kena kebijakan aneh-aneh dari pemda Jakarta… pengorbanan lainnya SF terpaksa cari kontrakan diluar Jakarta karena harga kontrak di Jakarta sudah ga masuk akal

image
Pic:kompasiana

Bukannya tidak bersyukur… SF hanya ingin sharing.. ada sesuatu yang membikin pendatang seperti kita ini terpaksa datang ke Jakarta.

Ketidakmerataan pembangunan, didukung kebijakan pemberi kerja yang cenderung sentralistis, makin bikin njomplangnya pembangunan suatu daerah. Mau tidak mau pencari kerja kudu meninggalkan kota kelahiran berebut dengan jutaan pekerja lainnya dikota yang paling banyak menawarkan lowongan pekerjaan…

Kadang heran dengan pola penempatan beberapa instansi pemerintah… orang yang homebasenya jakarta dilempar ke pelosok, orang yang homebase di luar jakarta malah di tempatkan di Jakarta…

dari sudut pandang SF…
efek dari pekerja : motivasi kerja kurang karena jauh dari keluarga dan harus nambah biaya rutin yang tidak sedikit  , efek pemberi kerja : kinerja karyawan kurang maksimal. 
Teori sesimple itu ternyata susah diterapkan pemberi kerja…
Berikut ini salah satu cermin betapa kerasnya hidup di ibukota bagi pendatang
Seorang saudara SF (perempuan -pejabat eselon 4 suatu kementrian)  tidak bisa membawa keluarganya kesini karena suaminya kerja di Jawa tengah… rumah sodara tsb juga di Jawa Tengah…. hampir tiap seminggu sekali dia pulang naik kereta…. atau Suami dan balitanya yang gantian datang ke Jakarta… awal cobaan…  saat bensin naik yang diikuti oleh kenaikan harga bahan makanan, angkot langganannya akhirnya naik tarifnya, ga lama kemudian tarif kos ikut naik, yang paling bikin setengah shock dia saat mendengar harga tiket kereta ekonomi naik lebih dari dua kali lipat…. hmmmffttt… kontan saja dia dan ratusan rekan kerjanya berencana demo besar-besaran menolak kenaikan tiket kereta(ternyata tiket kereta kembali diturunkan Maret 2015, setelah Januari-Februari 2015 sempat naik) . Pejabat eselon 4 suatu kementerian di Jakarta saja cukup kewalahan hidup diJakarta, apalagi karyawan biasa? Mau keluar kerja? Ga segampang itu… beberapa karyawan terikat kontrak dengan pinalti atau bahkan ijazahnya ditahan jika mengajukan pengunduran diri sebelum waktunya.
Saat SF ngobrol dengan kenalan dari jawa timur (entah itu PNS, tukang bubur, montir dll) kapan terakhir pulang kampung? … banyak dari mereka yang sudah bertahun-tahun ga bisa pulang kampung. Untuk hidup sehari-hari saja susah, mana sempat berpikir untuk pulang kampung? , tapi ada juga yang nekat pulang kampung meski ga ada biaya… naik motor beratus kilometer bersama anak istri.
Beberapa karyawan kerja diJakarta karena diiming iming gaji tinggi. Setelah dapat gaji dipakai nyicil ini-itu…, termasuk beli properti… ada saja yang yang mencegah pendatang balik ke kota asal.
Beberapa orang yang sudah menemukan “jalan” diJakarta terang-terangan menolak kembali ke kampung halaman… alasannya susah memulai dari baru, dan ga bisa cari duit (cari untung besar) dikampung halaman. Konsumen di kampung juga ga sebanyak Jakarta.

Pemerintah Jakarta bukannya mendiamkan hal ini. namun sudah berusaha mengerem urbanisasi, dengan seringnya razia KTP, menangkap pengemis/pengamen liar, dll…  Namun ironisnya masih banyak pemberi kerja yang dengan sengaja menarik Karyawan dari daerah masuk ke Ibukota….

Selamat menikmati keruwetan kota ini…

16 thoughts on “Jakarta Makin Ruwet… Siapa Suruh Datang ke Jakarta?”

  1. Ini artikel ungkapan hati ya mas? Tapi seru artikel kayak ginian yg jadi trademark nya smartf41z panjang gak ngebosenin..ringan di baca dan di cerna..anti mainstream juga yah..hahah keep blogging mas..

    1. Ya jelas bro.. pemakai moge jelas punya mobil… klo yang harian pake motor kecil dan kebetulan kudu lewat sono ya kasian… perlu berangkat lebih pagi, pulang lebih malem. Lebih sedikit waktu untuk keluarga

  2. ini nih yang saya alami

    puluhan bahkan mungkin lebih teman2x zaya di tarik dari daerah ke kantor pusat. sy sendiri bekerja di salah satu BUMN.coba bayangin mas, perusahaan mengeluarkan biaya pindah yang tidak sedikit bagi zaya. suami, istri dan 3 anak menjadi penghuni yang namanya jakarta. sy sendiri masih sangat berharap pulang ke daerah asal.

    kebijakan yang patut dipertanyakan. dari sisi biaya menjadi beban perusahaan. dari sisi saya malah sangat memberatkan. coz udh merasakan hidup yg aman dan nyaman ehhhh malah bermacet ria pluz biaya hidup yang tidak sedikit.

    haruznya perusahaan/instansi pemerintah/swasta memikirkan cara untuk “mengekspor para karyawan dari pusat ke daerah bukannya mengimpor.

    sory maz curhat pluz tatanan bahasa yang kurang.

  3. 100% sependapat bro, memang sih beberapa perusahaan ada yang kantornya hanya satu2nya alias di Ibu kota doang, kalo kondisinya seperti itu memang risikonya pegawai harus ngikut, tapi untuk perusahaan dg cabang di hampir tiap daerah seringkali penempatan pegawainya ga sesuai dengan kota asalnya, ok lah untuk yang masih bujang dan senang main ini jadi kesempatan untuk keliling dan dapat pengalaman baru, tapi untuk yang berkeluarga malah jadi beban, baik dari biaya maupun batin, ujung2nya motivasi kerja menurun. solusinya memang antara resign dan cari kerja lagi di kota asal, atau jadi wirausahawan, tapi dua2nya juga ga mudah dan butuh proses lagi. makanya betul itulah pentingnya pemerataan pembangunan dan lapangan kerja, kalo ada pemerataan lapangan kerja para pencari kerja pun bisa kerja sesuai dengan daerah asalnya ga perlu lintas daerah (kecuali yang emang pengen), jadi ga ada cerita satu daerah padat penduduk dan daerah lain sedikit penduduk.

    Saya pribadi juga kebetulan sempat ditempatkan di luar daerah asal (Bandung), dan betul tiap hari selalu kepikiran pengen pulang, bisa disebut Homesick mungkin yah he3, makanya kalo sudah hari jumat pasti jam beres kerja langsung ngilang pulang ke Bandung he3, tapi Alhamdulillah akhirnya dipindahin lagi ke Bandung dan betul2 kerasa efeknya, kerja lebih semangat krn lebih dekat dengan keluarga, uang gaji pun banyak lebihnya jadi bisa untuk orang tua, nabung, dll.
    Tapi mungkin pengecualian kalo dapet beasiswa ke luar negeri sih saya juga ga nolak kalau harus menetap di sana untuk sementara he3

    1. Sangat menjadi beban bro… setiap tahun saya buang sekitar 25jt (bukan dibiayai pemberi kerja) untuk kontrak dan mudik… coba kalau di homebase … utuh duitnya…

  4. Denger2 sih hampir 80% duit beredar hanya di jakarte, jadi ada gula ya ada semut deh….mbok ya nyontoh negara jaran eh jiran tuh yg mampu misahin kota pusat ekonomi dgn pemerintahan, jadinya gak ruwet2 amat kayak jakarte, imo loh…. 🙂

  5. Ya begini ini jadinya kalau negara strateginya money oriented bukan people oriented….semua dipikir pake duit bukan pake orang…pusatnya mau ngowel duit makanya orang ditarik semua ke pusat….

Leave a Reply

Your email address will not be published.