beban berat

All posts tagged beban berat

Kehadiran Nmax dikeluarga SF menjadi berkah tersendiri.   Anak-anak yang dulunya jika diajak keluar cari makan pengennya naik mobil,  eh sekarang minta naik Nmax saja.
Semua motor SF pernah merasakan disiksa ngangkut 4 penumpang…  Dari kesemuanya itu cuma Nmax yang SF rasa paling nyaman.  Loh kok…?
Handlingnya tetap stabil,  performa ga kedodoran,  dan jok lebarnya nyaman bagi boncenger.

image

Bisa dibayangkan jika suzuki spin dinaiki orang segini

Continue Reading

Sebut saja mobilio, ertiga, celerio, Jazz dan produsen Lokal seperti Tata … di India sono mobil-mobil tersebut keluar versi dieselnya dan versi diesel itulah yang menjadi favorit konsumen India.

The rise in diesel price this year — it has been revised 11 times since January — has seen a revival in petrol car sales, but at 55% of total sales, the share of diesel cars is still dominant.

dikutip dari : http:/www.hindustantimes.com/htauto-topstories/why-diesel-cars-score-in-india/article1-1164105.aspx

 

Kalau di India Sono Alasan larisnya mobil diesel adalah konsumsi bahan bakarnya sangat irit. Bayangkan saja honda jazz versi diesel bisa irit sampai 1:27 kmpl, mobilio dan ertiga bisa diatas 1:20kmpl. Continue Reading

image

Ilustrasi gambar dari pertamax7

Pulang kerja beberapa hari lalu SF menyaksikan pemandangan yang kurang mengenakkan di BKT . Seorang bapak tua mendorong motor matic karena bocor ban, dibelakangnya nampak istrinya berjalan kaki mengikuti dengan masih menggunakan helm. Untung beberapa meter didepan ada tukang tambal ban (tapi ga tau juga sudah berapa km si orang tua ini dorong motoenya) Trus terang saja SF saat itu SF ikut jengkel dibuatnya… penyebab bocor ban sepertinya ada pada velg jari-jari 17″ dan ban yang super tipis. Mungkin tidak kuat menahan beban dipakai boncengan sehingga bocorlah ban belakang motor matic yang dipenuhi berbagai pernak-pernik ngejreng tersebut. Kalau melihat motornya yang modif nyeleneh,  kemungkinan besar si ortu ini meminjam motor yang dia belikan buat anaknya…

Beberapa kali SF menyaksikan pemandangan bocah abg mendorong motor cacingan karena bocor… tapi kalau ini menimpa orang tuanya.. SF yakin sibocah bakal kecipratan dosanya. Bagi orang tua sebaiknya memberi wejangan ke anaknya, arahkan cara berkendara dan menyalurkan kreasi pada motornya dengan benar.
Mungkin begini alasan si anak yang tukang ngeles : ban cacing  biar enteng dorong motor pas ban bocor :mrgreen:  .. si ortu jangan mau kalah… jual motornya trus ganti pake sepeda pancal biar lebih enteng dorongnya 🙂

image

Kebetulan kemaren ada tugas luar kantor sekaligus bawa berkas bejibun 2 tas ransel penuh. Berhubung SF bawa Ninja yang susah buat barang banyak akhirnya pakai motor rekan,  yamaha mio lawas. Tanpa babibu kunci motor yang kmnya baru 16 rb ini langsung ane rebut karena pengen banget membandingkan motor ini dibanding suzuki spin milik Bunda serta beat milik saudara yang beberapa waktu lalu pernah SF jajal. Pertama nyemplak ga mau distater. Jiah aki sudah tewas… padahal motor terhitung belum tua banget, terpaksa di standar tengah dan pake tendangan maut 😆 saat nyemplak pertama kali terasa motor ini begitu imut masih lebih lega naik spin. Jarak setang ke lutut cukup dekat tapi ga mengganggu manuver tapi dan masih mending dibanding beat yang lebih sempit lagi area depannya. (Eh ya SF dan bunda+ faiz pernah nyoba muter-muter kota pake honda beat saat mudik ke Sumenep). Seat height saat boncengan dan bawa barang full terasa lebih rendah dibanding spin dan beat.
Sejenak kemudian berangkatlah kita dari semper ke arah MOI dengan bonceng berdua, SF sendiri berat 90 kg an dan rekan 60 kgan. Barang bawaan sekitar 10 kg dibagi dalam dua tas ransel berisi berkas full. Satu tas ransel saya tempatkan di deck (nah kan ada gunanya deck depan rata he3… ). Menurut SF luas deck jauh lebih sempit dibanding spin namun sedikit diatas beat CMIIW. Begitu di gas motor terasa responsif melaju, ga kaya spin yang harus ngeden dulu, tapi perasaan akselerasi masih mending beat. Selip kanan kiri menembus macet masih terasa nyaman hampir sama seperti beat, namun masih unggul spin karena lebih leluasa sektor kemudinya. Satu hal yang bikin ga nyaman bagi pengemudi jika buat boncengan, saat macet betis pengemudi sering kepentok footstep boncenger ketika menurunkan kaki dan jalan perlahan. Hal yang ga terjadi pada spin atau beat.
image
Nah.,, selesai acara di MOI kami berdua langsung memutuskan balik ke kantor, begitu keluar parkiran eh diluaran mendung dan sedikit gerimis mulai turun. Ga dinyana si empunya motor malah ngajak ngebut agar berkas yang kami bawa ga kebasahan. Sip… dah…. Start depan MOI langsung gas pol, akselerasi bawah lumayan, akselerasi tengah sedikit kehilangan tenaga namun putaran atas tenaga dorong muncul lagi. Bener juga kata media dan rekan lain putaran bawah hingga menengah lebih bengis beat, namun beat agak kedodoran putaran atasnya. Jika dibanding spin gimana? Nah spin yang ccnya 125 ini punya kelebihan putaran menengah dan atas yang lebih baik meski untuk membawa beban berat. Kemampuan melibas jalan bergelombang cukup baik hampir sama seperti beat. Yang agak parah malah suzuki spin yang cukup mengkhawatirkan melibas jalanan ga rata, goncangan cukup terasa dan motor terasa mantul dan kurang stabil. Nah untuk pengereman mio cukup bertaji. Jauh lebih pakem dibanding spin, dan sedikit lebih baik dibanding beat. Sedangkan top speed gimana? SF masih berperikemotoran ga tega nyiksa motor dengan bobot full :mrgreen: Ga ada tempatnya didaerah ini untuk menguji top speed. Tapi untuk meraih 70 kpj lumayan cepet kok- Lagian top speed bukan hal yang signifikan untuk sebuah motor matic (kecuali buat alay). Pas nyampai kantor hujan deres langsung menyambus. Sesi foto-foto pun terlewati :mrgreen:
Pengujian diatas dilakukan pada waktu berbeda dan kondisi motor yang berbeda pula. IMHO

image

Akhirnya baru sempet ngicipi Ninja 250 buat turing Sabtu kemaren. Meskipun cuma short turing (45 km-an) namun udah cukup untuk dapet feelnya. Ninja 250 notabene genrenya adalah sport turing, punya mesin beringas khas motor sport yang disematkan ke motor berfairing dengan riding position gak terlalu nunduk. Untuk kenyamanan turing ninja harus takluk dengan honda tiger yang sudah sering kali ane buat turing. Apalagi tiger sudah  dimodif untuk menguatkan aura turingnya. Ubahan yang sudah SF lakukan pada honda tiger sudah menyentuh ergonomi berkendara, diantaranya meninggikan setang depan memakai raiser, menyesuaikan kontur jok serta mengganti shock breaker belakang yang sedikit lebih nungging (kondisi terakhir ganti milik TVS apache yang sudah menganut sistem gas/ nitro).

image

NINJA 250
Urusan mesin jangan tanya! Buat jalan nyantai oke buat kenceng hayuukkk! Mesin 2 silindernya menawarkan sensasi power tinggi yang bebas getaran, kalo ini susah disaingi dengan mesin 1 silinder. Namun perlu diingat, turing ga selalu dikaitkan dengan speeding, namun lebih ke arah kenyamanan berkendara jarak jauh. Posisi Riding ninja yang tidak setegak honda tiger bikin pergelangan tangan dan punggung terasa lebih capek. Namun keuntungan posisi ini, -maaf- pantat lebih sedikit menanggung beban tubuh karena distribusi berat juga terarah didepan, akibatnya pantat ga terasa cepet penat dibanding tiger. Desain ninja yang sedikit kurang pantas jika dipasang top box pasti akan merepotkan jika buat turing. Untuk itu terpaksa SF keluar duit lebih untuk membeli tank bag. Urusan handling, ninja memang terasa lebih stabil dijalanan kosong, lah bobotnya sendiri  hampir 40 kg lebih berat dari tiger, ditambah lagi dengan adanya fairing bikin ninja lebih anteng membelah angin. Namun anehnya untuk masalah pengereman SF rasa lebih responsif honda tiger, mungkin karena bobot ninja yang jauh lebih berat dibanding tiger. Padahal ninja ini sudah ane bekali cakram depan lebar serta ban lebar ukuran 120 depan dan 150 belakang. Untuk shockbreaker, ninja dengan monoshocknya jelas lebih nyaman dibanding shock ori tiger. Konsumsi pertamax 1:20-25 untuk luar kota. Kelemahan yang paling fatal : ninja sangat tidak nyaman buat boncenger jika menempuh perjalanan jauh.

image

HONDA TIGER 2004
Urusan mesin sudah terasa lebih dari cukup untuk turing. Karakternya sungguh beda dengan ninja. Torsi dan tenaga langsung terisi dari putaran bawah kalo ninja ga seberapa galak putaran bawah, putaran tengah melempen tapi putaran mesin diatas 9000 rpm tenaga jadi menggila alias langsung naik drastis. Kalo bukan penyuka speed touring, mesin tiger terasa lebih pas. Urusan ergonomi tiger muantab, apalagi sudah modif turing. kenyamanan berkendara jarak jauh jelas lebih nyaman daripada ninja. Namun terpaan angin pada tiger terasa berlebih hal ini karena posisinya yang tegak, apalagi saat berada disamping bis atau papasan, masih terasa goyangan pada bodi motor. Dengan berat 40 kg lebih ringan dibanding ninja pengereman terasa lebih responsif, apalagi tiger sudah ane modif cakram depan lebar dan ban lebar. Desain tiger cocok banget dipadukan dengan top box maupun sidebox jika buat turing, ini sangat membantu bila dibanding memakai tank bag yang bakal kebingungan saat hujan deras. Apalagi dengan konstruksi yang pas, rear box juga bisa dipakai sandaran bagi boncenger maupun rider ( pakai braket geser). Untuk shockbreaker, shock stereo tiger harus mengakui keunggulan monoshocknya ninja. Namun setelah shock tiger ane ganti dengan shock nitro kepunyaan TVS 160, empuk dan reboundnya ga jauh dibanding ninja. Konsumsi bensin premium ga jauh dibanding ninja yakni kisaran 1: 25-30 namun premium harganya separuhnya pertamax :mrgreen:. Kalo buat boncengan, tiger salah satu yang ternyaman dikelasnya apalagi udah pakai rear box bisa buat sandaran boncenger.

KESIMPULAN
Ninja cocok buat turing jika tidak membawa boncenger, barang bawaan sedikit dan rute yang ga macet.
Sedangkan tiger cocok untuk hampir semua kondisi kecuali jika anda penyuka high speed touring.

Kalau komparasi ninja dan tiger untuk motor harian ada disini

Bulan-bulan ini ane dan keluarga disibukkan ritual pindahan rumah. Beginilah nasib kontraktor. Sering pindah-pindah rumah. Bukan karena ga pengen beli rumah sendiri tapi dinasnya ga tentu sih bisa mutasi ke seluruh Indonesia sewaktu-waktu. Karena rumah ane masuk gang. Untuk pindahan rumah terasa sangat menyulitkan. Nah karena rumah barunya jaraknya Cuma 1-2 km dari rumah lama, akhirnya diputuskan untuk nyicil barang-barang yang diangkut. Weekend kemaren mulai proses pemindahan barang ini. Motor yang ane pakai yakni Suzuki spin 125 milik bundaf41z. karena dek depan rata dan Joknya lumayan panjang. Bisa muat banyak barang tuh. Disektor depan bisa muat barang setinggi dada. Sedangkan belakang bisa diiket barang-barang  juga. Dengan membawa beban seberat itu ternyata jago juga motor ini. Shock belakang nyatanya masih bisa empuk tuh meski juga boncengan dengan anak istri + barang pindahan, namun shock depan yang terasa mentok. So jalannya pelan-pelan aja deh. Pemerkosaan otomotif nih. He3….

sampai letoy dia diperkosa habis-habisan.... 😛

Akhirnya pada hari kedua saat balik mindah barang ke tiga kalinya hari itu si Spin udah ga tahan lagi diperkosa. 😛 mogoklah dia. Ternyata dugaan ane tepat. Selang vakum yang mengarah ke karburator klemnya lepas, sehingga bensinnya ga mau turun. Kasihan juga deh Spin ini. Karena ga mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Terpaksa cukup sampai disitu aja kegiatan nyicil barang pindahan. Tinggal Minggu depan mo nyewa pick-up untuk barang2 besar. Kalo ga ada spin bisa 2 kali bolak balik nyewa pickupnya, jadi mahal juga nantinya. Bukannya pelit tapi tersiksa untuk ngangkat barang dari rumah digang kecil  ke jalan besar. Pindahan rumah sebelumnya sukses juga spin ini ngangkut kulkas ke jalan besar. Ha3….