Ergonomi, juga mempengaruhi keputusan memilih motor

image

Dua orang rekan SF membatalkan beli spacy karena posisi kaki ngangkang saat berhenti, untuk postur tubuh tertentu bisa menyulitkan. Sedangkan temen SF yang jangkung sangat merasa tak nyaman saat menaiki mio, karena jarak dengkul ke setang pendek banget.  Satu lagi temen ane penghobi moge yang demen banget turing, doi paling anti dengan motor pure sport, bikin pegel pinggang dan tangan untuk jarak jauh.
image

Contoh-contoh yang SF sebut diatas mencerminkan bagaimana ergonomi mempengaruhi minat beli seseorang meminang motor. Bagi SF kenyamanan dan fungsional motor adalah prioritas dalam memilih motor. Apalagi jika nantinya dipake untuk aktivitas sehari-hari. Awalnya SF sangat ragu untuk meminang Ninja 250 yang katanya motor sport sejati, maklum sebelumnya terbiasa naik turing yang posisi mengemudinya tegak. Tapi setelah jajal motornya, ternyata secara ergonomi N250 ini masuk motor sport turing. Ga bisa bayangkan jika posisi setir dibawah trike atau sejajar pinggang, pasti ga bakal ane beli sebagus apapun motornya.

Niatnya motor hobi buat dinikmati tapi kalau menyiksa ya ogah! SF punya temen beberapa tahun silam, doi ngebet banget punya honda Tiger maklum saat itu tiger motor paling premium dan ga ada lawannya. Karena ga ada pilihan lain doi langsung memodifikasi tigernya sesaat setelah dibeli dengan cara mengganti velg 17″ dan memendekkan shock depan. Setang depan pun dimundurkan dengan cara ditambah raiser/ adaptor. Ergonomi mempengaruhi pemilihan seseorang meski bukan yang utama karena masih banyak hal yang secara prioritas ditentukan berbeda masing-masing orang.

image