Mesin 1 silinder kurang bersaing, KTM memutuskan suntik mati Duke 690

image

Kalau di Indonesia Duke 200 menjadi $duka$  bagi penggemar motor dual purpose pasalnya harganya nggilani mendekati motor 2 silinder! Otomaris penjualannya ga seberapa gemilang πŸ™‚
Sang kakak… Duke 690 mengalami problem hampir sama… kalah pamor dengan pesaingnya yang  dengan CC setara rata-rata menggunakan mesin multi silinder…
Karena itu pabrikan asal Austria ini akan mengakhiri karir Duke 690 dan berencana menggantikan dengan Duke 790 yang berbasis mesin 2 silinder..

Continue reading “Mesin 1 silinder kurang bersaing, KTM memutuskan suntik mati Duke 690”

Duke 200 di India ga terlalu superior…

image

SF sempet ngiler sama motor ini… Pernah sekali melihat penampakannya di depan kantor… lumayan menggoda, meski dimensinya ga sebesar yang SF bayangkan.
Continue reading “Duke 200 di India ga terlalu superior…”

Hobi motor (koleksi)? sayang kalau brand minded

Motor bagi sebagian orang sudah melebihi ranah kebutuhan akan transportasi melainkan sudah menjadi hobi bahkan lifestyle. Bagi yang beruntung kebutuhan utama sudah terpenuhi dan ingin mencapai kepuasan lebih pada dunia permotoran sangat disayangkan jika punya mindset motor merknya harus A, B atau C saja, yang lain ogah…! Hal ini sebenernya ga bisa lepas dari mindset yang terbentuk sedari kecil. Sekedar flashback Ortu SF adalah maniak honda, mulai dari honda C90, Prima, Grand, hingga sekarang Karisma. Alhasil SF sempet terpengaruh. MungkinΒ  itu juga jadi salah satu pertimbangan saat SF beli Tiger (motor pertama beli pake duit sendiri), maklum juga saat itu juga tiger ga ada pesaingnya. Bertahun-tahun kemudian SF mulai rajin membuka blog dan Bbbyarrrrr…!!!! mata hati jadi terbuka lebar. Ternyata kelebihan merk lain banyak yang ga dimiliki tiger, Scorpio misal kenceng dan monoshock, atau Vixion yang irit, kenceng, ringan…. atau Pulsar yang irit, murah dan alusss mesinnya, dll.
Ga mau terjebak dalam merk suatu produk yang tertanam dalam benak, SF berusaha berfikir logis sebelum meminang motor kedua dan ketiga.Β  Motor kedua beli saat kondisi ekonomi masih belum mapan, dengan berbekal duit 6 jutaan ingin membelikan istri motor matic. Setelah cari info kesana kemari pilihan jatuh pada suzuki spin yang terkenal ringan, ga seberapa boros dan murah meriah, pas deh duit 6 jt abis buat motor, biaya restorasi, dan balik nama.
image

Nah selanjutnya saat ada rejeki lebih ingin naik kelas ke 250. Pilihan saat itu ada CBR dan Ninja, kenapa ga pilih CBR…. ???balik lagi pertimbangan logis SF. Ane mencari motor hobi bukan motor sehari-hari, kepuasan dan sensasi beda saat riding benar-benar diutamakan, jadi …taukan alasan kenapa akhirnya saya pilih Ninja!? πŸ™‚ Jika SF brand minded dan memaksakan salah satu merk mungkin ga bisa mendapatkan motor apa yang sebenernya memenuhi kebutuhan. Nah itu pendapat SF untuk motor hobi(motor kedua)…
Untuk motor harian gimana…? Ya…ga bisa nyalahkan juga jika mempertimbangkan brand/merk, karena semakin kuat brand semakin terjamin parts dan servisnya.

ER6 moge lemot?

image

image

image

Jam istirahat,SF biasanya milih tetep diruang kerja sambil mainin tablet untuk bikin artikel dan merespon komentar yang masuk. Tiba-tiba mantan bos telpon ( orang ini yang Intruder, fireblade, dan KLX 250nya pernah SF testride dulu). Wah…. pasti ngiming-imingi ane lagi nih. Nah bener juga….
, kegemarannya main di gokart sementara berhenti dan sekarang memperdalam hobi lain koleksi motor !!! Tercatat koleksi barunya disamping beberapa moge yang dulu yang dipunyai telah bertambah beberapa unit, mulai R1, seri2 KTM dari yang 70 cc 2 tak , 450cc hingga 650cc big single, husqvarna juga ada, dan yang terbaru ER-6. Wahhh… motor idaman ane nih. Segera ane korek informasi soal ER6 ini. Menurut bos yang juga punya ferari ini,Β  ini motor paling ga berkesan… πŸ™ tarikannya lemot, sensasi ga ada beda dibanding ninja 250 cuma sedikit garang saja, nafasnya kepanjangan tapi speednya ga naek-naek, padahal sudah modif knalpot racing belasan juta…. malah menurut dia masih kalah sama KTM 450, apalagi dibanding KTM 650 . (ya jelas motor trail tarikannya edian). He3….
waduhh… motor idamanku dibilang lemot :mrgreen:, menurut dia sayang kalau ninja 250 cc upgrade ke ER6…. akhir kata . Yo wis Ko!.. entar kalau bosen dilempar ke ane saja, tak beli dah separuh harga. Eh doi cuma ngakak. πŸ™‚ Kqkqkqkkq…… πŸ˜†Β Β 
Kliatannya saat mudik ke Surabaya wajib dikunjungi nih temen satu ini πŸ™‚

Masyarakat awam taunya cuma pabrikan Jepang, pabrikan lain ga minat!

image

Itulah kondisi real pengguna motor mayoritas kita. Keputusan beli motor didasarkan kemampuan aftersalesnya dulu. Bagaimana jaminan servis, suku cadang dan terutama harga jual kembali. Urusan teknis belakangan…. πŸ™‚Β  Tak peduli setinggi apapun value of money sebuah motor kalau merknya bukan Honda atau Yamaha ya ga dilirik. Jangan samakan dengan para pengunjung blog ya.. saya yakin bisa taulah mana-mana motor dengan value of money paling bagus. Kaum biker enthusiast ga semuanya terbuka dengan semua merk loh… coba baca komen warung yang sering kebakaran. Sebagus apapun motor lawannya ya pasti dicari cacatnya. :mrgreen:
Kembali ke topik. Mari kita berkaca pada fakta…. bandingkan pulsar 200 dtsi (lama) dan tiger. Power menang bajaj, irit menang bajaj, technologi menang bajaj, harganya juga lebih murah bajaj. Tapi motor apa yang lebih laku? Contoh lain P180 lawan NMP atau byson atau vixion!?
Terutama untuk motor harian, masyarakat pada umumnya lebih percaya pada merk Jepang. Sudah mendarah daging, nyoba merk baru saja enggan. (Jangankan bajaj, merk setenar piaggio pun susah jualan disini, kenapa ? Aftersales bro! Rasa kuatir memang manusiawi. Saat beli motor buat harian,( apalagi bakal jadi motor satu-satunya dirumah) pasti mikir servisnya yang deket rumah mana ya, sparepartnya gampang dicari gak ya, kalau ada kebutuhan mendesak apa motor masih tinggi harga jualnya? Konsumen seperti ini ga mau ambil resiko. Beli motor kenceng, canggih,irit, murah tapi kalo rusak nunggu berhari-hari ketersediaan partsnya, mau kerja/sekolah naik apa?
image
Rider yang ga suka ganti-ganti motor mikirnya malah juauhhh kedepan, extreemnya gini… motorku 10 tahun kedepan nasibnya gimana ya? πŸ˜†
Sebagai pengguna honda Tiger, SF sangat menyadari keuntungan beli motor ini tahun 2004 silam, sudah 7 tahun berjalan kalau ada kerusakan parah (misal sampai bongkar mesin) tinggal ke toko sebelah rumah banyak yang jual sparepartsnya, mulai seher (kw sampe ori), sampai kamrat ada. Lah motor Non Jepang gimana, cari parts motor di bengkel resmi saja kadang harus inden, apalagi dibengkel umum.
Satu hal lagi yang hampir terlupa. Ketersediaan parts aftermarket terutama variasi motor. Tentunya jangan harap mudah menemukan variasi motor non Jepang. Kendala juga bagi penghoby modif. (Tapi kalau semacam Pulsar 200 NS ga perlu modif udah caem πŸ™‚Β  )

image
Kekuatan pabrikan Jepang terutama Honda dan Yamaha susah dilawan pabrikan lainnya. Apalagi jika pabrikan lainnya segmented, bajaj misalnya spesialis sport, piaggio spesialis skutik. Sudah pasarnya terbatas, keuntungan mepet, pastinya makin sedikit bagian dari keuntungan yang digunakan untuk membiayai peningkatan jaringan dan layanan purnajual. Silahkan share di kolom komentar jika ada uneg-uneg πŸ™‚

Siapa sih konsumen Duke 200 nantinya ?

image

Secara fitur, oke! Secara model oke! Secara power oke juga! Nah SF melakukan survey kecil-kecilan dikalangan rekan kerja yang mengunakan motor sebagai sarana transport sehari-hari. Dari penyemplak matic, bebek, sport hingga penunggang motor premium. Lalu apa pendapat mereka? Sama sekali ga tertarik pada motor satu ini! πŸ™ Sory to say, but that’s the fact ! Padahal SF sangat..sangat…. antusias sama motor yang satu ini. Menurut SF auranya ga kalah sama gw 250 twin cylinder. Harga yang diperkirakan TMCblog kisaran 26 – 31 jt, jika memang nantinya dibanderol segini sudah masuk kategori premium. Menurut SF butuh keberanian lebih serta tekad bulat untuk meminang motor ini. Harga yang tinggi, jaminan sevis yang terbatas, serta brand yang tergolong baru di Indonesia, bikin motor ini ga dilirik oleh mayoritas pengguna motor. Nah jadi siapa loh potensial buyernya? SF bisa bilang, sama seperti konsumen duo CBR, KLX250, dan Ninja 250. Yakni kaum penghoby motor sejati dan memiliki kemampuan finansial lebih, yang karena kecintaan terhadap motor hingga dapat mengabaikan harganya yang mahal (harga beli dan perawatan) dan sulitnya mencari suku cadangnya. Jadi coret deh para pemakai sepeda motor yang sekedar memenuhi kebutuhan akan transportasi dari daftar calon pembeli Duke 200, apalagi konsumen yang berada didaerah.
image
Saingan terdekat Duke 200 (berdasarkan range harga) adalah honda CBR 150, sebagai gambaran penjualan selama September 2011 sebanyak 1613 unit (sumber: dapurpacu) dan Oktober sebanyak 1223 unit (sumber : detikoto ). CBR 150 dengan didukung tampilan sport berfairing, layanan purna jual kuat, serta dibawah branding terkuat didunia saja hanya laku segitu bagaimana dengan Duke 200 nantinya?, rasanya cukup berat untuk bisa laku 500 unit/ bulan di Indonesia. Sayang sekali ya …. motor seeksotis itu masih menjadi barang eksklusif yang tak terjangkau bagi sebagian besar pengemudi motor di Indonesia.

Jika produk pulsar kedepannya pakai mesin KTM, pemilik pulsar lama makin merana

image

Setelah baca tulisannya TMC soal mesin KTM yang dipakai di next Pulsar jadi tergelitik bikin artikel. Mesin KTM memang beringaz bayangkan saja mesin 200 cc tenaganya setara dengan 250 cc, disinyalir yang cc 125 pastinya juga maknyus. Nah bagaimana jika next pulsar dari 125 cc hingga 250 cc menggunakan mesin KTM yang telah disesuaikan? Mantab sih…., setidaknya ini kabar yang menggembirakan bagi calon peminang Pulsar series. lah untuk pemilik Pulsar sekarang gimana? Ya jelas makin merana…. ! Suku cadang pulsar sekarang saja susah didapat, apalagi kalau mesin generasi lama nantinya ditinggalkan? Bisa jadi makin susah cari partsnya. Gimana dengan pengguna pulsar yang ingin upgrade ke Pulsar next Gen? Bakal puyeng juga karena bakal anjlok harga jualnya. Naghh loh gimana loh…? Mo jual Pulsar lamanya rame-rame sebelum disuntik mati? Ini juga keputusan terburu-buru karena belum ada kepastian hadirnya pulsar gen baru…. πŸ™‚
image
Pihak bajaj harus mengeluarkan statement jaminan mengenai ketersediaan Suku cadang pulsar lama.

Ini memang sebuah dilema memiliki motor import, partsnya saja banyak yang harus import. Kalau motor berusia muda sih mungkin no problem belum perlu penggantian parts slow moving, tapi kalo motor sudah berumur trus aus dimakan usia gimana jadinya? Nah untuk ini Bajaj memang harus mengakui kelebihan motor Jepang. Motor tahun 80 an saja gampang cari partsnya, bahkan bisa dengan mudahnya mengkanibal motor yang lebih muda, mekaniknya sudah banyak yang hafal seluk beluk motor Jepang. Aftersales merupakan kendala utama bagi Bajaj. Bayangkan saat ini susah sekali nembus penjualan 3000 unit, sehingga bajaj memutuskan batal bangun pabrik di Indonesia, apalagi nanti saat kompetitor brojolin produk-produk baru. ( masih terngiang slogannya Bajaj ” Hari ini masih butuh bebek? ” πŸ™‚Β  )
Kalo misalkan SF jadi calon pengguna Pulsar mending ditahan keinginannya sampai ada kepastian produk baru. Daripada nyesel beli pulsar sekarang tapi nantinya bakal diskontinyu.
Silahkan share terutama bagi pengguna Pulsar merasa kuatir, pengunjung lain juga bebas beropini kok ! πŸ™‚

Di kelas premium Ninja 250 paling jadul?

image

Liat mesinnya, generasi tahun 1983 coy… yang di Indonesia malah masih pakai karburator. Bandingin dengan CBR 250, Duke 200, dan GW 250? Udah pake injeksi dan mesin bener-bener fresh. Itu masih dari sisi mesinnya, trus dari spedometer gimana. Kelas premium diidentikkan dengan kemewahan fitur. Sedangkan ninja masih make jarum analog jadinya kaya jam weker yang disusun jejer. He3….
klo kaya gini pasti bikin heboh :
image
Tapi jangan buru-buru ambil kesimpulan. ninja generasi 1 dan 2 tenaganya 39.4 hp mendekati sport 250 cc 4 silinder! Lah wong kompresi 12.1 dan karburator 32mm X 2, segi ketahanannya pun terbukti puluhan tahun. Ga salah Kawasaki mempertahankan mesin ini dengan berbagai penyesuaian agar lebih durable, irit, dan memenuhi regulasi dinegara maju. Tapi yang ga habis pikir kenapa kawasaki masih pakai spedo analog di era digital ini ya? Pangsa pasar sempit ditambah ketatnya persaingan (belum lagi kemungkinan hadirnya bajaj 250) membuat masing-masing produk wajib memiliki nilai tambah.
image
image
Ninja 250 saat ini memang masih memiliki power terbesar dan tampilan paling sporty diantara kompetitornya. Namun itupun SF rasa belum cukup, kompetitor lainnya menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki ninja. Naked + tehnologi !
Dengan ditanamkan Injeksi + spedometer digital niscaya N250 bakal mendapatkan tenaga baru menghadapi serangan kompetitornya. Kalo kawasaki terlena atas tahtanya, sangat mungkin kompetitor merebutnya. Pengen lebih dapat menguasai pasar premium? Keluarkan saja ninja 250 versi naked.

image

KTM duke 200 cc tenaga 25 hp, pasti ada konsekwensinya

image

Motor 200-225 cc normalnya tenaga berkisar 16-an hp sampai 19-an hp. Jika KTM mengklaim tenaga duke 200cc lebih dari 24 hp 25hp, logikanya kemampuan motor ini bener-bener diset maksimal. Untuk mendapat tenaga yang menyamai motor 250 cc motor tentunya perlu banyak penyesuaian selain pada kubikasinya. Bisa jadi klep raksasa, kompresi tinggi, sistem injeksi distel boros, knalpot lebih plong dll. Akibatnya tentu ga seawet motor normal lainnya.
Eitsss…. tapi tunggu dulu!!! KTM bukan pabrikan kelas teri loh. Logikanya KTM ga sekonyol itu jual motor setingan balap ditujukan untuk khalayak umum, pasti ada rahasianya. Bisa jadi penggunaan material yang lebih bagus atau tehnologi yang jauh lebih advance. Konsekwensinya apa?? Ya harganya jelas melambung. Makanya SF pun pesimis motor ini bisa dijual dengan harga dibawah 40 jt. Kecuali di spek down. Kalo harga segitu bakal bertarung dipasar sempit 250 cc.