aftersales

All posts tagged aftersales

image

Pic:tokekmeong.wordpress.com

Mungkin puyeng juga ya jadi pihak SIS (Suzuki Indomobil Sales)… segala upaya dikerahkan tetep gagal juga memperbaiki performa penjualan motornya… mulai isu internal diskriminasi lini roda duanya dibanding roda empat, hingga masalah aftersales kurang bagus menjadi penghalangnya.. aftersales yang SF maksud yakni penyebaran parts kurang merata, harga parts mahal, hingga terjunnya harga jual kembali motor suzuki bikin konsumen agak gamang beli motor suzuki. Continue Reading

image

Source : http://1.bp.blogspot.com

Setelah membahas soal alasan rekan SF memilih mobilio, pada diskusi yang terjadi beberapa hari lalu ikut nimbrung juga rekan SF … sebut saja Budi yang ternyata pemilik chevrolet Spin LTZ 1500cc. Ada kesamaan juga dengan bro Joni… sebelumnya Budi adalah pengguna Avanza (sering pinjem punya kakaknya).

image

Setelah browsing di internet serta bergabung pada forum chevrolet. Budi memutuskan untuk meminang Chevi Spin. Berikut alasannya…

Continue Reading

Alasan SF mengandalkan Tiger lawas untuk tunggangan sehari-hari tentu bukan alasan emosional semata… benar memang nilai historis tiger Silver keluaran 2004 milik SF tak ternilai harganya, namun bukan berarti haram untuk ditukar 🙂 sempat ngobrol dengan pengguna pulsar 180 saat beberapa tahun lalu saat komunitas tiger tempat SF bernaung kopdar bareng pengguna pulsar Surabaya dengan bangganya user pulsar 180 mengelu-elukan kehebatan motor mereka. Tetap SF ga kepikir sama sekali melego tiger kesayangan. Saat baca di blog-blog bagaimana pengguna pulsar membanggakan betapa valuablenya kendaraan mereka tetap SF tak berniat mencobanya… mengapa?
Pertimbangan membeli motor bagi SF cukup komplek dan sebagian besar kekomplekan itu dijamin pabrikan besar/ Jepun… Sebut saja jaminan aftersales, tersebarnya jaringan servis resmi, going concern perusahaan lebih terjamin, serta ga kalah pentingnya harga jual motor juga relatif lebih stabil. Masa beli motor kok mikir dijual lagi….? eh bukan gitu bro… pada suatu titik katakanlah usia semakin tua, prioritas pilihan roda dua akan berbeda. bukan lagi gaya-gayaan, kebut-kebutan namun lebih ke kenyamanan dan fungsional (ngomongin kendaraan operasional loh ya, bukan kendaraan hobi), usia pekerja “senior” tentunya ga ingin kendaraan tua yang banyak masalah. makanya perlu refreshment kendaraan… saat itulah kendaraan lama dijual ganti baru (ada juga yang nyimpen motor lama untuk koleksi) . Pulsar pada awal kemunculannya SF anggap belum cukup kuat menggoyahkan iman SF karena alasan emosional (SF kerja 3 tahun di perusahaan India terbesar didunia), serta alasan going concern motor, mulai terbukti sekarang cek saja artikelnya mas bons http://2brk.wordpress.com/2013/03/19/adu-cepat-p-220-vs-sorpio-3-ternyata-di-lapangan-p-220-jauh-lebih-cepat/

statement yang menarik dari profesor motuba ini :

Ya, banyak faktor disinyalir yang menjadi sebab keterpurukan harga Rondo P 220 ini. Motornya sih memang jozz gan, manteb, irit enak dikendarai dan cepat larinya serta awet, namun banyak sisi yang membuat konsumen tidak puas seperti layanan bengkel yang susah diakses, inden part yang panjang, kelangkaan part, dan harga naik part, serta kebijakan internal Bajaj yang kadang membuat ketar-ketir para empunya P 220.

Sesuatu yang kebeli kenapa harus disesali, dijalani sajah… selama motor masih enak dikendarai dan ga bermasalah ya pake saja terus. jika didera rasa kuatir berlebihan misalkan ragu aftersalesnya bakal dianaktirikan bila bergabung dengan KMI, kuatir harga parts melambung jika dipegang KMI,kuatir motor dijual lagi ga laku atau makin ngedrop harganya, kuatir belasan tahun lagi ga ada partsnya… ya monggo dilego sekarang daripada berkendara ga tenang.
wpid-1360896714-picsay.jpg

SF pemakai tiger ga nyesel miara motor ini. Meski dikata SOHC boros, lemot, bermasalah, rantai kemrosak,mesin jadul,tangki bocor,bodi miring,selip kopling,kamrat kendor tetep saja dipiara lah wong tenang/ ga kuatir karena masih gampang cari partsnya di toko sebelah juga ada 🙂 klo sudah mulai langka partsnya ya disimpen buat kenang-kenangan, atau kalau terpaksa banget ya dijual nantinya.
mungkin sama dengan perasaan pengguna pulsar, bedanya tiger dengan pulsar ya beda kelemahannya …. 🙂 selama masih bisa ditangani ya ditangani… toh Bajaj roda tiga puluhan tahun usianya juga masih beredar. masalah parts ga tersedia? apa sih yang ga bisa diakali orang Indonesia ? 🙂
menurut SF ya daripada dijual sayang dan ga cukup beli motor baru ya dipakai dulu… kecuali ya yang SF sebut diatas… perasaan ga tenang 🙂 toh kekuatiran belum terbukti

image

Jaringan distribusi yang lebih luas serta image kuat kawasaki bisa bikin P200NS susah diharapkan dijual dengan harga under price seperti strategi selama ini yang dijalankan bajaj. Paling tidak harga bakal bermain dikisaran vixion/cb150R hingga honda tiger. Pantes juga sih P200NS diposisikan bukan produk murahan… desainnya okeh… powernya juga cukup menakutkan bahkan bikin keder motor kelas 200-225 cc. Apalagi sekarang dijual dibawah brand kawasaki… cukup worthed untuk dipinang. Dengan satu catatan affersalesnya harus jauh meningkat dibanding masih dipegang bajaj dulu.

Makin serem saja jajaran sport kawasaki…. 🙂

image

Sebenernya ga kaget juga sih baca berita ini dari motorplus-online, untuk permulaan  hanya dipasarkan di Jabotabek dan Jabar saja! Sudah lebih dari 2 tahun SF miara matic suzuki dan kenapa SF maklum keputusan Suzuki ini. Tak lain karena lemahnya jaringan servis suzuki, lah wong saat spin jadi skutik terlarisnya suzuki saja SF kesulitan cari sukucadang apalagi nex injeksi ya (dijakarta lohhh!) ? Direktur marketing&sales suzuki pun mengakui Jabotabek dan Jabar paling kuat jaringan distribusinya meskipun nantinya Nex bakal bertahap didistribusikan keseluruh Indonesia. Yang bikin heran Shogun FI kan sudah lama dijual di Indonesia tentunya diagnostic tools injeksi kan  sudah lama siap di dealer resmi? Apa dulunya shogun FI cuma latah dan main-main saja ya. PR suzuki masih terlalu banyak untuk bersaing dengan runner up raksasa otomotif Indonesia. Antara lain:  distribusi suku cadang, harga sukucadang mahal, terbatasnya jumlah dealer resmi dan differensiasi produk yang sempit, belum lagi momok motor suzuki yang sudah melekat dibenak masyarakat : harga jual jatuh :mrgreen: . So Its time to move on! Pertahankan keberanianmu ! Pioner motor 250cc jauh sebelum ninja 250, pioner bebek terkencang, satu2nya yang jual skutik ban 16″, dan selanjutnya juga pioner dikelas naked 250 twin cylinder!!! Ehh.. ya.. update untuk inazuma : bakal molor dipasarkan disini bahkan kemungkinan besar ga siap dilaunch saat PRJ karena jatah distribusi dari China terbatas 🙁
Dengan konsen jualan, aftersales, serta continuous improvement tentunya ga mustahil bakal merangsek ke posisi atas. Cuma denger dari bisikan komentator kok katanya intern suzuki yang bikin suzuki ga bisa berkembang??? Mbohh… kahhh….. bener nggaknya monggo di comment

Sumber gambar dari TMCblog.com

image

Beberapa hari lalu pas nyuci maticnya bundafaiz ngobrol lama dengan rider pengguna skywave. Awalnya ngobrol soal suka dukanya skutik suzuki. Trus doi nanya mengenai motor yang dimiliki sF lainnya. Saat nyebut Tiger doi langsung bertanya… ga pengen nyoba pulsar bro’? SF pun cerita tiger dimiliki sejak lama thn 2005 saat pulsar belum masuk sini dan saat ini ga mungkin gantiin tiger dengan motor lain karena historical valuenya 🙂 
Rider ini trus ngaku kalau dia pengguna setia Pulsar . Nah…giliran SF yang  mengorek kesannya menggunakan Pulsar :P. Dia sudah
4 tahun menunggang PiBo, selama itu ga ada permasalahan berarti meski sudah turing beberapa kali antara lain ke Bengkulu dan Jogja, kliatannya puas banget pulsarian ini menunggang pulsar. Mesinnya juga masih awet tanpa kendala berarti. Selain mesinnya .. dua hal yang dapat diandalkan  pada Pulsar adalah  konsumsi bensinnya yang super irit dan kekuatan rangkanya! Pokoknya beda dibanding pabrikan Jepang, menurutnya jauh lebih kokoh motor bikinan India ini ( ini yang bikin berat kali ya ).
Masalah sparepart rider ini juga mengakui itu hal terlemah yang dimiliki bajaj.  Harapannya (yang juga diamini SF ) Bajaj segera bangun pabrik disini sehingga permasalahan ketersediaan sparepart dapat diatasi. Tips yang diberikan rider ini jika cari suatu parts di satu dealer ga ada jangan terpaku pada dealer itu, cari di dealer lain yang terdekat. jika beruntung bakal dapat kok barangnya.  Tapi kalau apes ya mau ga mau inden. Sayang sebelum SF mengorek keterangan lebih lanjut , rider ini pamit duluan karena skywavenya selesai dicuci….
motor dengan value of money bagus jika didukung jaringan distribusi memadai produsen Jepang pun bisa dibuat bertekuk lutut (segmen sport)

image

Mungkin sudah beberapa kali SF sentil di beberapa artikel kenapa bajaj dengan varian pulsarnya susah mengalahkan pabrikan motor Jepang, hal ini tak lepas dari jaringan aftersalesnya yang masih lemah. Namun disamping itu adalagi sebenarnya yang bikin Bajaj susah diterima di Indonesia. Prinsip!… yup…. Bajaj maunya cuma bikin motor batangan alias sport. Tipenya pun sama semua alias monoton sport naked. Mulai P135 hingga 220, bahkan yang terbaru P200NS. Pasarnya sempit banget loh. Jika dilihat dari omzetnya sport di Indonesia hanya menguasai 13% market share. Total omzet itu diperebutkan oleh Yamaha 47,09% , Honda 33,50% dan kawasaki 18,18% dan sport lainnya 1.23% (sumber edorusyanto), sayang pada data ini ga diikutsertakan penjualan bajaj karena ga tergabung AISI. FYI sebagai gambaran saja, penjualan seluruh varian sport bajaj di 2011 sedikit lebih banyak dari penjualan sport yang paling ga lakunya honda alias tiger. Nah apa jadinya jika Pulsar tetep ngeyel jualan sport thok? Untungnya dikit! Meski nantinya bakal bangun pabrik disini tetep saja berat memporakporandakan vixion dkk.

Musuh Bajaj bukanlah Honda atau Yamaha, namun dirinya sendiri! Jualan dikit, untung dikit, akibatnya bagian keuntungan untuk peningkatan layanan purnajual juga sedikit.

Culture motor di India dan Indonesia ga bisa disamakan. Disono sport yang paling laku, nah disini sport paling ga laku. Apalagi  pabrikan Jepang memposisikan sport sebagai flagship mereka, ga bakal diam melihat Bajaj merusak pasar. Strategi promosi bajaj yang menggiring pengguna bebek atau skutik agar beralih ke sport juga tampaknya percuma. Banyak kelebihan bebek/skutik dibanding sport. Jika terus ngeyel cuma mau bikin sport ya konsekwensi ga bisa berkembang pesat.

image

Sedikit analisa dan diskusi dengan seorang rekan yang lama berkecimpung di bidang yang sangat erat berhubungan dengan MNC (multy National Company) sebut saja sahabat SF ini JS. Kami membahas kenapa harga motor Jepang jauh lebih mahal dibanding Motor India. Kali ini SF memberi contoh Tiger versus Pulsar 220. Pulsar jelas lebih canggih, powerfull,irit, fitur lebih lengkap kenapa bisa dijual 6 juta lebih murah? Sebelum JS sempat jawab segera ane tambahin, apakah karena Royalti?
Menurut JS pada perusahan MNC , royalti sangat wajar dan normal. Pada MNC yang besar royalti bisa mencapai 30 % dari HPP, bisa bulat-bulat diakui sebagai royalti atau bisa juga disamarkan biayanya (misal biaya kantor pusat) yang endingnya sama saja duitnya lari ke Kantor Pusat, mungkin untuk produk massal royalti semakin banyak berkurang. Karena kita membahas motor yang diproduksi total di Indonesia, mungkin kita bisa sedikit  mengabaikan kenaikan yen sehingga bikin import membengkak. Diskusi mengerucut, mahalnya harga motor Jepang di Indonesia kemungkinan dipicu oleh pemanfaatan tehnologi, nah disini ada juga yang namanya patent. Patent lumayan juga nambah biaya apalagi motor yang kaya fitur dan canggih makin banyak biaya patentnya. Penyebab lain lagi yang juga signifikan yakni faktor perusahaan itu sendiri. Untuk 2 ini (Royalti dan Patent) bisa bikin kenaikan HPP 15- 25 %. Perusahaan sudah terlanjur gemuk, struktur organisasi sudah besar, level manajerialnya sudah banyak, karyawannya juga. Perusahaan mapan yang sudah punya “nama” tentu fasilitasnya dan gaji beda dengan perusaahan baru. Jadi  biaya operasionalnya tentu juga membengkak. Belum lagi yang namanya aftersales, pabrikan besar tentu sangat concern masalah ini, bagian dari margin digunakan untuk mensupport servis centre dan distribusi sparepart seluruh Indonesia. Biaya promosi juga ga bisa disepelekan loh, baik yang diselenggarakan AHM pusat maupun promosi masing-masing dealer.
image
Jadi kenapa Pulsar atau hyosung bisa murah??? Mereka hanya memasarkan saja ga harus bayar royalti besar, patent, dan menanggung lebih sedikit biaya untuk mensupport aftersales. Tentunya ini tantangan bagi bajaj nantinya, SF sangat amat yakin jika nantinya bikin pabrik di Indonesia harganya masih bisa dibawah harga motor Jepang. SF sudah hafal benar bagaimana cara kerja Perusahaan India, maklum sudah 4 tahun bekerja di Perusahaan India, dan 3 tahun diantaranya bekerja pada pabrik baja terbesar didunia. Intinya satu : EFISIENSI!!!
Harga jual boleh murah tapi jangan sampai memperbudak Tenaga Kerja Indonesia ya…. !

image

image

Itulah kondisi real pengguna motor mayoritas kita. Keputusan beli motor didasarkan kemampuan aftersalesnya dulu. Bagaimana jaminan servis, suku cadang dan terutama harga jual kembali. Urusan teknis belakangan…. 🙂  Tak peduli setinggi apapun value of money sebuah motor kalau merknya bukan Honda atau Yamaha ya ga dilirik. Jangan samakan dengan para pengunjung blog ya.. saya yakin bisa taulah mana-mana motor dengan value of money paling bagus. Kaum biker enthusiast ga semuanya terbuka dengan semua merk loh… coba baca komen warung yang sering kebakaran. Sebagus apapun motor lawannya ya pasti dicari cacatnya. :mrgreen:
Kembali ke topik. Mari kita berkaca pada fakta…. bandingkan pulsar 200 dtsi (lama) dan tiger. Power menang bajaj, irit menang bajaj, technologi menang bajaj, harganya juga lebih murah bajaj. Tapi motor apa yang lebih laku? Contoh lain P180 lawan NMP atau byson atau vixion!?
Terutama untuk motor harian, masyarakat pada umumnya lebih percaya pada merk Jepang. Sudah mendarah daging, nyoba merk baru saja enggan. (Jangankan bajaj, merk setenar piaggio pun susah jualan disini, kenapa ? Aftersales bro! Rasa kuatir memang manusiawi. Saat beli motor buat harian,( apalagi bakal jadi motor satu-satunya dirumah) pasti mikir servisnya yang deket rumah mana ya, sparepartnya gampang dicari gak ya, kalau ada kebutuhan mendesak apa motor masih tinggi harga jualnya? Konsumen seperti ini ga mau ambil resiko. Beli motor kenceng, canggih,irit, murah tapi kalo rusak nunggu berhari-hari ketersediaan partsnya, mau kerja/sekolah naik apa?
image
Rider yang ga suka ganti-ganti motor mikirnya malah juauhhh kedepan, extreemnya gini… motorku 10 tahun kedepan nasibnya gimana ya? 😆
Sebagai pengguna honda Tiger, SF sangat menyadari keuntungan beli motor ini tahun 2004 silam, sudah 7 tahun berjalan kalau ada kerusakan parah (misal sampai bongkar mesin) tinggal ke toko sebelah rumah banyak yang jual sparepartsnya, mulai seher (kw sampe ori), sampai kamrat ada. Lah motor Non Jepang gimana, cari parts motor di bengkel resmi saja kadang harus inden, apalagi dibengkel umum.
Satu hal lagi yang hampir terlupa. Ketersediaan parts aftermarket terutama variasi motor. Tentunya jangan harap mudah menemukan variasi motor non Jepang. Kendala juga bagi penghoby modif. (Tapi kalau semacam Pulsar 200 NS ga perlu modif udah caem 🙂  )

image
Kekuatan pabrikan Jepang terutama Honda dan Yamaha susah dilawan pabrikan lainnya. Apalagi jika pabrikan lainnya segmented, bajaj misalnya spesialis sport, piaggio spesialis skutik. Sudah pasarnya terbatas, keuntungan mepet, pastinya makin sedikit bagian dari keuntungan yang digunakan untuk membiayai peningkatan jaringan dan layanan purnajual. Silahkan share di kolom komentar jika ada uneg-uneg 🙂

image

P220NS


Ternyata BAI masih ngebet bangun pabrik di Indonesia. Setelah tahun kemarin ditolak prinsipal India karena ga bisa menembus penjualan 3 rb unit perbulan. Tampaknya ditahun 2012 ini BAI cukup optimis bisa memenuhi syarat dari pusat. Target penjualan 2012 pun lantas dinaikkan 50% menjadi 36rb/ unit alias 3000 unit/bulan, jika tercapai tentunya kabar baik bagi biker enthusiast di Indonesia. BAI kemungkinan bakal disetujui bangun pabrik di Indonesia! Sekedar informasi , berdasarkan data yang diungkapkan BAI kepada motorplus, pada tahun 2011 penjualan bajaj sejumlah 23 rb didominasi oleh pulsar 135 sebesar 45%, P180 30% , dan sisanya P220 25% . Menurut SF optimisme bajaj menaikkan targetnya hingga 50 % ini dikarenakan P200NS yang direncanakan hadir di Indonesia, SF mencium adanya strategi berani dari BAI untuk menjual P200NS nantinya dengan harga menggiurkan! Siap-siap saja…
Efeknya nanti jika bajaj bangun pabrik di Indonesia, bukan hanya keuntungan pengguna bajaj saja (aftersales terutama sparepart terjamin). Pabrikan Jepang tentunya ga bisa lagi menjual motor sport pas-pasan secara overprice, malu euiii…