Bahayanya mobil mungil untuk jalur lintas kota

Just sharing secuil pengalaman saat balik dari Surabaya menuju Bekasi seminggu lalu. Karena SF mengantisipasi jika arus balik kali ini akan lebih melelahkan dibanding berangkat kmaren, sejak keberangkatan SF sedikit melaju agak nyantai. Di kawasan Tuban yang jalurnya terdiri dari 1 jalur utama dan 1 jalur motor, SF terhalang oleh 2 buah truk yang beriringan terlalu pelan… Sabar sih sabar tapi ya gregeten kalau gini. Karena itu SF putuskan untuk menyalip truk tersebut satu persatu…. Lalu lintas dari arah berlawanan cukup padat, karena itu SF agak lama di belakang truk tersebut… Begitu ada moment SF segera menyalip truk, meski di arah berlawanan nampak innova agak kencang tapi masih lumayan jaraknya… (Pas lah batin SF) … Pas sejajar dengan truk… Baru ketahuan ternyata didepan truk (diantara 2 truk )tersebut ada mobil mungil ga jelas apa merknya(lebih kecil dari agya/ayla, mungkin ceria/visto). SF sambil mengurangi kecepatan , mencoba masuk disamping mobil mungil tersebut. Untung innovanya agak ngalah dan ambil jalur motor…. Dan mobil mungil tersebut agak minggir. 

Hanya Ilustrasi

Slamet…slamettt……. 

Mobil mungil sebenarnya kurang afdol untuk perjalanan jalur propinsi. Bodi ringan mudah terhempas jalanan bergelombang/rusak serta hempasan angin dari kendaraan besar. Karena itu ngeri untuk melaju kencang… Masalah yang lain, mobil demikian ini lebih tidak terpantau pengendara lain… Apalagi pada jalur kendaraan besar…. 

7 thoughts on “Bahayanya mobil mungil untuk jalur lintas kota”

  1. Saya pikir city car 1000 – 1200 cc masih bisa jalan lintas (antar) kota kok, selama beban dalam batas wajar dan medannya bukan tanjakan (curam), mereka pada umumnya masih bisa lari 80-90 km/jam, dan itu cukup memadai pada jalur2 tsb (nggak akan menghambat truk atau kendaraan lainnya dibelakang).

    Sepertinya masalah pd mobil tsb adalah soal etika berkendara, dimana kalau sadar kondisi nggak bisa “lari”, lebih baik minggir kasih jalan utk kendaraan dibelakang yg lebih cepat.

    Saya juga sering kok geregetan dg tipikal driver yg “slow” tapi nguasain jalan, padahal mobil mereka masih umur dibawah setahun, saat didahului baru kelihatan kalo memang masalah ada pada “driver”nya

  2. Buat luar kota, bahkan luar pulau aman-aman saja kalau menurut saya mah… Paling nggak kalau dibandingkan dengan menggunakan motor. Mobil kecil bikin jengkelnya seringnya malah bukan dijalan raya. Tapi di parkiran mall… ? Dari jauh sudah senang hati ada parkiran yang kosong… ? Tapi begitu mau dimasukin jebulnya sudah ada yang ngisi… ????

  3. bahaya nyusul mobil gede ya begitu 🙁 ditambah dengan mobil kecil di depannya
    saya sendiri ga pernah betah berada di belakang mobil gede,
    ga mau tepat berada di belakang mobil gede macam truk, penglihaatan tertutup banyak
    biasanya saya selalu kasih 1 mobil ukuran biasa lain buat berada di antara saya dan truk, dan biasanya saya juga selalu bisa menyalip mekrea berdua sekaligus 😀

  4. Bukan soal mobil kecil atau besarnya rasanya, kalau kita biasa sehari-hari di jalur dalkot memang butuh pembiasaan ketika di jalur lurkot. Mendahului kendaraan besar seperti truck dan bus memang harus sabar dan ekstra hati2….terutama karena banyak jalan di Indonesia secara infrastruktur tidak di rancang untuk kendaraan besar sebenarnya. Coba lihat truck dan bus di Indonesia tidak pernah benar2 berjalan di pinggir soarnya ngeri ambles akhirnya jalur yang pas2an jadi habis dipakai semua dan kendaraan lain harus antri sampai ada kesempatan buat nyalip.

Leave a Reply

Your email address will not be published.