GPS

All posts tagged GPS

Saat beli braket spion dan windshield kmaren sekalian SF beli braket holder multi fungsi buat Nmax.

Braket ini berfungsi  layaknya handle bar pada sepeda/ motor yang mengakomodir penempatan berbagai gadget . misalnya braket HP, GPS atau action cam. Penempatannya di atas spedometer.

Untuk Nmax pemasangannya cukup mudah.  Tinggal ganti baut cover bodi atas Nmax dengan yang agak panjangan . Baut pengganti ini serupa dengan baut filter samping. Yang agak susah dudukan depannya. Kudu melepas windshield, bautnya pake bawaan saja bisa kok. Continue Reading

image

Seorang rekan menyarankan aplikasi waze sebagai penunjuk arah pada android SF. Setelah dijelaskan keunggulannya, jadi tertarik juga SF memakainya. Sebelum melangkah lebih jauh perlu SF jelaskan, waze mutlak membutuhkan gps dan koneksi internet. Continue Reading

P200NS vs tiger
Gara-gara sama 200 cc si P200NS sering dibandingkan dengan tiger. Jelas lah dimana-mana si macan ompong ini dibully….Lah tehnologi turunan GL tahun 70/80an cuma diganti CDI dan tambahan fitur lainnya. kalau bandingin performanya mungkin seperti nyuruh adu lari ABG usia 20 an lawan bapak-bapak setengah kakek usia 50an. :mregreen: Continue Reading

Dibanding ninja 250 dengan kecepatan yang sama kok perasaan lebih pelan tiger ya. Jelas ini karena penggantian velg yang aslinya 18″ jadi 17″ pada honda tiger 2004 milik SF. Karena penasaran segera saya cek akurasi pake GPS. Media yang saya gunakan HP Sony erricson Xperia X1 dengan software Garmin Mobile XT.
Tes ini saya lakukan saat berangkat diklat. Area test di sepanjang Gatot Subroto. Test pertama saya tahan kecepatan 60 kpj beberapa saat, setelah saya rasa cukup segera berhenti untuk ngecek GPs. hasilnya max speed di GPS tertera 54 kpj (sori ga sempat foto hasilnya, keburu telat masuk) dari hasil perhitungan 60/54= 1.1111 artinya tingkat deviasi speedometer tiger 11.11% .
Selanjutnya saya pacu motor kearah kemanggisan. Sebelum plaza Slipi, saya belok kiri. Nah disitu saya sempet mempertahankan kecepatan pada spedometer tiger 80 kpj selama beberapa saat. Saat nyampai tempat diklat SF intip hasil record GPS dan hasilnya kecepatan maksimal yang tertera di GPS 72 kpj. Artinya nilai yang ditunjukkan pada speedometer 111.11% dibandingkan kecepatan real pada GPS atau 11.11% lebih tinggi. Simpangannya sama seperi pada kecepatan 60 kpj.
image

Sedangkan untuk kondisi standar karena SF ga pernah mengukur langsung, SF mencari info dari google. Beberapa hasil pengujian berhasil SF dapatkan. Salah satu sumber yang menurut SF dapat dipercaya adalah dari saft7, menurut artikelnya simpangan spedometer honda tiger sebesar 10.39%. Dapat disimpulkan  penggantian lingkar roda menjadi lebih kecil berakibat simpangan/ deviasi pada speedometer menjadi semakin besar.

image

Kalo dulu GPS jadi barang langka dan mewah namun sekarang udah banyak handphone yang punya fitur ini. Kira-kira 2 tahun lalu ane meminang smartphone salah satu fiturnya harus ada gpsnya. Karena budget terbatas saat itu hanya mampu beli sony xperia x1 bekas. Rencana sih setelah dapet barangnya langsung instal garmin mobile. Eh lah kok dapet x1 yang sudah full aplikasi termasuk garmin map yang sudah mencakup peta seluruh Indonesia. Sampai saat ini soner x1 SF berjasa menemani aktivitas sehari2 di ibukota. Saat ada keperluan mencari alamat rekan atau tempat nongkrong langsung aktifkan gps tak berbayar ini. Sebenarnya selain untuk peta jalan, masih banyak fungsi GPS. Diantaranya, penunjuk arah/kompas dan indikator kecepatan. Nah sebagai sarana untuk menempelkan Hape ber GPS ini ke motor cukup masukkan ke tankbag yang transparan permukaannya.
image
Daripada menghabiskan jutaan rupiah untuk membeli gadget yang khusus GPS mending beli hape yang sudah ada GPSnya, selain lebih ringkas juga punya banyak fungsi yang lain.

ilustrasi garmin di Hp dari mbah google

Pengalaman kesasar dialami SF saat survey lokasi kerja baru. Sebelum berangkat setting GPS di xperia X1 dan ditempel diatas tankbag 7 gear. Berangkat sih ga ada kendala. Namun saat balik SF salah lah jalur dan yang seharusnya lewat Yos Sudarso kearah Kramat Jati malah dilempar lewat Senen. Kebingungan bakal terjadi dijalan yang bertumpuk-tumpuk kaya Jakarta ini, penyebabnya diantaranya banyak terowongan dan flyover, belum lagi sebelum masuk terowongan atau flyover tadi ada berbagai cabang yang ga keliatan ujungnya bakal kemana, yang ribet lagi ada jalur yang khusus dilewati mobil, ada jalur khusus masuk ke jalan Tol, ada juga yang khusus busway. Byuhhh…. bagi pendatang yang belum kenal seluk beluk Jakarta bener-bener dibikin bingung. Kejadian seminggu kemaren ane kesasar gara-gara persimpangan yang membingungkan ini, karena ga hapal jalan ane percaya saja dengan GPS ane. Nah saat ada persimpangan yang harusnya SF memperhatikan rambu malah asyik ngintip GPS. GPS menunjuk arah lurus, nah berhubung saat dipersimpangan jalannya lurus semua ane tetep deh dijalur ane ngikut motor  didepan. GPS pun ga menunjukkan  tanda-tanda kesasar. Kalo kesasar biasanya dia langsung recalculating rute.

Eh diujung jalan ga taunya kendaraan ga boleh terus, alias dipaksa belok kanan. Jiah GPSnya baru ngrespon saat udah kesasar recalculating rute ke arah baru. Perjalanan yang harus ditempuh 45 menit jadi 1 jam lebih. Percaya GPS okeh asal tetap waspada dengan rambu petunjuk jalan.