beli

All posts tagged beli

Kebetulan penghuni di rumah SF nambah satu, yakni adik ipar dari Surabaya. Adik ini punya selera motor pure sport. Motor yang enak dikendarai menurut dia adalah motor yang nungging bagian belakang dan nunduk bagian depannya. Pantes saja vixionnya dimodif nungging plus setang jepit
image

Karena itu SF segera meracuni dia… ntar klo dapat rejeki lebih dan pengen ganti motor beli saja Ninja 250 mono. Dengan pertimbangan ipar SF fisiknya ga sebesar SF dan seneng motor sport. Eh ga disangka racun yang SF sodorkan ditolak mentah-mentah. “Ogahhh” katanya.
image

SF racuni lagi kalau tenaganya lebih beringas dibanding CBR 250, handling lebih ringan, model baru, dan harganya lebih murah . Eh tetep ga mau dia…Alasannya : ” motor 250cc kok 1 silinder” nanggung mas… mending bekasnya Ninja 250. Trus modif tiarap bagian depannya”. Kali ini ipar SF sepaham sama SF (kucuali bagian nurunin bagian depan)… Harga hampir sama dan dapat kelebihan yang ga dimiliki motor 250cc 1 silinder. Aura moge dan kitiran atas yang beringas.
image

Tantangannya bisa ga dapet barang bekas dalam kondisi mint 🙂 

Posted from WordPress for Android

Seringkali Orang bilang membeli motor/mobil bekas kecelakaan yang sampai menewaskan pengemudinya atau korban tewas lainnya bisa bikin Apes.

sumber gambar : gunungmotor.wordpress.com

sumber gambar : gunungmotor.wordpress.com

Yup… SF setuju ini benar adanya.

Namun jangan dilihat dari sisi klenik… lihat dari Sisi Logikanya. Mobil/motor yang sampai menewaskan pengemudinya sangat kemungkinan besar parah kondisinya. Kebanyakan kecepatan tinggi… (klo nyenggol/tabrakan pelan kan ga sampai timbul korban jiwa J ). Sebelum dijual tentunya kudu direstorasi dulu. Biasanya keluarga pemilik motor ga tega menyimpan motor /mobil bekas almarhum. Hasil Renovasi kemungkinan ga sebagus kondisi saat motor keluar dari pabrikan, apalagi sampai perlu proses pengelasan, pemanasan rangka sampai ditekuk-tekuk. Belum lagi parts-parts sepele lainnya, kemungkinan diganti yang murah/ imitasi , apalagi niatnya restorasi untuk dijual ngapain dikasih barang ori. Lah kalau daleman mesin kan ga kliatan kasat mata tuh, berikut parts lainnya. Nah kebelakangnya hal-hal ini yang bikin apes dijalan. Mogok lah, roda/komstir oblag, rangka getas/gampang melengkung, performa drop, dll.

Semoga ga ada yang beranggapan jika yang bikin apes adalah arwah korban tewas. Karena Takdir yang menentukan Allah SWT… bukan syetan.

Ga ada salahnya mengingatkan… : Berdoalah sebelum mengemudi

Artikel ini terinspirasi dari keluarga dokter pecinta roda dua. 🙂

image

Singkat cerita … rekan SF di Surabaya diminta tolong bokapnya jual ninja 250 yang baru dibeli (belinya beberapa bulan sebelum new N250fi brojol 🙂 ) alasannya saat dipake turing perdana sang bapak sangat merasa ga nyaman (padahal short turing Surabaya -Mojokerto) apalagi beliau setahun lalu menjalani operasi pundak.. makin ga nyaman pastinya. Umur sudah 56 tapi masih berjiwa muda… salute ! 🙂 , tapi kondisi tubuh ga bisa bohong. Meski sebelumnya pengguna tiger dan sebelumnya lagi pernah punya cbr 150 versi lama , tetap handling ninja sedikit beda. Tanya kenapa? Bobotnya bro ! 🙂 
Motor baru dibeli langsung pengen dijual, gara-gara ga sesuai yang diharapkan. Untunglah anaknya mau gantiin motor itu… begitu SF menyarankan kepada rekan SF agar bapaknya beli inazuma saja… doi menjawab .”Ga ah.. resiko, kasihan bapak dah berumur… ” jawabnya. Tapi emang bisa hobi dikalah kan usia…? nih contohnya 🙂

image

To bro fajar : thx sharingnya. Ditunggu modif ekstrem ninjanya 🙂

image

Kebetulan baru tau jika tetangga di seksi sebelah adalah pengguna kawasaki athlete. Nah pada suatu kesempatan makan siang SF sempatkan berbincang sejenak untuk mengkorek segala hal mengenai athlete tunggangannya. Alasan doi memilih athlete karena modelnya cakep, tampilan depan layaknya motor sport dengan shockbreaker full sedangkan belakang sudah mengadopsi monoshock dan RDB. Nah kenapa ga milih FU sekalian? Alasannya budget saat itu kurang dan sebab lain FU terkenal irit boros. Mantan penyemplak yamaha champ ini juga mengatakan jika doi sudah insaf ga pernah ngebut lagi. Jadi kelebihan FU yang kencang bukan hal yang penting baginya. Nah kawasaki athlete ini dirasa pilihan yang pas. Modelnya keren, murah, shockbreaker empuk, ga boros, tangki bensin didepan layaknya motor sport sehingga ga perlu turun dari motor saat isi bensin, serta bodinya yang ringan.
Di akhir percakapan SF sempatkan bertanya, kalau ada problem kerusakan apa ga susah maintenancenya bro? Jawabnya “ya tinggal bawa ke dealer saja, klo motor sering rewel dijual saja ” :mrgreen:

image

Sharing pengalaman 1.5 tahun silam ketika meminang si bolot. Begitu dikabari duit utangan masuk rekening, :mrgreen: segera SF hunting di kaskus dan iklan baris 2 hari sebelum terjun kelapangan 🙂 , SF membuat list Ninja 250 incaran (semuanya dibawah 5000km). Saat membandingkan harga baik yang telah tercantum maupun lewat telpon, SF berkesimpulan beli motor modifan jatuhnya lebih murah jika beli motor standar trus dimodif. Bayangkan dengan selisih harga 2jt sudah dapet ban lebar depan belakang dan knalpot racing branded lokal dan rear hugger, klo dirinci ban baru sekitar 2 jt, knalpot 3.5 jutaan, rear hugger 600 rban. Biasanya penjual motor seperti ini orangnya ga mau ribet, pengennya transaksi trus beres… padahal jika dihitung-hitung lebih baik dijual terpisah, bayangkan saja battlax  kondisi 95%, jika dijual bisa 1 jt keatas (sepasang), knalpot branded mulus meski bekas bisa dihargai 2 jtan, rear hugger yang bagus 200rb juga laku tuh, klo mau sedikit ribet dengan mempreteli asesoris modifan dan mengembalikan barang standartnya, trus asesori dijual terpisah bisa lebih untung tuh.
Tapi malah akhirnya SF milih motor standard, alasannya SF sudah beli knalpotnya duluan (padahal Ninin belum dapet 🙂  ),  ga puas kalau hasil modif orang lain, serta tergoda motor incaran pertama.
image

Gimana ga tergoda,  begitu datengin pemilik motor didaftar nomer 1 yang SF bikin langsung disuguhin motor mulus (ga ada baret sedikit pun), tolsbox masih rapet dalam plastik (belum pernah dibuka), dan KM baru 600 ! Barang langsung dideal dan list yang berisi 5 ninja lainnya langsung masuk tong sampah :mrgreen:  sudah jodoh kali 

image

Kira-kira 2 minggu kemaren saat ada acara pemberian motivasi dikantor, pada satu kesempatan Ustad penceramah menyebutkan :

Allah tidak suka sesuatu yang mubazir, kadang manusia membeli sesuatu karena keinginan semata padahal tidak butuh

Spontan SF langsung mengajukan pertanyaan. “Bagaimana dengan hobi? Untuk mendapat kepuasan berlebih biasanya membutuhkan biaya lebih besar. Contohnya kamera seharga 3 juta mungkin cukup bagi sebagian orang, tapi bagi yang ingin kepuasan lebih 10 juta masih belum bisa memenuhi keinginannya. Begitu juga motor, untuk dana belasan juta sudah cukup memenuhi kebutuhan akan transportasi. Tapi karena hobi, motor puluhan juta pun rela dibeli. Apa itu bukan mubazir?
Jawaban Penceramah cukup bagus.
Sebelumnya mindset harus dirubah, hobi adalah kebutuhan! Bahkan Hobi memenuhi 2 hal yakni keinginan dan kebutuhan. Manusia dasarnya membutuhkan kepuasan dan kenyamanan. Bagi pekerja dengan tekanan kerja yang tinggi membutuhkan hobi untuk menghilangkan stress agar pekerja tersebut dapat tetap melaksanakan tugasnya dengan baik. Namun hobi tersebut menjadi mubazir dan di benci Allah jika menyebabkan orang lupa kewajibannya dan mengorbankan kebutuhannya. Misal dengan memaksa mencicil motor gedhe ratusan juta ( ngoyo, bahasa jawanya) tapi kewajiban zakatnya tidak terpenuhi, tidak pernah sedekah, tak mampu memberi pendidikan layak pada anaknya, dll. Saat itu hobi menjadi hal yang dibenci Allah. Ingat ! jika ada harta dirumahmu belum dizakati maka ibadahmu dirumah itu tidak diterima.”

Silahkan mempunyai hobi namun jangan jadikan beban. Dengan bermubazir maka ada hak orang lain yang terkorbankan.

image

Komen itu dilontarkan rekan SF. Daripada beli Ninja 250 kok ga beli mobil saja sih? Enak ga kehujanan kepanasan dan bisa muat banyak. Nah ini jawabnya erat hubungannya antara kebutuhan dan keinginan. Beli mobil bagi menurut SF adalah kebutuhan (kecuali yang hobi), nah sementara karena anak masih satu jadi ya belum butuh. Sedangkan beli Ninja 250 adalah keinginan. Nah keinginan itu jika terpenuhi akan menjadi kepuasan yang tak ternilai harganya. Apalagi bagi SF yang semenjak SD punya cita-cita punya moge multi silinder. Ditunjang dengan hobi motor maka keinginan yang menghasilkan kepuasan itu menjelma menjadi kebutuhan. Kalau beli mobil dan diJakarta sering terjebak macet apa ga malah bikin stress tuh. Belum lagi mobil seharga 40 jtan (setara harga ninja bekas SF) dapat mobil tahun tua yang butuh perawatan mahal. Hal lain yang bikin  SF beli mobil, harus ngontrak rumah yang ada garasinya dan harga kontraknya bisa 2 x lipat harga rumah yang SF kontrak sekarang. Kalau ga gitu ya nyewa lahan parkir. Jadi makin meningkat biaya hidup di Jakarta ini.
image

image

Saat baca artikelnya bro Iwan, langsung membayangkan gimana kalo ninja SF apes kecelakaan dan sampai hancur total seperti itu. Daripada dikembalikan seperti semula bisa sampai belasan juta mending ganti model sekalian jadi street bike. Tinggal buang fairing yang ancur. Lampu depan pasang double headlight bulet ala buell. Dibawah tangki pasang aja shroud sekalian nutupi reservoir radiator. Bagian bawah biar padat tambahi engine cover. Manteb deh. Modalnya paling separuhnya. He3…. Namun ada komsekwensinya. Kalau dijual lagi bakal susah dan jatuh harganya.

image

Image motor yang di ciptakan atpm sangat ampuh mempengaruhi seseorang dalam memilih motor. Yamaha dengan iklannya sukses melekat dengan image kencangnya akibatnya banyak generasi muda lebih milih yamaha. sedang honda dari generasi ke generasi terkenal dengan awet dan iritnya, soal lari mah belakangan. Akibatnya bagi bapak2 yang dah gawe lebih milih ini, nah anaknya ya otomatis ngikut kemauan bapaknya. Akibatnya penjualan honda tak terkalahkan sampai saat ini. Baru akhir2 ini saja honda menyasar anak muda dengan segmentasi yang jauh lebih lengkap daripada yamaha. Pertimbangan untuk memilih motor memang beda untuk masing2 individu. Klo pengen yang praktis irit dan awet bisa milih bebek. Bebek pun sangat beragam pilihannya. Kalo pengen lebih praktis lagi tapi boros bukan pertimbangan utama bisa milih matic.

Pengen gagah dan kenceng jelas ada sport, mulai turing naked, street fighter dan full fairing pun ada. Pengen maen jumpalitan ada produknya kawasaki. Belum lagi jika sudah sreg sama satu tipe misal sport full fairing bakal beda pertimbangan milihnya. Ada yang milih pualing kenceng dan murah KRR yang dipilih , kalau yang pertimbangannya canggih, irit ada CBR, sedangkan yang pengen aura moge ga peduli spedometer kaya jam dinding, dan mesin kuno era 80an jelas ninja 250 pilihannya. Beruntung sekarang banyak tabloid dan blogger yang mengulas kelebihan dan kekurangan masing – motor sehingga paling tidak calon pembeli motor yang melek informasi ga bakal tersesat.


Racun moge hampir menjangkiti setiap biker enthusiast, raungan multi silinder yang ganas, kegagahan bodinya dan powernya yang berlebih, siapapun pasti ingin memilikinya. Apalagi jika kondisi ekonomi sudah mapan. SF sendiripun sebenernya dari kecil berangan-angan pengen punya moge. Begitu merasakandunia kerja  keinginan itu langsung sirna (mimpi aja ga brani kok). Gaji saja pas-pasan saat itu cuma berani nyicil tiger dibelain sampe puasa.Nah alhamdulillah kondisi ekonomi sekarang agak membaik dan mampu beli mini moge, padahal dijakarta rumah masih ngontrak :p (udah punya rumah tapi di Sby – dpd ntar ada yang protes 🙂 ). Keinginan memiliki moge muncul lagi saat test ride honda shadow 750, Cbr fireblade dan, suzuki intruder 1800 milik mantan bos.

Ditambah lagi saat browsing untuk keperluan blog Bunda faiz ikut menyimak. Moge2 yang sempet menggoda iman antara lain suzuki bandit (Bundafaiz kurang suka karena mirip tiger), supersport dan superbike (kalo ini yg SF anti, ga kebayang capeknya), ER6 (SF demen karena model street fighter dan harganya rendah dibanding moge baru lainnya), shadow dan intruder (bunda paling demen sama yang ini). Opsi satu lagi model supermoto langsung ditentang bundafaiz :(.

Nah begitu bunda faiz memprovokasi, “ga pengen ninjanya ganti moge pa?, ga papa deh kalo pengen ER6.” Glodagh! lah wong barangnya aja belum dilaunching. Harganya juga simpang siur. Langsung buka laptop ngitung kemampuan finansial. Terus mengernyitkan dahi. Hmmm…lanjut kasih opsi ke Bundafaiz “apa mau uang belanjaannya dipotong?” Apa mau tunda punya adik lagi?”,”apa mau klo kemana-mana naik motor terus ( klo ini SF sih sanggup)” :). Bisa ditebak jawabannya, “wah kalo gitu ntar dulu deh beli mogenya, mobil dulu aja”. Just like I thought. Pengguna moge mensyaratkan minat dan kondisi finansial yang berlebih. Klo tergolong pas-pasan mending jangan dipaksa deh daripada harus mengorbankan banyak hal cuma karena nuruti hobby. Belum lagi kalo ntar ada apa2 sama motornya. Lah ngrawat ninja aja masih cari part substitusi apa ga malu kalo ER-6 nantinya pake kampas rem supra pit dan busa filter dari filternya akuarium. :pentung