P200NS

All posts tagged P200NS

Awalnya P200NS ini dipasang spakbor extension milik byson. Nah belakangan dipasang juga spakbor tambahan asli milik P200. Kalau di India spakbor ini sudah bawaan motor, disini kudu beli dhewe..

image

Sayang karena kesibukan kerja yang padat SF belum sempat ketemu ownernya, jadi belum tahu harga maupun tempat belinya

image

Kalo bannya ikut dikekarin bakal tambah sangar kali….

Update : berita mud guard juga ada di otomotifnet. Dijual KMI seharga 150rb tapi tanpa tulisan pulsar. Sedangkan versi importir umum masih ada tulisan pulsar dengan harga yang konon lebih mahal.

Sf demen sama modif yang satu ini. Sealiran dengan SF nih..
P200NS ini milik salah seorang kepala bagian dikantor SF. Usia yang tergolong senior mempengaruhi pertimbangan dalam memodifikasi motornya… Catat saja….
1. Tambahan spakbor belakang agar ga nyiprat (telah SF bahas artikel lalu)

image

2. Tankbag yang diberi alas dari tatakan dashboard mobil agar tidak merusak cat tangki

image

3. Kepet spakbor depan tambahan yang bikin sendiri
Mantab modifikasi yang fungsional… Daripada menang gaya tapi nyusahin … 🙂

Next sepertinya beliau ingin upgrade kaki kekar….

Beberapa tahun terakhir seliweran di Jakarta , SF jarang melihat lampu belakang pulsar series nyala sempurna.. seringkali SF melihat lednya mati sebagian, jadi kurang enak dilihat. Kesannya ada yang kurang melihat motor cakep tapi lampu belakang nyalanya bogang-bogang alias nyalanya ga rata/penuh.
Dilematis memang punya motor berlampu belakang model led…disatu sisi irit listrik, tampilan lebih keren dan tampak modern, tapi disisi lain kalau mati susah cari penggantinya, harganya jelas lebih mahal dibanding bohlam pijar yang cuma ribuan rupiah perbijinya. Continue Reading

wpid-p200ns_3.jpeg
Beberapa hari membaca berita soal P200NS ini makin memaklumi kenapa KMI hanya menargetkan penjualan 1000 unit per bulan… Suatu angka yang mungil dibanding penjualan NVL dan CBSF meski harga ga terpaut jauh.

Continue Reading

Alasan SF mengandalkan Tiger lawas untuk tunggangan sehari-hari tentu bukan alasan emosional semata… benar memang nilai historis tiger Silver keluaran 2004 milik SF tak ternilai harganya, namun bukan berarti haram untuk ditukar 🙂 sempat ngobrol dengan pengguna pulsar 180 saat beberapa tahun lalu saat komunitas tiger tempat SF bernaung kopdar bareng pengguna pulsar Surabaya dengan bangganya user pulsar 180 mengelu-elukan kehebatan motor mereka. Tetap SF ga kepikir sama sekali melego tiger kesayangan. Saat baca di blog-blog bagaimana pengguna pulsar membanggakan betapa valuablenya kendaraan mereka tetap SF tak berniat mencobanya… mengapa?
Pertimbangan membeli motor bagi SF cukup komplek dan sebagian besar kekomplekan itu dijamin pabrikan besar/ Jepun… Sebut saja jaminan aftersales, tersebarnya jaringan servis resmi, going concern perusahaan lebih terjamin, serta ga kalah pentingnya harga jual motor juga relatif lebih stabil. Masa beli motor kok mikir dijual lagi….? eh bukan gitu bro… pada suatu titik katakanlah usia semakin tua, prioritas pilihan roda dua akan berbeda. bukan lagi gaya-gayaan, kebut-kebutan namun lebih ke kenyamanan dan fungsional (ngomongin kendaraan operasional loh ya, bukan kendaraan hobi), usia pekerja “senior” tentunya ga ingin kendaraan tua yang banyak masalah. makanya perlu refreshment kendaraan… saat itulah kendaraan lama dijual ganti baru (ada juga yang nyimpen motor lama untuk koleksi) . Pulsar pada awal kemunculannya SF anggap belum cukup kuat menggoyahkan iman SF karena alasan emosional (SF kerja 3 tahun di perusahaan India terbesar didunia), serta alasan going concern motor, mulai terbukti sekarang cek saja artikelnya mas bons http://2brk.wordpress.com/2013/03/19/adu-cepat-p-220-vs-sorpio-3-ternyata-di-lapangan-p-220-jauh-lebih-cepat/

statement yang menarik dari profesor motuba ini :

Ya, banyak faktor disinyalir yang menjadi sebab keterpurukan harga Rondo P 220 ini. Motornya sih memang jozz gan, manteb, irit enak dikendarai dan cepat larinya serta awet, namun banyak sisi yang membuat konsumen tidak puas seperti layanan bengkel yang susah diakses, inden part yang panjang, kelangkaan part, dan harga naik part, serta kebijakan internal Bajaj yang kadang membuat ketar-ketir para empunya P 220.

Sesuatu yang kebeli kenapa harus disesali, dijalani sajah… selama motor masih enak dikendarai dan ga bermasalah ya pake saja terus. jika didera rasa kuatir berlebihan misalkan ragu aftersalesnya bakal dianaktirikan bila bergabung dengan KMI, kuatir harga parts melambung jika dipegang KMI,kuatir motor dijual lagi ga laku atau makin ngedrop harganya, kuatir belasan tahun lagi ga ada partsnya… ya monggo dilego sekarang daripada berkendara ga tenang.
wpid-1360896714-picsay.jpg

SF pemakai tiger ga nyesel miara motor ini. Meski dikata SOHC boros, lemot, bermasalah, rantai kemrosak,mesin jadul,tangki bocor,bodi miring,selip kopling,kamrat kendor tetep saja dipiara lah wong tenang/ ga kuatir karena masih gampang cari partsnya di toko sebelah juga ada 🙂 klo sudah mulai langka partsnya ya disimpen buat kenang-kenangan, atau kalau terpaksa banget ya dijual nantinya.
mungkin sama dengan perasaan pengguna pulsar, bedanya tiger dengan pulsar ya beda kelemahannya …. 🙂 selama masih bisa ditangani ya ditangani… toh Bajaj roda tiga puluhan tahun usianya juga masih beredar. masalah parts ga tersedia? apa sih yang ga bisa diakali orang Indonesia ? 🙂
menurut SF ya daripada dijual sayang dan ga cukup beli motor baru ya dipakai dulu… kecuali ya yang SF sebut diatas… perasaan ga tenang 🙂 toh kekuatiran belum terbukti

image

Pertama Duke 200. Banyak khalangan berharap jika Duke dijual dibawah bendera Bajaj harganya bakal seperti produk bajaj lainnya alias masih terjangkau. Ya paling tidak dibawah duo sport fairing Jepang lah….. Betapa banyak rider yang mengelu-elukan dan mengharap kehadirannya. Tapi begitu tau dijual langsung oleh APM langsung seharga 60 jutaan… peminatnya langsung mundur teratur.

image

Kasus kedua SF prediksi bakal menimpa P200NS produk bajaj yang dijual dibawah bendera kawasaki, motor yang awalnya SF kira bakal dibenturkan dengan CB150R,l/NVL atau maksimal dengan Tiger/Scorpio malah infonya menyasar kelas premium seharga 30jtan. Kalau sudah kaya gini apa ga makin kuciwa calon konsumen yang setia menunggu kehadirannya….

image

Jaringan distribusi yang lebih luas serta image kuat kawasaki bisa bikin P200NS susah diharapkan dijual dengan harga under price seperti strategi selama ini yang dijalankan bajaj. Paling tidak harga bakal bermain dikisaran vixion/cb150R hingga honda tiger. Pantes juga sih P200NS diposisikan bukan produk murahan… desainnya okeh… powernya juga cukup menakutkan bahkan bikin keder motor kelas 200-225 cc. Apalagi sekarang dijual dibawah brand kawasaki… cukup worthed untuk dipinang. Dengan satu catatan affersalesnya harus jauh meningkat dibanding masih dipegang bajaj dulu.

Makin serem saja jajaran sport kawasaki…. 🙂

image

Kemunculan P200NS di Indonesia sekitar Oktober- Desember, seperti yang diucapkan VP manager BAI lewat motorplus. Itupun jika dapat lampu hijau dari bajaj India :mrgreen: . Biasanya 4 bulan pertama produksi difokuskan memenuhi pasar dalam negeri India, selanjutnya baru di ekspor. Produksi di India sendiri baru akan mulai bulan April.
Nah Jika AHM dan YIMM bertempur duluan dengan menelorkan sport teralis serta new vixion, eforia Pulsar 200 bisa tersedot oleh 2 motor ini. Ingat…. kekuatan AHM dan YIMM ga bisa dipandang sebelah mata. AHM bernafsu menumbangkan tahta vixion dengan mengeluarkan jurus baru yang dikabarkan bermesin DOHC, sasis teralis, dan model fresh, Sedangkan YIMM juga bakal berusaha sekuat tenaga mengupgrade Vixion agar mampu menahan gempuran Honda teralis. Otomatis upgrade tampang dan power adalah harga mati bagi YIMM. Nah jika Teralis muncul duluan dan bahkan new vixion juga muncul sebelum P200NS apa ga menyedot potential buyer pulsar tuh? Dengan dukungan aftersales berkali lipat dibanding bajaj serta moment start lebih dulu dibanding pulsar baru, agaknya patut diwaspadai bajaj. Buruan deh nego India biar ngasih lampu hijau lebih awal. Jika penjualan bajaj  di Indonesia moncer selanjutnya bangun pabrik disini kan yang untung gedhe juga principal India 🙂