125

All posts tagged 125


Beberapa hari lalu seorang rekan kerja pengguna vario mengeluhkan motornya yang bergetar, dan kurang responsif di kemacetan. Kadang juga timbul gejala tersendat sendat saat merambat dikemacetan. SF saat itu menebak jeroan CVT yang jadi masalahnya. 

Benar juga, tadi pagi diparkiran rekan SF tersebut langsung menunjukkan kwitansi servis varionya yang dia simpan di bagasi motornya…

Total 570.000 . Namun saat dijajal gejala tersendat / tidak stabil masih terasa saat merambat. 

Balik ke bengkel , dan ganti sekalian roller dan mangkuknya seharga 180rban (ga ada dalam kwitansi). Penyakit variopun hilang dan lajunya seperti motor baru lagi . 


Lumayan juga jajannya untuk motor yang belum genap melaju 150.000 km… jalanan Jakarta yang kejam plus kekejaman tangan pengendara disinyalir penyumbang terbesar penurunan fungsi CVT kendaraaan.

Untung Nmax SF yang berumur 22.000 km belum pernah ada masalah. Padahal servis saja jarang . terakhir servis KM 10000, selanjutnya ga pernah servis. Tapi rutin ganti oli tiap 2000km. Dan sering sekali buat boncengan 4 :mrgreen:

Makin ruwet saja permasalahan tilang ini bro… setelah kemaren blog ini memberitakan ninja 250 ditilang gara-gara spakbor ori yang dianggap terlalu pendek (selengkapnya baca disini ), semalem ada yang isi dikolom komentar.

image

Continue Reading

image

Sewaktu Per shogun dan Nmax SF bandingkan dengan cara menekan per dengan telapak tangan, terasa sekali per shogun lebih empuk. Namun bagaimana kesannya saat terpasang pada Nmax? Continue Reading

Berikut 3 kejadian berturut turut yang kurang mengenakkan bagi buyer motor CBU honda :
1. CBR 150 cbu jiper karena kehadiran R15 yang diproduksi lokal dengan lumayan lebih murah… Buyer CBR 150 CBU meradang setelah CBR 150 CBU diskon beberapa juta rupiah…. lalu dimunculkannya CBR 150 lokal dengan performa lebih mumpungi. Bisa dibayangkan opo ora nyesek yang terlanjur beli CBR 150 CBU dengan harga mahal…

image

Continue Reading

white PCX

Beberapa kali SF tergiur ingin memiliki PCX… Saat hasrat memuncak ,seketika itu juga hasrat langsung dikubur hidup-hidup. Seperti layaknya kita “tergiur ” cewek cakep, eh ternyata dia lelaki cantik alias kamuflase   😆

Lah gimana lagi …. Niat beli baru bisa inden 3-6 bulan . Apalagi SF ber KTP Surabaya yang tinggal di Jakarta… Lamanya Inden di Surabaya ditambah waktu tunggu surat-surat komplit , Plus resiko pengiriman ke Jakarta. Kalau ga mau inden bisa sih samperin diler CBU tapi kudu sediakan budget hampir 10jt lebih mahal!!! SF sih ogahhh… ga worthed motor 150cc dihargai 44jt!

PCX new

Beli bekas makin susah lagi… jarang yang jual dan harganya ga masuk akal! beberapa orang jual PCX 150 bekas lebih tinggi dibanding harga beli dulu. (kalau ga salah dulu sekitar 32 sekian juta). Ada sih yang jual dibawah 30jt tapi itu versi 125cc keluaran dibawah 2012, sebuah pilihan yang nanggung. Penjual PCX bekas bener bener memanfaatkan waktu inden  motor baru yang luamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……

PCX bekas

Pilihan konsumen yang kebelet jadinya cuma 2 : beli motor baru lewat CBU atau beli motor bekas seharga motor baru /bahkan lebih mahal(ditambah keribetan Balik Nama).

Gimana sih AHM motor laku gini tapi distribusinya tersendat….. !

jangan-jangan AHM sengaja bikin situasi ini untuk mempertahankan kesan eksklusif …., biar ga dirasani operpress – hukum supply N demand = permintaan banyak, supply sedikit, harga dimahalin…

SF sendiri jadi ga berambisi lagi punya motor ini… (Mutung nih… Mutung ! ) :mrgreen:
kecuali nih… ada yang jual ke SF harga supermurah he3….

Modif ini pernah SF terapkan pada GL max tunggangan SF sewaktu SMA. Velg depan memakai produk aftermarket D.I.D. ukuran 17″ sedang yang belakang memakai Velg honda Tiger 18″ lengkap dengan bannya. (Fyi Velg ori GL max 125 ukuran 18″ depan belakang). Efek ganti velg depan dengan ukuran lebih kecil seperti menaikkan shock depan, jadinya GC sedikit lebih rendah. Enaknya lagi, lebih kecilnya lingkar roda depan bikin handling jadi jauh enteng dan lincah dibanding standarnya. Efek ga enaknya sih roda depan terasa lebih sensitif terhadap lubang, tapi bisa disiasati dengan penggantian ban setingkat lebih lebar dibanding orisinalnya.

image

Satu-satunya foto kenangan dengan GL max yang tersisa

Sedangkan upgrade velg belakang dengan diameter sama namun velg dan roda lebih lebar bikin stabil di jalan lurus. Jadi modif diatas cukup memberi keuntungan handling dan stabilitas meningkat. Tapi kalau dipraktekkan untuk velg CW bikin tongpes… lah kudu beli satu set, belum lagi jika ingin gambotin sektor belakang… kudu beli 2 set velg CW… :mrgreen: Makanya buat tiger SF cukup pakai 17″ depan -belakang tapi tapak lebar. Lagian velg lebar 18″ buat tiger emang ga ada yang jual

image

Apes.. Sabtu-sabtu harusnya bisa ngumpul sama keluarga malah ada surat tugas dari kantor. Kebetulan teman kantor yang baru beli vartech125 juga dapat penugasan yang sama, jadinya kesempatan bagi SF nyoba motornya. Kesan pertama nyemplak motor ini …. ngangkang!!! Jika dalam posisi sedikit mundur (kebiasaan SF naik matic posisi duduk agak mundur) kaki SF dengan tinggi 174 cm ga menapak sempurna.. motornya orang eropa kali ya :mrgreen: . Sayangnya jok yang lega ga diimbangi dengan bahan yang nyaman, Jok terasa sangat keras!! Untung SF dah biasa naik Ninja.
seperti blogger lain SF takjub sama bunyi stater yang ualusss.. sampe SF restart ulang sambil membungkukkan badan untuk mendengar jelas suara stater. Senyapp…. 🙂  Selanjutnya gas dipelintir dan suara khas motor Eropa yang kata warung DoHC rata2 ngorok terdengar seiring bukaan gas. Tapi suara ini sangat-sangat ga mengganggu (Ga usah digembar gembor lagi , biasa sajahhh… :mrgreen: ). Mampir dulu di depan PGC, janjian dengan rekan lain penunggang mio yang ga hapal rute.

1vartech dengan total bobot penumpang hampir 160kg, 1 mio dengan bobot penumbang ga sampe 60 kg lanjut melaju ke area kemanggisan.. jalanan cukup lenggang ga terasa kecepatan sudah 80kpj, ga ada tanda motor teriak dan getaran mesin terasa halus. Sedangkan si mio terdengar suara mesinnya sedikit teriak. Akselerasi memang ga terlalu istimewa namun tenaga pada kecepatan 80kpj terasa masih ngisi… SF coba mainkan gas motor masih berespon bagus pada kecepatan itu. Shockbreaker cukup lumayan meredam jalan bumpy disepanjang Gatsu… hati2 banyak pasir bekas perbaikan jalan yang ga dibersihkan penggarapnya 👿
Tiba-tiba ada moment mendebarkan… mobil sedan tua didepan tanpa lampu rem tiba2 berhenti mendadak. SF yang pas dibelakangnya ga sempet ngerem langsung saja bermanuver kekanan… ngepress baget…!!! Ujung sepatu boncenger sampai nyenggol ujung bemper! Ngeri pokoknya…. Rekan SF pengendara mio dan beberapa pengendara motor dibelakang SF juga nampaknya kaget dengan mobil sedan yang kemungkinan mogok ini. Pengakuan rekan penunggang mio dia sampai ngepot-ngepot ga karuan dan berhenti pas mepet dibelakang bemper mobil… begitu pula pengendara lain… untung ga ada yang celaka. Sesampai tempat tugas motor segera diparkir , hati2 boncenger belakang yang memakai celana panjang agak kendor, rawan nyantol di standar tengah saat turun dari motor. Jok dibuka dengan tombol disamping kunci kontak, helm flipup milik SF yang termasuk gambot masuk sempurna dalam bagasi tengah.
image

Pas pulang, kembali SF didepan… nah perjalanan kali ini sedikit berbeda dibanding saat berangkat. Kondisi lalin lebih padat. Disini baru terasa…. vartech sangat tidak nyaman buat boncengan dikemacetan. Titik berat yang tinggi dibanding matic lain bikin motor melawan saat menikung patah dan selip-selip. Bagi rider mungil dan rider cewek pada umumnya hati-hati deh.. sangat menyulitkan mengambil beberapa manuver yang memerlukan tumpuan kaki. Motor juga terasa kurang stabil untuk kecepatan rendah..si ownernya juga mengamini. Apalagi buat boncengan katanya… “puegel banget jika riding dibawah 40 kpj, motor seakan minta diseimbangkan terus. Berbeda jika dipakai sendiri, lebih nurut” soal konsumsi bahan bakar cukup ngirit kok.Saat berangkat kami mengisi shell super rp 20.000 (petunjuk bensin 2 bar menjadi 6bar)  saat sampai rumah petunjuk bensin menunjukan berkurang 2 bar. Menurut dia untuk kalau buat boncengan masih bisa 1:40 . Masuk lingkungan kampung SF ada sedikit hal yang bikin ga nyaman… motor yang nampaknya tinggi ini ternyata gasruk saat melewati polisi tidur. Menurut empunya memang ada bagian bodi sedikit menonjol dibawah namun agak lentur, selain sebagai peringatan terhadap polisi tidur juga untuk melindungi agar polisi tidur tidak langsung menggesek rangka atau mesin.
image

Overall Motor ini lumayan nyaman buat rider bongsor, nyaman untuk kecepatan menengah -atas,cukup irit dan bertenaga. Namun perlu pertimbangkan ulang jika rider kurang tinggi serta rute selalu macet.