ibukota

All posts tagged ibukota

Waktu berangkat kerja karyawan di Jakarta rata-rata sudah terjadwal… begitu pula kita… jadwal akan berubah jika hujan turun atau ada berita penutupan jalan. 

Dalam kondisi normal… selisih keberangkatan 5 menit saja efeknya akan beda. 

Ini pengalaman SF ya…. biasa berangkat jam 5.50 dari Bekasi menuju Kalibata. Sampai Kantor sekitar 7.15. Begitu SF majukan jadwalnya 5 menit saja… nyampai kantor jam 7. Alias 15 menit lebih cepat…..! Lalu lintas signifikan lebih lancar. Ga banyak rider kesetanan yang bisa memancing emosi. Berkendara motorpun terasa lebih bisa dinikmati.

15 menit itu waktu yang sangat berharga loh…. bisa sarapan dulu, istirahat dan sosialisasi dengan teman untuk mengembalikan mood yang kurang baik setelah menembus belantara ibukota. 

Jadi menyisihkan waktu 5 menit demi kenyamanan … worthed kok. 

Ingin menguji kesabaran anda….? coba naik kendaraan bermotor untuk harian. Rute SF sendiri antara 23-25 km (tergantung beberapa alternatif rute) dari harapan indah menuju kalibata. Waktu tempuh antara 1 jam hingga 1jam 45menit.


Godaan bagi biker sangat banyak di jalur ini. 

1. Trotoar sangat amat luas… bahkan mobilpun bisa lewat. Pejalan kakinya ? Hanya seorang dua orang. Ga percaya ?coba cek trotoar selepas flyover walikota jaktim (sebrang halte busway) klo gasalah jl. Ngurah Rai. Dijalur padat menyempit (karena halte busway) ini justru jalan dipersempit untuk bangun trotoar. Kalau pejalan kakinya rame oke lah untuk kepentingan umum juga. Lah ini pejalan kakinya sedikit…meski trotoar dibikin separuh pun masih terhitung lowong untuk pejalan kaki.

2. Sepanjang duren sawit ada jalur khusus sepeda dan pejalan kaki. Jalur ini pun sepertinya cukup dilalui mobil. Dihari kerja, warga yang memanfaatkan untuk olah raga atau bersepeda cukup sedikit. Alhasil beberapa ruas diserobot oleh pemotor setelah menggeser beton pembatas.

3. Jalur busway dibeberapa ruas dirasakan mubazir karena penumpang dirute ini terhitung minim. Sering  SF melihat penampakan bus trans sepi penumpang. Penumpangpun terlihat sepi dibeberapa spot halte antara jl. Ry bekasi timur hingga kantor walikota jakarta timur. Jalur khusus trans Jakarta ini pun memakan 1/3 ruas jalan yang jelas efeknya bikin jalan raya makin padat merayap.

4. Angkot ngetem sembarangan, lampu merah dan persimpangan yang harusnya, silarang berhenti malah jadi favorit tempat ngetem. Bahkan angkot/metromini sering menurunkan /menaikkan penumpang ditengah jalan

5. Tol seharusnya jalan bebas hambatan… di jakarta ini luar biasa… tol bisa macet parahhh! Sekedar sharing 2 rekan kerja SF (rumah di cikarang dan karawang) potongan gaji karena telat bisa mencapai sejuta lebih. Rutenya meski mayoritas lewat tol kalau sudah macet, bisa lebih parah dibanding jalur biasa. Lihat google map jam 4 pagi saja dah macet… !
Salut bagi anda yang sehari-hari naik kendaraan bermotor. Ibarat kata, umur habis dijalan…!

Pilihannya ya kudu sabar…. yang ga lolos ujian sabar buanyak banget… termasuk SF sering banget gagal menahan kesabaran. Tapi jangan sampai lah melupakan sisi kemanusiaan. Ada ibu gandeng anak anak nyeberang masih diserobot, ada yang kena musibah dijalan bukannya dibantuin malah diklaksonin suruh minggir, rame rame melanggar dianggap paling bener, dll

Sepinya jakarta jangan dibandingin sama kota lain ya… ya tetep aja banyak kendaraan lalu lalang… tapi trafik lancar. Harapan Indah Bekasi – kalibata, kondisi normal 70 menit, kalau sepi bisa 50 menit. Seperti hari ini. Jam 6.34 dah mau nyampai kantor… jadinya mlipir dulu dah di tukang mie pinggir jalan…. 

konsumsi bensin juga mengejutkan… normalnya SF cuma dapet dibawah 1:40 di MID nya…. pagi ini bisa 1:46,7 km/l

Efek libur sekolah dan liburan akhir tahun. Jalanan jadi sepi… riding semakin bisa dinikmati….

Sekedar turut forward kabar dari mas bro Arantan, untuk kebaikan pengguna roda dua di ibukota…. Langsung saja bro masuk link berikut
https://www.change.org/p/gubernur-dki-jakarta-pemprov-dki-jakarta-pemprov-dki-jakarta-hapuskan-larangan-sepeda-motor-hi-medan-merdeka-barat?recruiter=204942651&utm_source=share_petition&utm_medium=facebook&utm_campaign=share_facebook_responsive&utm_term=des-lg-no_src-no_msg&utm_content=rp_petition_fb_share_desc%3Acontrol

Tinggal isi nama, email, kode pos agar pemerintah tidak seenaknya merebut hak pengguna jalan khususnya roda dua.

image

Aneh-aneh saja rencana pemkot Jakarta ini. Motor dilarang lewat di beberapa ruas jalan protokol di Ibukota? Menurut hemat SF ga bakal ngefek mengurangi kemacetan. Lah wong di tol saja yang ga ada motor juga macet kok… coba mana ada namanya jalan bebas hambatan tapi macet. Ya kalau bagi pejabat lewat situ jelas lancar lah… soale pake uwing-uwing 🙂 . Itu permasalan utama. Yang kedua pengendara yang tempat kerjanya berada di  ruas jalan terlarang bagi motor dipaksa memarkir motornya diruas jalan tersebut. Pemkot bakal dapat duit dengan menyediakan kantong parkir… tarif perjam Rp1000 tarif max. Rp5000.

image

Selanjutnya, pengendara motor akan disediakan angkutan gratis.. dengan kondisi sekarang saja orang masih harus berdesakan dan nunggu angkutan umum begitu lamanya. Jika motor dilarang ga terbayang penumpukan penumpang dan anarkisme penumpang rebutan angkutan 🙂 okelah pemkot bersedia menyediakan tambahan angkutan gratis… tapi apa mencukupi dengan penambahan pengguna angkutan masal. Rasanya ga mungkin melarang masyarakat umum non pengendara motor naik angkutan gratis ini.  Parkir kena tarif perjam (max 5rb), naik angkotan gratis ga bisa diandalkan, jadi naik angkutan umum nambah lagi ongkosnya…. makin merana saja masyarakan menengah kebawah. Bagaimana  biker mampu yang sebenernya punya mobil tapi akhirnya memilih naik motor karena sudah ga tahan menghadapi kemacetan ya akhirnya balik lagi pakai mobil… hadeww….
Ga terbayang juga bagaimana repotnya pengendara motor yang tempat kerjanya ga di ruas jalan protokol tapi melewatinya. Rute tercepat seharusnya melewati jalan protokol tersebut. Tapi kudu muter-muter cari jalur alternatif. niatnya pakai motor biar praktis dan cepat sampai kantor…. eh sekarang malah dibikin ribet…

image

Tol saja macet.... pic :tribunnews

Jiahhhh…. makin ga nyaman lagi bagi biker hidup di Jakarta…. klo bisa milih SF sendiri sebenernya ogah hidup diJakarta… namanya tuntutan kerja ya gimana lagi….
Gimana kalau diadakan aturan mobil dilarang lewat jalan protokol… berani ga? Jelas ga brani lah… yang dilarang kalangan atas . Mending nggencet kalangan bawah.
Ga usah aneh aneh deh idenya…. perbaiki saja moda transportasi masal … kalau terbukti nyaman dan aman serta menjangkau seluruh pelosok banyak pengguna jalan yang akan beralih menggunakan angkutan umum.

Beruntung dirumah sekarang ada adik ipar yang hobi nyetir… 😛 kemana-mana doi yang nyetir. Seperti MalMing kemaren saat SF sekeluarga liburan ke Ancol. Duduk manis disamping pak kusir yang sedang pekerja SF segera menyiapkan kamera SF… jeprat-jepret sana-sini akhirnya menemukan beberapa moment di jalanan Ibukota. Monggo disimak Continue Reading

Loh apa hubungannya ?
Critanya teman lama SF berdinas dikawasan plumpang-koja Jakarta Utara sedangkan rumahnya ada di Depok. Teman SF ini berencana beli motor 1 lagi untuk kerja, padahal dia sudah punya tunggangan honda megapro. Alasannya nambah motor lagi agar menyingkat waktu tempuh, menghindari macet , dan agar ga cepek…. kok bisa gitu sih?
Jawabannya ini :

image

Sumber gambar : http://macetology.wordpress.com/

Masih bingung…
Ngene loh….
Satu motor dipakai dari rumah dia ke stasiun depok, sampai stasiun depok dia titipkan motornya dan lanjut naik KRL ke Senen. Motor satunya sengaja dia tinggal di stasiun Senen, untuk sehari-harinya nganter ke kantor. Dan begitu sebaliknya saat pulang kerja. Biaya memang besar…duit beli motornya, ongkos parkirnya dan karcis kereta hariannya… jelas lebih mahal dibanding bensinnya motor… tapi badan ga capek, waktu tempuh lebih singkat, dan terhindar dari kejamnya jalanan ibukota….
Yang penting tetap semangat kerja bro…

Inilah dilema kerja di ibukota… susah cari rumah diJakarta yang nyaman bagi keluarga dengan harga terjangkau… solusinya ya cari rumah disekitaran Jakarta…
Semoga sarana transportasi umum semakin layak sehingga jadi prioritas utama bagi pekerja di Ibukota….

Posted from WordPress for Android

image

Ruwet…Jian ruwet memang ibukota ini. Sebagai pendatang di Jakarta sangat merasakan perbedaan riding di Jakarta dibanding di kota asal SF

Berikut mungkin beberapa item yang menjadi catatan harian saya selama singgah di Jakarta selama lebih dari 3 tahun

Sedikit rider roda dua maupun roda empat yang mau mengalah. Sein sudah nyala tetap ditelikung, jalan sempit masih maksa masuk, dilampu merah sodok-sodokan didepan marka jalan -penyebrang jalan jadi kesusahan nyeberang, banyak orang kesusu/ ngebut meski di jalan sempit, jalanan becek malah ngebut potong sana-potong sini.Jika Dirunut masalahnya ternyata banyak pemicunya…

salah satu hal utama adalah lokasi kerja jauh dari tempat tinggal. harga property dipusat kota yang dekat dengan tempat kerja sangat mahal… boro-boro beli .. kontrak saja muahal.  Di Surabaya dengan duit 12 jt bisa dapet kontrakan lumayan lah di Jakarta dapet Kontrakan di gang tikus (pengalaman SF kontrak di daerah Condet- makanya SF mo cari luar Jakarta 🙂 )… akibatnya semakin jauh lokasi kerja dengan rumah semakin banyak orang kesusu dijalan. Penyebab kedua : sarana prasarana jalan ga memadai misal :marka jalan ga keliatan, polisi kurang tegas dan pilih-pilih sasaran tembak, banyak jebakan lubang, diskriminasi pengguna motor, dll. Kemacetan di Ibukota ternyata menganut sistem bagi rata ya…. :mrgreen:  di jalan Plumpang semper misalnya , yang sebenernya bisa 4 jalur namun jika dari arah simpang lima macet, arah dari pasar uler ikutan macet. lah gimana… arah yang padet bisa makan 3 jalur sendiri sedangkan arah yang lancar kudu ngalah dengan disisakan 1 jalur, bahkan kadang sisa cuma setengah jalur :mrgreen: beginilah kalau ga ada pembatas jalannya.

Penyebab lainnya: ikut-ikutan ! perhatikan jam berangkat kerja dan jam pulang kerja : rame-rame lewat jalur busway, bergerombol didepan marka jalan pas dilampu merah, begitu ada yang nyolong start yang lain pada ikutan 🙂

Ada ungkapan dari rekan orang asli Jakarta : klo ngalah malah dimanfaatin orang lain. ternyata ini juga sering SF alami … ga bisa yang namanya jaga jarak dengan kendaraan didepan. ada celah dikit pasti dimasukin rider lain, kalau ga gitu yang diklakson-klakson kendaraan dibelakang dianggap menghalangi. Paling sebel kalau sudah ga ada celah rider belakang memaksa masuk… ini yang menyulut emosi! kalau diturunin diajak berantem semua ya bisa babak belur sampai dirumah :mrgreen:
image

Sebab Lain you know lah… Angkot dan metromini : antara public heroes atau public enemy ! Keberadaannya dibutuhkan orang banyak tapi juga jadi musuh pengendara lain. Berhenti seenaknya , kadang jadikan jalan raya sebagai arena rebutan penumpang .

Kerasnya ibukota ini bikin SF kudu menyesuaikan diri, defensif riding beusaha diterapkan, godaan berusaha ditepis, namun tak khayal beberapa aturan kadang SF tabrak juga. Saat jalur motor tergenang SF kudu masuk jalur khusus Mobil,  berhenti di tanda larangan berhenti untuk pakai Jas Hujan, saat jalan utama macet terpaksa masuk jalur alternatif perkampungan yang mungkin bikin ga nyaman penduduk situ,mematikan lampu utama dan pindah ke lampu senja saat macet parah agar aki ga tekor,salip kendaraan dari sebelah kiri pas kemacetan (ga mungkin lah brenti di belakang angkot saat jalur kiri cukup dilewati motor 🙂 ), dan mungkin banyak juga aturan yang SF langgar…. Blogger juga manusia ga 🙂 di Jakarta susah jadi biker yang 100 % taat aturan selagi sarana dan prasarana ga mendukung

– nah loh pembelaan ini bukannya termasuk egoisme juga ?-