Mesin yang keterlaluan untuk sebuah bebek, kenapa ga dibenamkan ke motor sport?

Ga salah lagi SF membicarakan suzuki FU150.. motor ini bertenaga 18hp lebih, top speed diatas140 kpj. Keterlaluan untuk sebuah bebek yang kodratnya melekat sebagai kendaraan fungsional sehari hari 🙂 (yang sekarang dah direbut skutik) 🙂

image
Wuuuzzzzz......

Semakin ringan motor dipadu dengan semakin powerfull mesin akan menghasilkan motor yang jago dilintasan balap. Kalau dijalan umum tentunya akan menjadi senjata pembunuh ditangan yang salah.
Bobot ringan dengan roda kecil tentu mengurangi stabilitas… diartikel terpisah akan SF jabarkan seorang teman kerja SF yang ingin mengganti FUnya.
Kelemahan tersebut dapat diminimalisir oleh motor sport… bobot sepadan dengan performanya begitu juga ukuran kaki yang kekar untuk menahan laju motor berperforma tinggi.
Lantas kenapa Suzuki Indonesia ga membikin motorsport berperforma tinggi? Mungkin ini alasannya…
1. Image suzuki dengan bebek super/ayago sudah melekat dimasyarakat.
2. Sudah terlalu sering Suzuki gagal total di segmen selain bebek super. Mulai FXR 150, thunder 250, inazuma, bahkan maticnya yang punya banyak keunggulan juga keok dipasaran.
3. Suzuki gamang untuk ambil resiko bersaing dengan R15 dan New CBR150. Ga cukup menonjolkan performa untuk bersaing… image lawan terlalu kuat, suzuki juga kurang punya marketing yang menjual (yamaha dan honda punya modal motoGP), desain motor pesaing sangat bagus.
4. Lebih beresiko jika Sumber daya Suzuki terbatas. Mengurangi kapasitas produksi Satria FU kagak mungkin karena jualan utama suzuki, mau bikin lini produksi baru tentunya butuh biaya besar.
Kalau suzuki yakin bisa memberi banyak kelebihan selain performa pada motorsportnya harusnya suzuki berani melawan R15 dan CBR150…. kalau ga yakin ya kuatin bebek sportnya …seperti yang terjadi saat ini…. all out di kelas bebek super…

Fyi motor sport di negara maju ukuran 125cc saja dah pakai ban lebar 130 loh… Bahkan duke berani pake  ban 150.
Tapi kalau departemen perindustrian nganggepnya masih safety ya berarti safetylah sudahhh… 🙂

0 thoughts on “Mesin yang keterlaluan untuk sebuah bebek, kenapa ga dibenamkan ke motor sport?”

  1. Ini kalo gak salah ya…. Evolusinya dimulai dari Tornado –> Satria 2T –> Satria 4T, dan sukes hingga hari ini.
    Saat masa jaya Satria 2T Suzuki juga punya Shogun yg lahir dg 110, lalu klimaksnya di 125 SP, saat berubah ke Axelo malah jadi antiklimaks.
    Padahal menurut saya Shogun 110 hingga 125 (baik yg reguler maupun yg SP, tapi sebelum Axelo) itu populasinya sudah mendekati Honda Supra (ini cuma berdasarkan pengamatan lapangan), dan Yamaha belum serius main bebek 4T saat itu.

    Diluar type ayago, Suzuki sebenarnya sempat punya “gacoan” yg ngak bisa dibilang gagal, jadi alasan SF yg nomor 2 diatas kurang pas juga sih menurut saya, sayangnya entah kenapa evolusi Shogun kok malah jadi spt ini

  2. sebagai (mantan) pemilik Shogun 110 dan Skywave 125, dan merasakan sendiri ketangguhan mesin yang babar blas ga pernah rewel mulai dari dibeli sampai dijualnya, saya mengalami kebingungan yang sama mas.

  3. katanya sih tergantung behind the gun,

    padahal bus aja dibatasi kecepatannya.

    lagian juga ada yg kegirangan suzuku buta ampe segitu

    padahal dapet segitu juga dah nunduk kaya apa gitu

  4. masalah ban kecil, kita nggak bisa hanya menyalahkan pihak konsumen (dalam hal ini pabrik motor). karena pabrik ban sudah mencantumkan spesifikasi tentang bobot maksimum dan kecepatan maksimum yg bisa ditanggung ban tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published.