Enak ga enaknya jika ER250c berbasis N250Fi

Enaknya jelas…
+common partsnya banyak, harga bisa ditekan
+aura ninja yang fiercefull masih tersemat, secara desain dan karakter mesin.
+mogenya jelas lebih kerasa… suara engine 2 silindernya ga teredam fairing, jadi mestinya makin gaharrrr!!!!
+ga kuatir fairing lecet di parkiran
Dll
Namun dibalik itu perlu diingat… 2 motor ini beda aliran yang satu sport fairing yang satu naked. Image dikalangan umum motor sport fairing cocoknya untuk ngejar speed (sebenernya itukan tujuan fairing diciptakan 🙂 ) sedangkan naked menonjolkan simplisitas alias kesimpelan. Secara ergonomi motor sport fairing identik dengan riding position yang sedikit nunduk (jelas lebih nunduk dibanding tiger SF 🙂  Cuman ada beberapa aliran naked sporty seperti street fighter atau yang lagi “in” cafe racer. Ga enaknya jika ER250C mengambil desain N250Fi versi naked riding positionnya, ergonomi , maupun kenyamanan persis kaya N250Fi. Karakter mesinnya juga ga beda jauh.

So ga enaknya :
1.Karakter engine buat stop N Go kurang beringazzz, mintanya putaran atas. Mungkin bisa di akali dengan setting ulang ECU yang menonjolkan torsi namun ada kemungkinan power drop. Pas untuk differennsiasi antara N250Fi dan ER250c
2. Posisi riding sama ga nyamannya seperti N250. Pengalaman SF boncengan pake si bolot dengan nyonya sedikit jauh saja sudah bikin ga nyaman, jok keras dan tipis, trus boncenger meluk rider, ditambah lagi kalau ada penyakit brutu , silahken banyangin sendiri. :mrgreen:. Sepertinya N250fi ga beda jauh ga nyamannya. Sedikit koreksi ergonomi mungkin bisa ganti sektor kemudi dengan setang non jepit seperti kakaknya ER6. Untuk boncenger ya terpaksa pasrah 😀
3. Bagi sebagian orang prestige mungkin sangat penting… nah takutnya ada image ER250c adalah versi pahe dari N250Fi… bagi ane…. emang orang lain harus bilang ” WOOWWW” gitu? 😆

Klo di motor Vespa kalau mobil ya VW….

image

Luar biasa memang loyalis kedua kendaraan ini. VW untuk roda empat dan Vespa untuk roda dua. Ada kesamaan dari para penggunanya… jiwa saling memilikinya besar broo…!!! bukan hanya memiliki kendaraannya tapi cenderung sudah menganggap satu bagian dari brand itu sendiri. Saat ortu masih pengguna VW combi dan Kodok, setiap kali bertemu/ berpapasan dengan pengendara VW lainnya selalu saling bertegur sapa entah dengan kedipan lampu ataupun dengan klakson. Sekali pengalaman dapat musibah Combi ortu patah as depannya pas masuk kota Jogja, dan motor langsung masuk jalur berlawanan sampai akhirnya nangkring di Trotoar arah kanan (untung jam 4 pagi, masih sepi). eh ndilalah ketemu sama pengguna VW combi dan kita ditawari as  depan Gratisss !!!! 😀
hal yang sama diceritakan oleh teman kerja penguna vespa saat per ayun depannya patah doi dibantu oleh sesama pengendara vespa yang lewat.

image

Kesamaan fisik vw dan vespa juga banyak : sama-sama klasik, sama-sama semog alias bahenol,  dan sama-sama nyaman dikendarai (empukknya mantabbb)

jadi nyesel saat menolak dihibahi vw combi tahun 78 milik ortu , tak lain karena rumah kontrakan di Jakarta ga ada garasinya dan untuk nyewa rumah bergarasi cukup mahal 🙂  akibatnya VW combi itu dijual setelah sempet 4-5 tahunan nganggur karena sudah beli panther yang lebih irit . Mobil itu terjual kepada penghobi dari Semarang yang bela-belain langsung datang ke Surabaya naik kereta, begitu deal langsung combinya dibawa turing ke Semarang dengan cuma ganti oli dan isi angin ban :mrgreen: nekaddd….. ! Nyampe Semarang orangnya langsung telpon dan mengungkapkan terima kasihnya karena mesin masih joss dan tanpa kendala apapun sampai ke Semarang dengan selamat ( padahal 4 tahun ga jalan loh). Hadewww… jadi kangen sama VW Combiku .