kuno

All posts tagged kuno

Awalnya mau bahas shocknya honda prima karena SF pikir istimewa. Tapi SF teringat sama tunggangan SF jaman SMA yakni GL Max yang juga punya shockbreaker istimewa , jadi SF bahas dua-duanya.

Keluarga SF memang kurang demen dengan motor 2 tak, alasannya boros dan kurang awet. otomatis dari dulu ortu SF selalu beli motor honda. nah.. Astrea Prima dan GL Max adalah beberapa motor yang pernah mampir di garasi rumah SF.

235265_43470e1e-4b1d-11e4-b258-bca74908a8c2

shock breaker belakang astrea prima termasuk istimewa karena punya setelan kekerasan yang bisa diatur dengan tangan kosong, sering buat sendiri tinggal diempukin, sering boncengan dan kenceng-kencengan tinggal dikerasin.

berbeda dengan Astrea Prima, GL max/pro punya shock depan yang tergolong istimewa karena menggunakan tekanan udara. jadi kalau ingin mengeraskan shock tinggal tambah angin saja, kalau ingin empuk tinggal dibocorin saja anginnya dari pentil diujung shock breaker. tapi kudu imbang ya tekanan udara di kanan kirinya…

IMG-20140330-00313

Fitur seperti diatas kini hilang dari motor modern. kebanyakan shocknya non- adjustable, meski ada beberapa yang memakai shock belakang adjustable dengan memakai kunci shock.

image

Aura motor classic memang tak lekang oleh waktu. Terbukti saat ini motor dan mobil klasik masih banyak peminatnya. Motor baru retro classic pun juga menjadi tren. Nah saat pasang kopling set 6 per tiger beberapa hari lalu, bengkel langganan SF kedatangan satu pengendara motor C-70 yang mencari parts untuk motornya. Tapi doi nampaknya ga menemukan yang dia cari dan langsung cabut. Beruntung SF masih sempet nyolong fotonya . 🙂 honda C70 ini terlihat rapi kinclong dan terawat. Sekilas melihat blok mesinnya sudah memakai bloknya honda grand atau supra. Footstep boncenger memakai diral/aluminium. Lihat kaki depannya cakram pun menempel manis! Keranjang didepan serta spion bundar berlapis chrome menguatkan sisi klasik motor ini.

image

Saat pemiliknya cabut dari bengkel terdengar motor dinyalakan menggunakan electric stater. Hmm… disinyalir mesin sudah pake jeroannya honda grand/supra, termasuk transmisinya sudah 4 speed. Menurut pendapat salah seorang rekan pengguna motor klasik, merupakan suatu kepuasan tersendiri riding motor klasik yang terlihat terawat, ga malu harus jejer dengan motor baru. Bahkan merasa bangga telah berhasil membangun motor tuanya menjadi muda kembali. Apalagi larinya juga ga memalukan ( bahkan bisa lebih kenceng dari motor baru 🙂 ) Restorasi motor tua perlu upaya ekstra dibandingkan modifikasi motor baru. Kendala utamanya yakni susah mencari parts originalnya, bahkan seringkali sampai hunting ke pelosok daerah. Respect the classic broww!

SF pernah berdebat dengan rekan yang ngakunya juga pemerhati otomotif. Nah saat membahas honda tiger langsung deh nyerocos, motor apaan tuh, menang mahal doang larinya lemot, masak 200 cc kalah sama satria yang cuma 150cc (sekalian saja tiger 200 cc kalah sama Ninja yang cuma 150cc) .

semakin tua semakin dicinta

Glodagh… jadi tergelitik sama omongan bro satu ini. Langsung SF skak dengan ngasih perbandingan lain motor CC besar bisa dikalahkan sama motor yang CCnya cuma separuhnya. coba saja diadu balap antara harley sama CBR 600 dkk. he3…. Klo mo bandingin motor jangan cuma diliat kapasitasnya donk, karakteristik motor beda-beda peruntukannya, motor SOHC menonjolkan torsi jadi cocok untuk stop N Go dan ga kedodoran saat bawa beban berat, beda sama DOHC yang rata-rata ganas diputaran atas. motor2 sport turing harian juga rata-rata ga mengejar peak performance (liat aja kompresinya kecil kan?) tapi lebih ke irit dan durabilitas. So, kapasitas mesin bukan jaminan motor bakal kencang, masih ada jumlah silinder, sohc/DOHC, 2stroke/4stroke, Injeksi/karbu, overbore/overstroke aka power oriented/torsi oriented, bobot motor, dan tehnologi yang diusung dll. Nah terlepas dari itu tehnologi tiger emang kuno sih, hampir ga ada beda dengan technologi CB thn 80 an. bahkan dengan adiknya si Megapro aja mesinnya tiger lebih tua (a.k.a juadulllllllllllll).  😛