Yamaha HTR-2071 amplifier 5.1 ajib buat pecinta cinema. Settingan lengkap untuk segala kondisi

Yamaha diluar dunia roda 2, juga ga bisa dianggap ecek-ecek. Termasuk urusan Audio. Alasan ini yang bikin SF meminang HTR-2071 untuk disandingkan dengan speaker satelite bawaan logitech Z607 yang bermasalah unit pemrosesan audionya.

Speaker bawaan Logitech Z607 masih bisa diselamatkan

Harga Amplifier Plus speaker yamaha memang tergolong mahal. Ada hikmah dibalik rusaknya Z607 SF. Speakernya ternyata masih dapat disandingkan dengan amplifier yamaha. 5 speaker imut logitech plus 1 buah subwoofer aktif normal jalan tanpa ada masalah disandingkan dengan Yamaha HTR-2071

Coba kita intip apa saja sih fitur amplifier Yamaha HTR-2071

SF highlight saja ya….

– support dolby 5.1, front left/right, surround left/right, centre, 2 channel subwoofer (aktif/pasif)

– input digital (4hdmi,1opt,1coax) dan analog

– sudah HDMI Arc jadi sudah bisa sinkron dengan TV output yang juga sudah support HDMI arc. Apa sih HDMI arc itu? Penjelasan saya yang pemula soal audio : saat TV mati amplifier yamaha ikutan mati, tombol volume di TV juga tersinkron dengan volume di amplifier

– ada settingan output speaker yang dipakai. Masing-masing channel bisa dipilih memakai “large speaker” atau “small speaker” . Settingan “large” sepertinya arusnya lebih besar khusus untuk speaker box yang ada bassnya, sedangkan settingan “small” khusus untuk speaker satelite yang ukurannya kecil yang lebih mengkhususkan suara menengah dan tinggi. Hati-hati jangan salah setting kalau ga ingin speaker jebol. SF sempat setting large buat satelite bawaan logitech, untung volumenya kecil jadi ga bikin speaker jebol.

– Virtual front. Apalagi ini? Afdolnya penataan speaker surround 5.1 yang dianjurkan adalah speaker depan dan centre ditaruh depan sedangkan speaker surround penempatannya dibelakang. Nah dengan virtual surround ini , semua speaker cukup ditaruh depan. Softwate cantik yamaha akan memvirtualkan seolah sumber suara ada disekeliling penonton.

– equalizer berbagai mode music, scifi,adv,sport,hall,drama, bisa juga diset manual

– radio FM

– ada juga settingan untuk profesional, berapa jarak masing-masing speaker denagn penonton, bahkan gokilnya masing-masing speaker bisa difilter frekwensinya. Klo ini SF pass saja ga berani setting rubah frekwensi. Palingan komposisi volume masing-masing channel.

Review Suaranya gimana? Jauhhhh dibanding kondisi standar Z607. Berkat input digital ampli yamaha dan settingan yang sangat lengkap, benar-benar meningkatkan performa speaker bawaan logitech. Awalnya SF sanksi speaker logitech ini abal-abal, eh ternyata mumpungi juga. Distorsi jadi hilang (karena z607 masih analog), suara vokal yang dihasilkan speaker centre lebih jelas, mid maupun high tone lebih crispy tapi ga bikin telinga sakit. Nahhh kekurangannya ada pada suara bassnya… bukan salah yamaha. Ini karena SF memakai subwoofer aktif Logitech Z607 sebagai sumber bassnya. Sekitar seminggu SF pakai settingan ini , agak repot karena subwoofer ga ikut mati saatย  ampi yamaha mati. Lebih repot lagi kalau pas lampu mati, settingan subwoofer kereset. Jadi kudu atur ulang volume subwoofernya agar balance. Overall bassnya juga terlalu straight… kurang memenuhi ruangan. Teringat SF punya speaker set kenwood lawas umurnya lebih dari 25 tahun ๐Ÿ˜„ . Iseng SF pasang dichannel subwoofer pasifnya yamaha , 2 speaker SF jadikan satu dan colok ke output pasif woofer. Voilahhh… ajib suaranya. Dalem dan merata.

Seharusnya paling pas speaker kenwood ini terpasang di channel depan kanan kiri dan set ampli ke settingan “large” , karena Begitu SF pasang hasilnya luar biasa. Tapi karena bodi speaker dah amburadul serta SF kudu gantung speaker ini jadi SF urungkan niat.

Overall tak salah pilih SF memakai yamaha HTR-2071, tak perlu harga mahal untuk surround set (karena Pakai speaker set bekasnya logitech dan kenwood) , setting lengkap , dan suara yang dihasilkan lumayan banget dibanding bawaan Logitech Z607. Ada 2 kelemahan utama amplifier yamaha ini. Belum ada koneksi bluetooth dan yang terakhir tidak ada colokan mic… too bad ga bisa buat karaoke deh…

Memang settingan SF ini belum optimal. Minimal speaker Front Left/Rightnya ga memakai satelit. Cocoknya full speaker (set woofer low/Mid/high). Lalu Subwoofernya mending pakai 1 speaker bass diameter besar dibanding 2 yang kecil-kecil. Pasti lebih jedhuk Dharrr… ๐Ÿ˜„

Parkir jejer Aerox, tetep saja Nmax pilihan utama

Mumpung malam minggu, SF riding sore bareng Bunda sekalian cari tempat servis HP. Lah kok ketemu resto steak yang baru buka. Ya wis urusan perut diutamakan. ๐Ÿ™‚

Kebetulan SF parkir deket Aerox. Bunda yang biasa cuek , agak lama mengamati Aerox dari dekat. “Kok gedhe ya, kok dulu ga milih ini sih . Keren loh motornya” katanya. Sembari nunggu makanan, SF nanya ke bunda, apanya yang bagus soal Aerox. Sporty jawabnya. Dari belakang malah ga ngira kalau ini motor matic. Gedhe banget.

Continue reading “Parkir jejer Aerox, tetep saja Nmax pilihan utama”

Review Xiaomi Mi Max 3, Monster yang bermata jahat

Seperti sebelum sebelumnya, prioritas SF dalam membeli HP adalah baterai monsternya. Pilihan ada pada Asus Max Pro, atau Xiaomi Mi Max 3. Setelah baca review sana sini SF putuskan ambil Xiaomi Mi Max 3. Simak saja alasannya

Keraguan awal adalah soal layarnya yang 6,9″ apakah nyaman buat browsing, ngegame, dan nemenin aktivitas mancing?

Continue reading “Review Xiaomi Mi Max 3, Monster yang bermata jahat”

Reel Overhead Leverwinder Penn Fathom 20LWLH vs Kenzi Marine KZ300, Bisakah Reel Pahe mengalahkan Reel Tenar?

left :kenzi marine, right :Penn Fathom

Penn punya reputasi bagus dikalangan angler, produk ini terkenal daya tahannya. di kelas overhead Peen Fathom masuk jajaran medium. kebetulan kali ini SF berkesempatan menikmati reel ini. Sebagai pembanding ada Kenzi Marine seri KZ300. Reel ini menggebrak pasar Indonesia dengan harga super miringnya. Oke mari bikin perbandingan serta review kedua reel ini.

Continue reading “Reel Overhead Leverwinder Penn Fathom 20LWLH vs Kenzi Marine KZ300, Bisakah Reel Pahe mengalahkan Reel Tenar?”

Reel OH Leverdrag VS Stardrag, mana yang lebih baik?

Overhead reel keunggulannya jauh melebihi spinning reel. yang bikin OH kalah dari spinning reel adalahย  OH reel susah untuk dibuat melempar umpan dengan jarak jauh.

secara umum Reel OH dilihat dari jenis pengatur drag/ remnya ada 2 jenis. stardrag dan leverdrag. mari bahas satu satu, kebetulan nih SF pernah punya kedua jenis ini. meski ga semerk dan beda rasio, tapi sedikit banyak bisa jadi gambaran.

 

Stardrag reel

 

Penn fathom, Kenzi marine

Continue reading “Reel OH Leverdrag VS Stardrag, mana yang lebih baik?”

Mensiasati rute mancing melewati medan offroad, Ertiga sedikit disesuaikan

suzuki ertiga ban 195/65-15

sekitar 2 minggu lalu SF mancing ke Pakis Karawang menggunakan ertiga. beberapa KM sebelum pantai jalannya rusak parahhhh…heran juga SF kok bisa ya tempat wisata rutenya kaya gini. padahal sekitarnya perkampungan nelayan yang tergolong padat. sekitar 2-3 kali, bagian bawah ertiga yang ditumpangi 5 dewasa dan peralatan mancing gasruk kontur tanah yang rusak.

Continue reading “Mensiasati rute mancing melewati medan offroad, Ertiga sedikit disesuaikan”

Mengapa Memilih Xiaomi Amazfit Pace?

Kelanjutan artikel kemaren perihal Tips memilih smartwatch ,

Kali ini SF bahas kenapa SF menjatuhkan pilihan ke Xiaomi Huami Amazfit Pace… monggo disimak kali saja kepincut ๐Ÿ™‚

amazfit pace upgrade strap stainless

 

Seharusnya dengan budget yang sama , SF akan mendapatkan smartwatch yang jauh lebih canggih dengan sistem operasi Android. tapi sayang merknya ga jelas. ๐Ÿ™‚

Untuk memilih smartwatch yang cocokย  SF bikin daftar kebutuhan dan prioritas SF akan sebuah smartwatch. Smart watch yang SF butuh kudu memenuhi unsur berikut :

1. Awet baterainya .

ini jam bukan HP… masak jam di cass tiap hari. maunya sih yang awet bisa dipakai semingguan tanpa ngecass, biar ga repot klo mancing lama dilaut . kalau pake OS android apalagi yang stand alone sepertinya bakal boros.

2. Layar always on.

cukup aneh saat melirik jam tapi layarnya mati. meski smartwatch umumnya auto on saat layar jam digerakkan menghadap wajah, tapi tetap saja SF kurang suka punya jam berlayar blank. SF perlu yang setiap saat bisa dilihat, cukup dilirik ga perlu menggerakkan tangan/pencet tiap saat ingin lihat jam. lagi – lagi smartwatch bersistem operasi kudu SF coret dari pilihan. agak lucu juga di lihat orang awam, jam mati kok dipakai ๐Ÿ™‚ (padahal mahal loh :mrgreen: )

3. Push message.

SF ga butuh smartwatch stand alone yang pake sim card sendiri agar fiturnya dapat terpakai semua. ribet piara simcard tambahan untuk berinternetan atau berbalas WA di jam. Terbayang begitu imutnya huruf di keyboard touchscreennya. SF lebih butuh push message dengan koneksi bluetooth. fungsi ini penting sekali. SF bisa monitor pesan di HP dengan sekelebat melihat layar jam saat berkendara. ga perlu berhenti merogoh HP untuk melihat pesan WA dari Bunda yang kepengen dibelikan martabak telor pas pulang kerja. push message juga sangat dibutuhkan saat trip mancing. ga lucu pas ribet mancing kudu buka2 HP untuk membaca pesan penting. resiko nyemplung tuh HPnya. lebih aman HP tetap di tas.

4. Tahan air

maklum sering buat mancing, naik motor hujan-hujan dll. minimal bersertifikasi IP67

5. bahan tali everlasting dan ga bikin alergi

jam SF semuanya ber strap/tali jam bahan stainless. SF coba bahan karet atau kulit sering bikin pergelangan tangan gatal. juga meninggalkan bekas dipergelangan tangan. paling ga jam nantinya akan mudah diganti-ganti talinya.

beberapa merk ternama terpaksa SF hapus karena borosnya dan layar mati (juga harganya yang jauh melebihi HP SF :mrgreen: ) . sempat terpikir model monochrome tapi sayang notifikasinya cuma ada pesan / telpon masuk tapi tidak bisa melihat isi pesan

awalnya pilihan jatuh ke amazfit BIP … baterai gokil, klaimnya sampai 45 hari sekali charge . jam ini dipakai juga oleh Bunda Faiz dan emang gokil… 2 minggu pake baterai masih 70% dengan kondisi siang konek HP malam ga dikoneksi namun posisi jam selalu nyala.

cukup disayangkan. bentuk amazfit BIP kotak dan terlalu imut untuk pergelangan “babon” SF. cancel dah… Bunda juga ga mau dikembarin.

akhirnya SF pilih saudaranya yakni Xiaomi Amazfit Pace. why???? these are the reasons : Continue reading “Mengapa Memilih Xiaomi Amazfit Pace?”

Ternyata sudah ada velg aftermarket Nmax diameter 14″. Pertimbangkan dulu untung ruginya

Salah satu yang bikin pengguna Nmax terhadap Aerox adalah ban belakang yang diameternya lebih besar.

Apa sih keuntungan roda besar? Velg dan ban lebih besar artinya meningkatkan kemampuan motor  melahap kontur jalan ga rata, daya cengkeram roda juga bertambah.

 Iseng-iseng SF googling apakah bisa Nmax yang basis mesinnya sama dengan Aerox diganti velg 14″. Ternyata malah ketemu penjual velg lebar aftermarket untuk Nmax dengan diameter 14″…. monggo ubek2 saja toko online… gampang nemunya… 


wohhh… sempat kepikiran dan kebawa mimpi kalau Nmax bakal ganti sepatu baru yang lebih kekar… 

namanya mimpi logikanya disingkirin dulu…. ๐Ÿ™‚

Nah begitu sadar SF berusaha memikirkan konsekwensinya jika velg dan ban bawaan Nmax diganti 

1. Beban motor jelas bertambah. lah velgnya tambah kekar, bannya juga lebih gambot…. belum lagi velg besar bikin rasio berubah. Nah mungkin bisa disiasati dengan penggantian roller agar laju Nmax tetap enteng. Ada resiko juga spedometer bakal ga akurat

2. Velg aftermarket kualitasnya belum teruji.

3. Ganti diameter velg otomatis ban lama kudu disingkirin costnya nambah.

4. Nmax telah didesain memakai velg 13″. Ada keraguan bagi SF, bisakah velg 14″ dengan ban yang lebih gambot muat di kolong Nmax tanpa ubahan . Let say produsen velg aftermarket sudah meresearchnya dan menjamin OK…. satu lagi yang bikin gamang…. Nmax SF telah memakai shock belakang yang jauh lebih empuk dibanding bawaan Nmax… sehingga jarak main shock bertambah artinya saat beban penuh dan kena polisi tidur apakah velg dan ban lebih besar ga gasruk spakbor… berarti soal ini kudu nunggu pengalaman pemakainya.

5. 1 lagi yang utama yang bikin SF langsung mengurungkan niat mengganti velg Nmax. Ketinggian motor akan bertambah… memang lebih OK buat jalan bergelombang dan polisi tidur… tapi menciptakan masalah baru… SF mungkin ga masalah ketinggian motor bertambah… lah nyonya kan juga sering pakai motor ini… sekarang saja Nmax dianggap sedikit ketinggian… lah kalau nambah tinggi bisa protes doi…. ! 

Jadi…disimpan erat erat gedhein velg Nmax…. 

Bagaimana kesan pengguna scoopy saat pertama kali jajal Nmax

Bang Broer , disebelah kiri Admin
Seorang kenalan mancing SF yang dalam kesehariannya pengguna scoopy mengungkapkan kesannya setelah menempuh perjalanan 139,4km baik sebagai boncenger maupun sebagai rider. Sebut saja sobat SF ini Broer, pemilik sebuah warung nasi bebek yang rasanya top markotob (cieee nunut promo nih :p ) dilingkungan kerja SF di kalibata.

Bang Broer : dibonceng malah lebih pegel

Sebagai boncenger kesan bang broer cukup jelas….kurang nyaman! jok terasa tipis dan keras, posisi boncenger juga kurang rilex. 

Sebagai rider , pengguna scoopy ini cukup kaget dan sangat terkesan dengan Nmax. Awalnya doi sempat berfikir motor bakal terasa gambot/berat. Saat mencobanya sendiri, kesan gambot dan berat langsung sirna… setang lebar bikin handling motor terasa enteng meski membonceng SF yang bobotnya selisih puluhan kilo lebih berat :mrgreen: biasanya motor akan njomplang dan gedhek jika boncenger jauh lebih berat… ini tidak terjadi pada Nmax. 

Performa Nmax tak kalah bikin Bang Broer terkagum… akselerasi seakan tanpa jeda mengail tenaga… meski bawa beban berat motor masih responsif  untuk menyalip kendaraan lain. Pengereman jauh lebih pakem dibanding beberapa motor skutik yang pernah dicobanya. Di suatu tikungan Bang Broer mencoba untuk manuver mereng mereng…. jiahhh kalau pas pake scoopy jelas saya ga brani gini katanya. 

SF yang diboncengnya , beberapa kali dibuat ketar ketir karena Bang Broer nekat manuver nyalip paksa dan beberapa kali ngerem mendadak. Disini Bang Broer sempat menyatakan ketertarikannya menukar scoopy dengan Nmax…. 

Beberapa KM sebelum sampai kediaman SF, kami melewati jalanan macet… nah disini SF merasa Bang Broer yang tinggi badannya sekitar 160cman agak kewalahan menjaga keseimbangan Nmax. Kedua kakinya nampak diturunkan saat merambat pelan. Posisi duduknya terasa agak maju. Baru dia nyeletuk… ternyata kalau buat macet repot ya ….” kalau macet gini enakan scoopy saya” katanya ๐Ÿ˜†  ” buat harian repot sepertinya ya?” Tanya bang broer ke SF…. 

“Kalau sudah biasa ya enak enak saja… cuma memang ga lincah dikemacetan ” jawab SF

Sesampai kediaman SF, Bang Broer kembali bertanya “berapa harga Nmax sekarang? ” karena SF dah ga mengikuti perkembangan harga motor, SF jawab sekenanya kalau harganya hampir sama dengan vixion atau CB150. “Mending Nmax kemana mana donk”

Pesimis soal roda scoopy baru 12″, nyatanya malah berkebalikan

Artikel kritik honda yang mengeluarkan Scoopy memakai ban 12″ sudah hampir selesai dan siap publish… isinya mempertanyakan keputusan honda kenapa pakai ban berdiameter kecil… kan banyak kerugiannya… GC turun bikin motor gampang gasruk poldur dan ga tahan banjir, ban motor juga juga lebih gampang kejeblos lubang dan sensitif terhadap jalan ga rata.

Untung SF baca-baca dulu soal  scoopy baru ini. 

Diameter velg memang mengecil dari 14″ jadi 12″ tapi ban jadi jauh lebih gambot (lebih tebal dan profil tinggi). Akibatnya diameter luar ban ga beda jauh dengan versi lama. Bahkan scoopy baru ini GCnya 143mm alias lebih tinggi 3% dibanding scoopy lawas.

Strategi cerdas dari honda… tampilan makin stylist, buat nikung lebih safety, kontur jalan makin teredam oleh karet ban, dan motor sedikit lebih aman dari poldur.

Tapi bukan tanpa kelemahan ya… ban gambot perlu perhatian lebih terutama mengenai tekanan anginnya… kurangnya tekanan angin dikit saja pada ban gambot bikin motor berat larinya… boros deh….