honda tiger

All posts tagged honda tiger

Tiger 2004 yang sekarang jadi kendaraan simpanan, dipakai seminggu sekali

Pada jaman kejayaannya (akhir 90an awal 2000an) tiger memang diidamkan banyak orang. Bodinya moge look, cocok dimodif aliran apapun, nyaman untuk turing dan tenaganya mumpungi. Banyak remaja yang saat itu belum kesampaian meminangnya… alasannya karena faktor ekonomi. Apalagi tiger terkenal dengan sparepart mahal. 

Entah memang kebetulan atau memang sedang naik daun lagi, beberapa pembaca blog ini menanyakan soal tiger. Beberapa menanyakan perawatan tiger, beberapa lagi berkeinginan hunting tiger untuk memuaskan rasa penasaran yang sedari remaja… 

Oke deh langsung saja SF bagi sedikit tips dan pengalaman… 

Silahkan hunting tiger lawas tapi dengan catatan…. anda adalah orang yang telaten merawat motor…

Tiger terbandel adalah tiger tahun2 awal yang lampu belakangnya masih single (tahun 94-2000an awal) … saat ini susah nemu yang prima. Partsnya jauh berkualitas dibanding tiger yang lahir belakangan… tapi harga partsnya saat itu nggilani memang. Karena jam kerja tinggi otomatis mengalami peremajaan…. kemungkinan terbesarnya ya pake parts tiger baru yang kualitasnya … ya gitu dahh…. :mrgreen: kecuali nemu harta karun tiger tahun awal yang full ori dab sehat…. sikat saja dahhh…. tapi kalau nemu tiger mata rem double atau tiger revo prima ya monggo saja… perawatan dan karakternya hampir sama…

Tiger sekarang memang dah di suntik mati, tapi jangan kuatir partsnya masih sangat mudah didapat… 

Pahami dulu penyakit tiger yang paling sering terjadi. Sebagai pegangan saat hunting dan perawatan kedepannya. 

1. Rantai keteng/kamrat gampang kendor. Tandanya dari bunyi berisik seperti busi beradu dibagian blok sebelah kiri. Tenaga juga ngedrop. Awalnya muncul di rpm tertentu, kalau dah parah saat stasioner saja berisik parah…. penyakitnya karena kualitas keteng bawaan kurang bagus . Kalau ganti mending cari yang merk DID . Sekarang bahkan ada juga yang jual kamrat alternatif tiger 4 lapis yang dijual bareng gigi sentriknya… konon jauh lebih awet meskipun lebih mahal. LAT alias stasioner kamrat tiger juga terkenal kurang OKE. Nah sekarang ada yang jual stasioner dengan per spiral (bukan per plat seperti bawaan tiger).

2. Cek kancingan gir belakang…. GL max dan tiger SF penyakitnya sama… jalur kancingan gir tergerus… lama2 bisa bikin gir lepas dari bossnya. Pastikan saat akan meminang tiger, daging rumah kancingan gir masih tebal

Tiger SF sendiri sekarang dah pakai velg NMP yang dah ga pake sistem cacat seperti ini. (Baca selengkapnya disini )

3. Tangki keropos…. bukan hal yang baru kan? Cek dengan teliti bagian bawah tangki, terutama bagian pangkal kran bensin. Keroposnya tangki tiger karena ada air yang ngendon didasar tangki… SF sekarang selalu posisikan kran bensin dalam posisi res, karena akan menyedot bbm dari dasar tangki. Jadi tidak memberikan kesempatan air untuk ngendon. Untuk pengaman tambahan SF tambahkan sendiri filter bensin diantara kran bensin dan karbu. Sekali waktu SF bersihkan filter tersebut, dan tak lupa SF buka tutup baut pembuangan di karburator untuk membersihkan kotoran yang ngendon didasar karbu.

SF sendiri kurang ngeh asal airnya. kalau dibilang dari embun/pemuaian kok banyak banget. SF pernah kuras tangki airnya ada setengah liter loh… mungkin dari tutup tangki atau saat isi BBM.

4. Perkabelan… tiger SF beberapa kali bermasalah di bagian penghantar arus positif. (Lupa warnanya klo ga salah kuning) . Cek soket soket kabel dibagian kiri diatas tutup gir depan… pastikan tidak ada tanda gosong di soket maupun kabelnya. SF pernah kesulitan cek sumber korslet kabel ini… akhirnya SF putuskan bypass arus dari spull ke kiprok dengan kabel yang lebih tebal, sedangkan jalur aslinya (yang nampak gosong dan kaku) SF potong sajah.

5. Info dari tukang pressbody… Tiger maupun GL series sangat mudah mleyot bodi belakangnya… apalagi kalau pernah jatuh. Cek kelurusan ban belakang dengan spakbor belakang. 

6. Kopling gampang selip…. kalau SF sih tukar sepasang judger spring dengan plat kopling, dan tukar kampas kecil bawaan tiger dengan kampas besar. Tapi jadi sensitif sih… motor nyundul-nyundul galak. kwkkw…. ntar SF research lagi komposisi yang enak untuk harian.

SF dah bilang kan… kalau memang berniat meminang motor lawas seperti tiger ini ya kudu telaten. Kalau terawat, tiger cukup nyaman kok…. mesin terasa rileks saat melaju karena karakternya yang bertorsi, riding position ga bikin pegal untuk jarak jauh, dan stabil. 

Semiga infonya bermanfaat… silahkan bagi pecinta tiger untuk nambahi

Sebulan lalu SF memutuskan beli noken as plus RRA BRT untuk diaplikasikan ke tiger. Di tokopedia SF dapatkan seharga 550 rb dari seller penjual sliderules racing. Ada 4 pilihan S-1 (perkotaan) , S-2 (turing), T-1 (speed turing) dan T-2 (top speed). Sebelumnya SF konsulkan dengan seorang rekan yang berkecimpung di dunia balap. Menurutnya mending lake S-1 saja untuk motor harian, ga seberapa boros dan performa juga sudah diatas standardnya.

Baru Sabtu seminggu lalu barang baru sempat terpasang pada tiger. Pemasangan ini bersifat PNP karena memang tipe ini dikhususkan untuk tiger. hari Rabu kmaren baru sempat dijajal dengan rute 50kman. Sayang saat percobaan pertama ada masalah terhadap tensioner keteng tiger SF yang sedikit melemah, jadi timbul suara berisik .

 SF ga bisa membandingkan dengan noken dan temlar ori, karena punya SF dah di gosok gosok ga jelas untuk menghilangkan baret :mrgreen:  

Berikut impresinya 

1. Power RPM bawah ga ada yang spesial… Biasa saja. Enaknya motor jadi ramah dan ga liar untuk diperkotaan.

2. Butuh power lebih, puntir saja gasnya…RPM 4000 keatas baru dah terasa padatnya tenaga. Rpm terasa cepat naik.

3. Mesin seakan melaju lebih effortless alias lebih rilex dan ga ngoyo… Suara knalpot malah terdengar lebih mendem (kalem).

4. Getaran motor tereduksi , sayang SF sedikit terganggu suara kamrat. Jadi agak kurang bisa menganalisa efek halusnya suara mesin. 

Bengkel sebenarnya sudah mengingatkan mengenai LAT (tensioner kamrat) yang mulai melemah, tapi SF sengaja ga mau ganti LAT model ori. Rencana SF ganti LAT dengan model per spiral yang konon lebih bisa diandalkan dibanding LAT dengan per model gulungan plat tipis. 
Bukan bermaksud promo (toh BRT ga ngasih apa2 ke SF, noken saja beli pake duit dhewe 😆 ). Noken S-1 pas banget untuk perkotaan. Mesin yang terasa rileks melaju di RPM menengah atas juga bikin pas untuk turing. Untuk ketahanan embuh…. Jelasnya untuk tiger SF bisa sangat awet…. Lah pakenya aja Seminggu pisan :mrgreen: 
Nanti SF share lagi lah perpaduan LAT model Per spiral dengan noken BRT ini. 

Bagini nasib punya motor diskontinyu (padahal belum lama diskontinyu… 🙂 ) sparepart sepele saja sudah susah dicari. Hal ini SF alami saat ingin membeli karet footsteep tiger bagian depan. Bengkel resmi tidak ready stok barang ini… otomatis SF kudu cari ke bengkel umum…
Beberapa bengkel umum sepanjang Harapan indah hingga THB (bekasi) SF samperin, akhirnya nemu juga di bengkel paling ujung THB pas sebelum bundaran kolam renang….

image

Continue Reading

Kali ini bukan share soal pengalaman pake tiger untuk turing namun GL max SF terdahulu. Jaman kuliah dulu SF bersama sepupu turing ke Trenggalek… sesaat memasuki trenggalek tiba tiba bunyi gesekan dari arah gir. Ternyata gir belakang dah mau lepas… kancingan gir sudah lepas dari tempatnya… kuatir ada apa-apa SF segera berhentikan motor dan cari bengkel motor terdekat… eh yang ada cuma toko bangunan… ya sudah SF beli kawat. Continue Reading

Beberapa malam lalu SF sempat dicurhati oleh salah seorang member blog yang punya masalah blok kiri mesin.  Blok mesinnya bolong gara2 rantai lepas dan 2 mata rantai nencep di blok mesin sebelah kiri….
Berikut SC kronologinya

image

Ini penampakannya

image

Beberapa kali SF mendengar kisah pilu gara-gara rantai lepas.  Selain masalah ini ada juga as gir depan patah dan juga gir depan rontok… 
SF sendiri waktu pakai GL max dulu pernah lepas as roda sebelah kiri dari armnya…
Jangan sepelekan rantai kendor karena jika lepas fatal akibatnya…

Pemakaian gir berat mengurangi stress mesin saat menempuh perjalanan jauh dengan kecepatan tinggi, rata-rata RPM mesin yang biasanya tinggi saat turing bisa berkurang .. Efeknya konsumsi bensin bisa tambah irit. Kalau soal nambah top speed agak sangsi juga sih… Kondisi normal saja motor (tiger misalnya) akan susah mencapai redline di gigi 6. Namun jika rasio gigi terlalu berat akan menimbulkan beberapa masalah.

image

Berikut sharing SF tiger yang stdnya pake gir 13-43 dengan rasio 3.214 ganti dengan gir set NMP gir 14-42 dengan rasio 3.000… Jadi pergantian diatas sama seperti menurunkan gigi belakang tiger 4 mata!
Ceritanya saat ganti gearset NMP Si mekanik ternyata lupa membesarkan gir belakang, malah pake standar NMP. Simak saja reviewnya….
1. Dulunya kecepatan puncak dicapai digigi 6 (kira2 RPM 500 – 1000 sebelum red line). Setelah pakai gir set NMP Kecepatan puncak dapat di gigi 5, saat naik gigi 6 kecepatan ga bisa nambah karena beban mesin terlalu berat. abaikan angka kecepatan tertinggi karena speedo ga akurat.
2. Akselerasi jelasnya berkurang drastis… Kudu sering pake gigi rendah untuk nyalip.
3. Ngelitik saat mesin panas… Benar-benar tersiksa di kemacetan. Sering kepake gigi satu dan ga bisa akselerasi spontan karena ngelitik.
4. Kondisi ngelitik dan penurunan akselerasi makin parah saat motor buat boncengan.
5. Enaknya rasio gir berat hanya saat SF tanpa boncengan lewat jalur sepi panjang dan mulus… Mesin ga menggerung tapi sudah mencapai kecepatan tinggi.

Kedepannya SF bakal besarin gir belakang NMP yg terpasang pada tiger sekitar 3-4 gigi agar lebih cocok di kemacetan… Ga cuma enak di jalan lempeng doang…

Tiger contohnya… Motor ini aslinya pake  velg ring 18″ dengan ban kurus. Begitu diganti velg diameter/ring 17″ dengan ban gambot, timbul beberapa problem.

image

1. Rasio gigi berubah lebih enteng karena beda diameter velg, petunjuk kecepatan kurang valid
2. Tekanan angin kudu selalu dimonitor.. Kurang angin dikit saja performa motor berkurang drastis.
3. Tiger memakai ban 130 keatas menyisakan masalah lain… Kalau velg aftermarket Tiger disinyalir rante akan gesek ban. Sedangkan tiger SF yang pakai velg NMP aman karena gir bisa digeser keluar dengan ganjel ring.
pemakaian ban 130 keatas pada tiger juga akan menghadapi masalah ban akan tergesek spakbor saat buat boncengan (area spakbor dibawah jok belakang)
Solusinya jangan buat boncengan 🙂 he3…
Ganti Shock tinggi dan keras bisa menghindari gesekan ban dengan spakbor… Namun jika yang dibonceng beruang, sama saja ban tetap gesek. :mrgreen:
Seperti tiger SF kemaren… Buat boceng rekan SF sesama beruang shock nitro TVS tetep ambles dan ban gesek spakbor.
Biar dah …cuek…!  Area bawah jok ga kemonitor … Toh kena gesekan lama2 spakbor jadi makin lebar (dan bolong 🙂 )

Kebetulan kami bertiga penghobi motor sport kemaren sempat kumpul bersama karena suatu tugas. Salah seorang yakni kepala bagian yang baru saja beli P200NS, satu lagi rekan seksi lain mantan pemilik tiger dan  Scorpio. Pada kesempatan itu kami ngobrol banyak soal motor.

image

Keren mana hayo..... jelas pulsar lah.... he3...

Pengguna P200NS sebenarnya dari dulu ingin beli tiger, sudah jadi keinginan terpendam sejak tiger pertama kali muncul. Bodi gagahnya dan performanya saat itu belum ada pesaing… tapi karena dulu dinasnya pindah-pindah akhirnya sekarang baru bisa beli motor sport. Tapi sayang tiger sekarang dah tamat… beberapa dealer mungkin masih ada stok tiger tapi setelah googling sana sini, rekan SF ini akhirnya batal beli tiger…. beberapa poin yang menyebabkan beliau ga beli tiger adalah power pas-pasan bahkan setara dengan motor 150cc, technologi jadoel, belum lagi banyak kelemahan tiger (yang jika SF rangkum bisa jadi novel kali… :mrgreen: ) . P200NS akhirnya menjadi tambatan hatinya karena model cakep dan performa handal. Masalah sparepart rupanya beliau sudah googling sana-sini dan menemukan beberapa bengkel recomended yang menyediakan sparepart P200NS. Continue Reading