Ngobrol dengan pengguna setia Pulsar…

image

Beberapa hari lalu pas nyuci maticnya bundafaiz ngobrol lama dengan rider pengguna skywave. Awalnya ngobrol soal suka dukanya skutik suzuki. Trus doi nanya mengenai motor yang dimiliki sF lainnya. Saat nyebut Tiger doi langsung bertanya… ga pengen nyoba pulsar bro’? SF pun cerita tiger dimiliki sejak lama thn 2005 saat pulsar belum masuk sini dan saat ini ga mungkin gantiin tiger dengan motor lain karena historical valuenya 🙂 
Rider ini trus ngaku kalau dia pengguna setia Pulsar . Nah…giliran SF yang  mengorek kesannya menggunakan Pulsar :P. Dia sudah
4 tahun menunggang PiBo, selama itu ga ada permasalahan berarti meski sudah turing beberapa kali antara lain ke Bengkulu dan Jogja, kliatannya puas banget pulsarian ini menunggang pulsar. Mesinnya juga masih awet tanpa kendala berarti. Selain mesinnya .. dua hal yang dapat diandalkan  pada Pulsar adalah  konsumsi bensinnya yang super irit dan kekuatan rangkanya! Pokoknya beda dibanding pabrikan Jepang, menurutnya jauh lebih kokoh motor bikinan India ini ( ini yang bikin berat kali ya ).
Masalah sparepart rider ini juga mengakui itu hal terlemah yang dimiliki bajaj.  Harapannya (yang juga diamini SF ) Bajaj segera bangun pabrik disini sehingga permasalahan ketersediaan sparepart dapat diatasi. Tips yang diberikan rider ini jika cari suatu parts di satu dealer ga ada jangan terpaku pada dealer itu, cari di dealer lain yang terdekat. jika beruntung bakal dapat kok barangnya.  Tapi kalau apes ya mau ga mau inden. Sayang sebelum SF mengorek keterangan lebih lanjut , rider ini pamit duluan karena skywavenya selesai dicuci….
motor dengan value of money bagus jika didukung jaringan distribusi memadai produsen Jepang pun bisa dibuat bertekuk lutut (segmen sport)

Komparasi ganti ECU CBR 250 dan Ganti TCI Ninja 250

image

Penasaran banget sama hasil review motorplus(group otomotifnet) yang dapat dilihat disini mengenai CBR 250 ganti ECU racing, yang bikin heran kenaikannya ga tinggi-tinggi amat dari standardnya 23,94 HP, torsi 14,98 ft.lbs setelah ganti ECU vortex powernya seharga 7,5jt power naik 0.53 hp dan torsi naik 0.55 ft.lbs.
image

Gimana nih kalau dibandingkan dengan pesaingnya, apalagi kalau ga ninja 250 !!??  (Siap-siap tabung pemadam ahhh :mrgreen:  ) kebetulan yang ngetes juga dari otomotifnet didapat hasil sebagai berikut power maksimal 29,8 dk dan torsinya19,52 Nm kondisi standar. Selanjutnya jika diganti TCI Adrion seharga 1,9 jt power mengalami kenaikan 1,6 dk dan torsi sebesar 1,09 Nm, jika diganti TCI merk cheetah power seharga 2.5 jt (plus koil) power naik 1,2 dk dan torsi naik 0,35 Nm, dan jika TCI BRT seharga 1,5jt kenaikan yang didapat sebesar 1,2 hp dan torsi naik 0.84 NM , dan itu masih bisa naik lagi jika setting ulang spuyer!!!  Dari sini ketahuan betapa mahalnya upgrade performa motor injeksi. Ga bisa dibayangkan biaya yang dikeluarkan jika upgrade ECU ninja 250 injeksi yang mungkin lebih rumit dibanding CBR 250 karena 2 silindernya. Modyar … bisa belasan juta buat upgrade ECU doank :mrgreen:  eitsss… ingat ya sering memacu mesin melebihi limitnya (denger2 ninja ber TCI racing rpm bisa nembus 15rb!!!)  Bikin klep tipis bahkan bengkok! Berani coba???!!!
Ane mah Ogahhhh….! Wong top speed sehari2 mentok 80kpj. He3…

image

Roller Rocker Arm (RRA) /templar rontok. Resiko parts aftermarket.

image

Kira-kira seminggu kemaren salah seorang sahabat SF (thanks to Mas Gio) mengirimi foto mengejutkan sepasang RRA (Roller Rocker Arm) rontok setelah dipakai beberapa hari pada jupiter z yang sedang dioprek. Untuk mendapatkan informasi detail ini SF rela interlokal ke kota Malang tempat kediaman sobat SF ini 😆
Jupiter Z ini memang sudah mengalami modifikasi dibeberapa bagian untuk meningkatkan performanya diantaranya kapasitas sudah bengkak menjadi 125 cc, serta noken as pun custom alias bikinan sendiri. Padahal menurut sobat SF ini ukuran lift noken ini ga seberapa tinggi. Saat payung klep terbuka maksimal diukur hanya setinggi 6.8 mm, bahkan mio yang pernah doi garap saja angkatan payung 8mm lebih masih sanggup kok.
Selepas itu empunya motor sudah ga berani lagi memasang part aftermarket pada tunggangannya, sebagai gantinya doi memilih RRA OEM milik honda blade. Memang agak ribet masangnya karena harus dimodif dulu agar bisa terpasang pada Jupiter, namun kekuatannya lebih baik dari produk plug and play aftermarket. Mekaniknya menjelaskan masalah jebolnya sepasang RRA tersebut disinyalir karena kualitas bahannya yang kurang baik  bukan karena settingan mesinnya, buktinya setelah dipasang RRA milik honda blade dengan settingan yang sama persis dengan sebelumnya tidak mengalami kendala apapun. Padahal RRA yang jebol tersebut disinyalir import dari Thailand loh…. Nah entah bagaimana kekuatan RRA plug N play untuk motor lain. Silahkan kalau mau menambahkan pengalaman memakai RRA atau ninggalin jejak 🙂

Rumah kopling 6 per buat tiger ( part 2- kendala dan review penggunaan)

image

Kendala
Untuk dipasang di gl max dan pro mekanisme yang dijual ini tinggal pasang saja. Namun tidak jika dipasang ditiger, karena rumah kopling tetap pake bawaan tiger.
Sudah 3 kali SF bongkar pasang mekanisme kopling ini untuk hasil yang sempurna. Awalnya dari mekanisme 6 per 7 kampas tidak bisa masuk sepenuhnya ke rumah kopling tiger. Akhirnya plat gesek ( plat kopling) dikurangi satu. (Kampas tetep 7) Nah begitu terpasang hasilnya edian! Saat kopling dilepas motor langsung menghentak, pindah gigi seakan mau meloncat. Puas deh sama hasilnya!
Namun problem muncul keesokan harinya, tiba-tiba kopling tersasa selip pada rpm 6000 an, tarikan awal pun ga menghentak lagi. Tapi saat sudah jalan 2 km gejala selip hilang. Nah hari ke tiga pemakaian semakin parah. Akhirnya terpaksa ke bengkel lagi untuk bongkar kopling. Setelah dicek per bawan mocin ini menyusut, akhirnya terpaksa ganti per ori bawaan tiger 4 biji, sedang yang 2 tetep pake punya mocin dengan cara disilang. Hasilnya kopling jadi keras dan kopling tetep selip keesokan harinya namun dipakai beberapa saat normal lagi.
Terpaksa bongkar untuk kali ketiga, nah karena ga ingin salah pemasangan lagi ane segera telpon penjualnya yang ada di Jogja. Ternyata agar dapat masuk ke rumah kopling tiger bukan plat kopling yang dikurangi namun kampas koplingnya. Per pun bawaan mocin yang dipakai, sedangkan 3 plat gesek milik mocin ane ganti milik tiger karena lebih tebal. Selesai?! Ternyata belum! Kqkqq…. tarikan si tiger terlalu liar dan menghentak-hentak. Sangat tidak nyaman untuk diperkotaan yang penuh macet. Kalo di kota kecil mungkin masih mantab. Lah wong motor jadi galak dan tiap gigi sampai pindah ke gigi terakhir hentakannya masih kerasa. Tapi kalo di jalanan macet, motor terasa terlalu menghentak terus saat kopling dilepas. Jadi kaya naik kuda saja, nyundul-nyundul :mrgreen: Nah akhirnya salah satu kampas kopling Ane ganti dengan kampas kopling kecil bawaan tiger plus judder springnya. Ini hasil yang sempurna (cek lagi part 1 untuk detailnya)
image

Berikut user reviewnya
Awalnya ane pikir tarikan koplingnya bakal lebih keras namun ternyata meleset hampir ga ada beda dibanding kopling set bawaan tiger. Meskipun 6 per tapi lebih empuk dibanding per tiger.  kelebihannya adalah tekanan lebih merata ke seluruh permukaan kampas. Untuk tarikannya jelas meningkat dibanding kopling 4 per bawaan tiger. Tapi ga terlalu menghentak untuk menembus kemacetan, akselerasi untuk bermanufer terutama gigi rendah terasa peningkatannya gas ga perlu dipuntir tinggi untuk mengail tenaga. Bahkan iseng-iseng ngadu dengan vixion sampai gigi 4 sudah bisa nyalip (jalan agak sepi karena trafik dibelakang ane kejebak demo). Begitupula saat melewati tanjakan gejala drop terasa minim. Saat mesin panas gejala selip pun ga terasa, meski buat boncengan masih siap diajak akselerasi. Semoga saja awet mekanisme kopling 6 per dan 6 kampas ini karena ini alasan ane melengserkan mekanisme kopling bawaan tiger yang terkenal gampang selip.

Update terakhir, sekitar 8 bulan pemakaian. Kopling selip.terpaksa balik ke ori dengan sedikit penyesuaian agar makin menggigit cek di http://smartf41z.wordpress.com/2012/09/12/kopling-6-per-buat-tiger-bermasalah-balik-ke-ori/