Jas Hujan Kelelawar si Pencabut Nyawa

Teringat 4 tahun silam saat smartf41z masih kerja di perusahaan swasta dibilangan sepanjang Sidoarjo. Saat itu ada seorang rekan kerja ane yang meninggal saat pulang kerumah melewati jalan sepanjang. Menurut cerita almarhum meninggal saat jas hujannya kecantol motor yang disalipnya sehingga almarhum jatuh kearah kanan dan tubuhnya terlindas bus antarkota yang melaju kencang. Akibatnya rekan saya meninggal ditempat.

Jas hujan yang tidak dianjurkan, bahaya jika nyantol dan nutupi spion :ilustrasi dari google:

Jas hujan model kelelawar memang sangat berbahaya digunakan saat mengendarai motor, namun nyatanya jas model ini masih banyak dipakai karena alasan kepraktisannya. Sebenernya jas model ini masih bisa sih dipakai saat berkendara tapi harus benar-benar dipastikan tidak berkibar- dijalan, caranya dengan merapatkan semua kancing dan menduduki bagian belakang jas hujan agar tidak berkibar. Namun tetap saja lebih safe jas hujan model 2 pieces (jaket+celana). Masih sering saya liat dijalan saat hujan rider make jas hujan model kelelawar namun makenya asal-asalan, bagian depan menutup spion dan lampu utama bahkan setang sehingga dapat mengganggu handling , sedangkan bagian belakang berkibar kaya supermen. Keep Safety On Road!

Ninja 250 Crash, Saat Keselamatan dan Materi Dipertaruhkan

Hari Minggu saat cari sarapan sama bini di bilangan condet, kebiasaan pandangan mata selalu melirik di bengkel Daytona (Old’s Rudy Motorcycle) sebuah bengkel khusus moge dan ninja 250, karena kalo beruntung disana bisa liat moge supersport yang dipajang untuk dijual. Namun kali ini bukan pemandangan eksotis moge yang saya temui namun Ninja 250 yang sudah protol Fairingnya dan beberapa bagian buritan sedang diturunkan dari pick up. Sepertinya habis kecelakaan parah.  Sayang Smartf41z (lagi-lagi) ga sempet memotret atau tanya2 informasi apa yang terjadi sama ninja tersebut.

ilustrasi diambil dari google

Saya sendiri miris membayangkan bagaimana nasib ridernya. Jikapun beruntung pastinya ridernya dibikin pusing dengan reparasi ninjanya. Apalagi kalo Ninjanya hasil kreditan kaya Smarf41z. kqkqkk… denger2 fairingnya seharga bebek bekas loh! Karakter mesin Ninja emang beda sama motor pada umumnya. Kalo ingin sensasi “dijambak” dari belakang RPM harus digantung diatas 10rb, bayangin saja kecepatan dan akselerasi pada saat itu. Kalo ada kejadian mendadak dari arah depan misal ada kopaja/ metromini behenti mendadak ato penyebrang jalan tiba2 melintas dan ga sadar dengan kehadiran Ninja yang suaranya cukup sunyi bisa Gubrak! tuh.  Apalagi kalo ridernya masih belum menguasai seluk beluk Ninja, terutama bagi rider pemula yang baru naik motor atau sebelumnya penyemplak bebek/ matic pasti bakal kesusahan menjinakkan Ninja ini. Bagi yang senior namun speed freek pasti ingin merasakan gimana sih power motor yang dibelinya dengan penuh perjuangan, pastinya ada sedikit ego untuk memecahkan rekor yang dipegang dengan motor sebelumnya, sayang area yang dijadiin uji kecepatan sangat tidak mendukung, akibatnya bisa fatal. Ngeri juga saat liat di youtube ada ninja di Jakarta yang nyoba Top speed s/d 180kpj di bilangan Sudirman saat tengah malam, kalo ada apa2 bisa melayang tuh nyawa. Smartf41z pun sebenarnya penasaran dengan topspeed si Bolot, namun karena sudah ada anak istri ga brani deh nyoba2, lagian di Jakarta juga ga ada lokasi yang safety kecuali di sirkuit. Alasan Smartf41z agak maksa beli ninja bukan karena speednya tapi karena obsesi dari kecil pengen punya moge multi cylinder. Begitu udah keturutan otomatis harus di eman toh.