kebijakan

All posts tagged kebijakan

Sangat banyak….mungkin terlalu banyak orang sekitar SF tiba-tiba jadi pengamat politik… namun ada hal yang bikin SF ingin mengkritik mereka.
Saat ini yang rame di medsos apalagi kalau bukan fans Jokowi dan Anti Jokowi….. kalau anda berada ditengah tengah mereka rasanya gimana gitu….kurang enak saat baca pemberitahuan di medsos yang hampir setiap hari isinya perang diantara dua kubu yang sering saling menebar kebencian diantara sesama. Contoh saja A dan C adalah teman dekat SF… A bikin statement politik yang nyerang C, rasanya bikin SF kurang respect sama si A . Eh si juga C bikin status yang nyerang si A, bikin SF eneg juga sama si C … lucunya A dan C tidak saling kenal satu sama lain… he3… true story ini yang bikin SF males monitoring facebook… andaikan ada filtering di facebook tentunya statement politik ini yang ingin SF ilangin centangannya 🙂 . FB bagi blogger seperti SF ini menjadi salah satu sumber inspirasi menulis. Continue Reading

image

Pembatasan beberapa ruas jalan protokol terhadap kendaraan roda dua benar-benar menghantam telak pengendara roda dua. Pengendara roda dipaksa naik angkutan umum yang konon digratiskan dengan jadwal tertentu dan kapasitas tertentu… 

Continue Reading

image

Memang aturan masih belum ada… tapi wacana telah dikemukakan petinggi Bandung dan Bogor (tapi belakangan ini malah dibantah) wacana itulah yang bikin banyak warga terhenyak …
Kebetulan dalam seminggu kemaren SF mengunjungi daerah lembang, ciater dan kota bandung… di tempat wisata tersebut mayoritas mobil berplat B… begitu juga di hotel tempat SF menginap di Lembang-Bandung… mayoritas mobil tamu yang bermalam ber plat B… jelas lah ngapain orang bandung nginep di hotel Bandung kalau ga kepepet he3…. saya yakin sama juga di daerah Puncak 🙂

Continue Reading

image

Aneh-aneh saja rencana pemkot Jakarta ini. Motor dilarang lewat di beberapa ruas jalan protokol di Ibukota? Menurut hemat SF ga bakal ngefek mengurangi kemacetan. Lah wong di tol saja yang ga ada motor juga macet kok… coba mana ada namanya jalan bebas hambatan tapi macet. Ya kalau bagi pejabat lewat situ jelas lancar lah… soale pake uwing-uwing 🙂 . Itu permasalan utama. Yang kedua pengendara yang tempat kerjanya berada di  ruas jalan terlarang bagi motor dipaksa memarkir motornya diruas jalan tersebut. Pemkot bakal dapat duit dengan menyediakan kantong parkir… tarif perjam Rp1000 tarif max. Rp5000.

image

Selanjutnya, pengendara motor akan disediakan angkutan gratis.. dengan kondisi sekarang saja orang masih harus berdesakan dan nunggu angkutan umum begitu lamanya. Jika motor dilarang ga terbayang penumpukan penumpang dan anarkisme penumpang rebutan angkutan 🙂 okelah pemkot bersedia menyediakan tambahan angkutan gratis… tapi apa mencukupi dengan penambahan pengguna angkutan masal. Rasanya ga mungkin melarang masyarakat umum non pengendara motor naik angkutan gratis ini.  Parkir kena tarif perjam (max 5rb), naik angkotan gratis ga bisa diandalkan, jadi naik angkutan umum nambah lagi ongkosnya…. makin merana saja masyarakan menengah kebawah. Bagaimana  biker mampu yang sebenernya punya mobil tapi akhirnya memilih naik motor karena sudah ga tahan menghadapi kemacetan ya akhirnya balik lagi pakai mobil… hadeww….
Ga terbayang juga bagaimana repotnya pengendara motor yang tempat kerjanya ga di ruas jalan protokol tapi melewatinya. Rute tercepat seharusnya melewati jalan protokol tersebut. Tapi kudu muter-muter cari jalur alternatif. niatnya pakai motor biar praktis dan cepat sampai kantor…. eh sekarang malah dibikin ribet…

image

Tol saja macet.... pic :tribunnews

Jiahhhh…. makin ga nyaman lagi bagi biker hidup di Jakarta…. klo bisa milih SF sendiri sebenernya ogah hidup diJakarta… namanya tuntutan kerja ya gimana lagi….
Gimana kalau diadakan aturan mobil dilarang lewat jalan protokol… berani ga? Jelas ga brani lah… yang dilarang kalangan atas . Mending nggencet kalangan bawah.
Ga usah aneh aneh deh idenya…. perbaiki saja moda transportasi masal … kalau terbukti nyaman dan aman serta menjangkau seluruh pelosok banyak pengguna jalan yang akan beralih menggunakan angkutan umum.

Loh kok terutama honda…? Ane FBH kah? he3… sakkarep… :mrgreen:

Logikanya gini harga BBM naik untuk pengguna mobil pribadi sangat memungkinkan terjadi pergeseran pengguna kendaraan bermotor. pasti ada pemakai mobil beralih ke motor untuk mengejar efisiensi. disini Pabrikan motor meraup keuntungan karena penjualannya naik. Yang berfikir cari efisiensi sekalian cari motor yang irit… Nah image irit selama ini melekat pada motor honda. Padahal kenyataan dilapangan selisih iritnya ga banyak dengan pabrikan lain… paling cuma beberapa tetes :P. Itu yang pertama.

Yang kedua… pengguna motor makin banyak bikin antrian sewaktu beli BBM makin mengular, nah disini motor bertangki besar makin dibutuh kan… kelas sport irit bakal diburu. lagi-lagi orang terbius oleh klaim Honda Verza yang suangat uiritt katanya, belum lagi Honda juga punya jajaran motor bebek dan matik bertangki besar 5 liter keatas. Eh ya yang bisa beli mobil tentu gampang beli Vixion yang juga terkenal irit (ini pendapat masyarakat umum klo bisa beli mobil duitnya mesti banyak). Tapi tetep saja pengguna sport terhitung segelintir dibanding matic 🙂
Orang-orang yang males sering antri bensin ya milih yang jarang isi bensin alias bertangki besar serta irit.
yah memang semua itu belum terbukti… cuma teoritis saja. Kenyataannya di lapangan sangat bisa berbeda. bahkan mungkin ga berimbas banyak masalah kebijakan bbm ini.

Sedikit tambahan.. sekedar itung-itung kenaikan beban biaya hidup yang ditanggung rekan yang sehari-hari naik mobil. Rumahnya berjarak 35KM, sehari menempuh 70 KM menghabiskan sekitar 7 liter bensin. tambahan biaya hariannya sebesar (6500-4500) X7liter = 14 rb sebulan dikali saja 25 ya sekitar 350 rb sebulan. lumayan ternyata kenaikannya…
pengen tahu berapa cicilan mobil rekan SF tersebut tiap bulannya? hampir 3.5 jt! selama 5 tahun…(mobil seharga 130jt) belum lagi cicilan rumah, biaya sekolah anak-anaknya, dll… So dibanding kita-kita pengguna motor bisa jadi duitnya masih lebih banyak kita kan… he3…

sumber: www.antarasumut.com

Bagi SF sih ndak ngefek lah wong si taruna sendiri sehari-harinya dikurungi dirumah. keluarnya juga seminggu sekali. Rencana memang si tarubi ini kegunaan utamanya buat mudik ke Surabaya. Lain halnya bagi-rekan-rekan SF yang tiap hari pake mobil. Alasan utama mereka memakai mobil untuk transportasi sehari-hari adalah untuk kenyamanan perjalanan jarak jauh dan bisa masuk tol sehingga bisa menyingkat waktu tempuh. Saat premium seharga Rp. 4500/ liter saja terasa berat bagi mereka apalagi jika naik Rp. 6500/liter makin berat saja ongkos transport sehari-hari. Mau ganti motor ga semua orang mampu menempuh jarak berpuluh-puluh km di Jakarta. Naik angkot banyak yang kurang merasa nyaman, waktu tempuh juga akan bertambah. Jadilah dijalani saja kebijakan yang ada meskipun kantong sedikit menipis… Banyak masyarakat umum beranggapan mampu beli mobil harusnya mampu beli pertamax… eitsss… tunggu dulu. bisa jadi pemilik mobil (terutama mobil entry level) ga lebih banyak duitnya dibanding pengguna motor lah wong mereka dibebani cicilan mobil tiap bulannya 🙂 jadi kenaikan premium untuk mobil Rp. 2000/ liter bikin beberapa golongan pemakai mobil sedikit pusing rebudgeting lagi dana yang ada.

sumber : liputanbisnis.com

gambar dari google (lupa sourcenya 🙂 )

komentar dari salah seorang rekan SF “sebenernya gapapa sih harga bensin mobil pribadi naik jadi Rp.6500/liter asalkan oktan sedikit naik. jadi Pemerintah dan masyarakat pengguna mobil pribadi sama-sama diuntungkan. subsidi BBM berkurang mobilpun lebih awet. Konsumsi bensin mobil juga sedikit irit jika oktan dinaikkan”

Sepertinya banyak yang legowo jika pencabutan bensin subsidi diikuti naiknya oktan. tapi jika kebijakannya dua harga Rp 4500 untuk motor dan angkot sedangkan Rp 6500 untuk mobil pribadi dengan nilai oktan sama (88) akan banyak penyelewengan yang terjadi.
Yang sedikit SF kuatirkan nantinya pengusaha bensin eceran bakal menghilang dimuka bumi, padahal keberadaan mereka sangat dibutuhkan. SF saja sering ngisi disini karena bebas antri. ga kaya pertamina yang kacau manajemen antrinya. Jika meski mereka masih di ijinkan beroperasi kuatirnya selalu kehabisan stok karena diborong pengguna mobil pribadi.

Kita tunggu saja perubahan apa yang terjadi pasca 1 Mei besok… Apakah pengguna mobil berkurang?, pengguna motor bertambah didiringi naiknya pangsa motor di Indonesia?, pengusaha bensin eceran tidak beroperasi atau ikutan menaikkan harga…. ????? mbughh kahhh dienteni ae…