penyebab

All posts tagged penyebab

Not me… SF bukan penganutnya. Namun banyak nelayan yang percaya jika hal ini dilanggar maka hasil pancingan akan sepi. Di Pantai Tanjung Pakis Karawang misalnya… kapten senior disana kurang berkenan jika tamu membawa bekal seperti ini:

1. Pisang

2. Telor

3. Kacang

4. Pete/Jengkol

Jika membawanya saat trip mancing dipercaya bikin apes…. Continue Reading

Mancing pulau tunda oktober 2016

Rejeki di tangan Allah… hasil mancing siapa tau…

Kali ini SF cerita berdasarkan pengalaman… dalam tahun ini terhitung 3 kali SF pulang mancing boncos (apes) ga bawa ikan. Apa saja sih sebabnya?

1. Kapal tidak memadai peralatannya

Beberapa bulan lalu komunitas SF berangkat menggunakan 2 kapal ke arah P.Mundu melalui Merak. 1 kapal dengan peralatan komplit (fish finder+gps), yang satu hanya GpS saja… akibatnya 1 kapal sukses panen, satu kapal boncos… Continue Reading

Air laut terkenal korosif… gampang banget bikin besi berkarat. Karena itu set tackle mancing SF kudu dibersihkan selepas mancing dilaut.

Bagaimana jika motor sering kena air laut tapi ga rutin dirawat…? ancur mina…. ! Karat dimana-mana…

Penampakan CB150 yang SF jepret di perkampungan nelayan di Pakis-karawang ini contohnya…

Cb150 kena air laut

Continue Reading

Sepulang kantor Nmax yang bermasalah kemaren terpaksa diinapkan ke ย bengkel resmi.(baca artikel terkait disini ) Meski esoknya SF dilanda kesibukan ditempat kerja, SF sempatkan telpon ke bengkel resmi yamaha iwata harapan indah bekasi.

Nmax terpaksa nginep di bengkel resmi

Continue Reading

Seminggu sebelum lebaran SF servis Nmax karena indikator V belt sudah menyala. ( baca selengkapnya disiniย ) , Nmax sempat dipakai kerja 3 harian , sebelum ditinggal mudik selama 2 minggu.

Hari kamis kemarin , Nmax kembali dipakai kerja. 5 km pertama ga ada masalah. Namun tiba- tiba Nmax mati mendadak saat tutup grip gas, di stater Nmax kembali menyala… namun tidak lama kemudian saat lampu merah Nmax kembali koit. Kejadian ini berulang kali terjadi saat grip gas ditutup…. untuk itu SF sengaja sedikit gantung gas di jalanan merambat…. tersiksa sekali. Tangan pegel menahan rem , sembari menyeimbangkan motor.

Seperti biasa tiap pagi sebelum sampai kantor , SF mampir sarapan di jalan. Sekalian SF ngaso ย dulu karena disiksa Nmax yang lagi rewel. Abis sarapan lah kok Nmax normal lagi…. SF standar tengah, hidupkan motor dan di gas-gas mentok kemudian di stasionerkan , lah kok normal… tapi itu cuma sementara… beberapa menit kemudian SF kena perlintasan kereta. Kumat lagi dah… si Nmax Ngambegggg!!! Mesin mati… SF coba hidupkan Motor, memang bisa kembali nyala tapi ya gitu…. beberapa detik kemudian, mati lagi… ๐Ÿ™

Sampai kantor SF langsung disibukkan acara seharian penuh jadi ga sempat ngurusi motor. Saat pulang kerja…. motor tetep ngambeg sepanjang jalan… sampai sampai SF sengaja gantung gas sambil ngerem saat jalanan merambat.

Nmax terpaksa nginep di bengkel resmi

Sampai Harapan Indah, bengkel resmi dah hampir ditutup oleh owner bengkel. Untung ownernya baik hati , dan masih menerima siNmax. Awalnya Beliau berusaha mencari penyakit Nmax dengan cara di geber-geber sambil di standar tengah namun tetep masih penuh dugaan yang jadi penyebb matinya Nmax. Terpaksa malam itu Nmax diinapkan ke bengkel.

Adakah pemilik Nmax yang mengalami hal yang sama …..

Beberapa dugaan penyebab masalah Nmax gampang mati :

1. Bensin tercampur air

2. Pemasangan alarm bermasalah

3. Settingan Nmax waktu servis terakhir bermasalah , pasca settingan CO+8 terakhir ย nmax memang terasa lebih bergetar saat stasioner

4. Injector tersumbat

5. Perkabelan bermasalah (soket2 kendor)

Apapun itu …. SF sama sekali buta soal motor injeksi jadinya pasrah…. manut sama bengkel resmi yang punya diagnostic tools.

Klo tiger ngambek masih bisa otak atik cari masalahnya, klo Nmax … nyerah dah

 

Tikus termasuk musuh besar kendaraan yang diparkir digarasi rumah yang terbuka. Suzuki Spin milik bunda dah pernah jadi korban sampai ga bisa dinyalakan. 

Nah kesialan terakhir dialami oleh ertiga GX milik SF. Malam itu SF rencana pakai ertiga bersama rombongan mancing ke daerah tanjung pakis karawang. Sehabis Maghrib SF berencana isi bensin sekalian cek tekanan angin Ertiga.

Saat mesin dinyalakan SF merasa ada yang tidak normal… kok mobil terasa bergetar ya… SF nekat saja melaju. Saat pedal gas dilepas makin terasa keanehannya , mobil seakan mau mati .. tapi kemudian bergetar dan RPM naik lagi (ga jadi mati) berulang ulang seperti itu… laju mobil terasa tersendat-sendat… suaranya seperti angkot jadul yang tidak terawat. Orang bilang jalannya “pincang” . SF dulu pernah merasakan ini pada suzuki carry jadul milik ortu… ternyata saat itu busi mati sebiji. 

Begitu intip speedometer ertiga baru sadar jika lampu indiktor check engine nyala… keanehan lainnya indikator pada MID bagian trip meter/konsumsi bbm tereset jadi nihil /garis dua (–) . (Mohon maaf saat itu SF ga bawa HP karena dicash dirumah untuk keperluan mancing dilaut seharian malam nanti, jadi ga ada foto foto.)

Maaf speedo nyomot di google lantas diedit

Agak panik juga… malam nanti mobil mau dipakai luar kota lah kok bermasalah. SF putuskan ke montir serba bisa di kompleks perumahan SF… mulai motor, genset, mesin air, mobil ditangani semua oleh Opung ini… 

Opung langsung buka kap mesin , berbekal senter dari HPnya beliau mencari keanehan pada mesin ertiga… ” nah ketemu masalahnya,” sambil menunjuk sepasang kabel yang bermasalah. 1 selongsong kabel yang didalamnya terdiri dari 2 kabel. 1 kabel putus dan 1 lagi terkelupas. “Pasti ini sebabnya” 

Opung sendiri kurang tau kabel apaan ini, karena ga pernah garap ertiga (biasa mobil2 lama) , “kabel injeksi kali” jawab dia sekenanya ๐Ÿ˜† ada yang tau kabel apakah yang berada si bagian belakang atas blok mesin deket dip stick (ada 4 soket kabel, 1 soketnya di camil tikus) , Saya mengira ignition coil… CMIIW?

Sayangnya putusnya kabel dibagian pangkal soket , jadi susah nyambung kabelnya. Soket dilepas dari dudukannya agar mudah sambung kabelnya. Awalnya Opung berusaha cungkil-cungkil agar logam tembaga didalam soket mau nongol, tapi gagal… Akhirnya Opung pake cara barbar  ๐Ÿ˜† , soket dikikis pake cutter agar logam konektornya keliatan. Kemudian di solder dengan potongan kabel baru. Setelah lolos uji kekuatan solderan , baru di isolasi.

Setelah kabel disambung dengan bawaan ertiga dan soket dicolokkan kembali, ertiga kembali menyala normal…alhamdulillah….  ๐Ÿ™‚  display MiD bagian konsumsi bensin/tripmeter muncul kembali …. 

tapi …. indikator check engine masih menyala…. alamakkk! Pusing lagi Opung mencari-cari masalahnya. Sampai akhirnya Opung menyerah… “mending  dibawa ke bengkel resmi saja Pak mungkin injeksinya (ECU maksudnya ) perlu di reset .” 

“Klo soal ini gampang”  , jawab SF sok tau :mrgreen: .  Copot saja kabel akinya selama beberapa menit …. Opung manut saja ucapan asal asalan dari SF. 

5 menit kemudian kabel aki di pasang kembali, dan mobil dinyalakan… voilahhh ! Indikator check engine dah ilang…. ! ๐Ÿ‘

Tapi jam pada MID jadi ter reset. Tombol audio pada setir ertiga jadi ga berfungsi… jadinya kudu dikalibrasi ulang deh…. utak atik sendiri 5 menit beres dah….

Jiahh… waktu istirahat sebelum begadang mancing , malah dipakai benerin mobil… GPP dah semoga pelajaran ini berguna bagi yang lain… untung saja mancing malam itu sukses besar… berhasil menyelamatkan 8 ekor tenggiri yang tenggelam ๐Ÿ™‚

Nb : klo ada mobil baru gress, atau mobil mewah mogok atau bahkan sampai terbakar… ada kemungkinan gara-gara tikus bikin korslet kabel… jangan dibully karena tikus juga bisa mengisengi mobil anda… ๐Ÿ™‚ . Tetangga saya pengguna freed pernah mengalami kasus mobil mogok gara2 kabel digigit tikus sampai diderek segala 

Senin malam seminggu lalu SF kaget dikabari  Ortu di Surabaya jika taruna mogok dan ga bisa dihidupkan lagi. Posisinya pas deket Beres daihatsu. Jadi langsung saja mobilnya  didorong masuk bengkel


Keesokan harinya SF kembali dikabari oleh ortu , ternyata penyebab mogok adalah timing belt putus… setengah ga percaya SF mendengarnya… timing belt itu terhitung baru ga sampe 8000 km umurnya… lah kok dah putus. 2 kali timing belt taruna putus padahal usia tergolong muda…. yang pertama putus di tol padahal timing belt baru berumur setahun. Yang kedua ya kejadian kemaren itu…

Singkat kata ongkos ditaksir sekitar 1.350rb… kalau cuma ganti timing belt… Ndilalah pas belt dipasang dan mobil dihidupkan, suara mobil sangat berisik… pihak daihatsu memastikan bahwa klep bengkok dan harus bongkar mesin…. ongkosnya ditaksir 4,5jt… :o:

Jelas saja puyeng… kejadian putus pertama dulu jeroan aman kok… padahal putus pas kecepatan tinggi …. cuma ganti belt dan langsung beres. Lah sekarang kok apes kena klepnya.

SF sempatkan interlokal dari Jakarta untuk konsultasi masalah belt yang gampang sekali putus… Ortu SF memberikan nomer HP Bapak Sulu. Bapak Sulu selaku mekanik yang menangani taruna SF memastikan penyebab putusnya belt adalah adanya kebocoran oli didalam ruang timing belt. Saat mobil dihidupkan dan melaju, kebocoran oli “nyiprat” mengenai belt…. itu yang bikin belt getas dan gampang putus! 

Kejadian oli rembes pada taruna SF memang sudah lama terjadi…sebelum putus belt yang pertama kebocoran sudah ada. Saat itu SF sempat bawa ke bengkel dan sudah diatasi masalah bocornya, yang katanya berasal dari blok bawah. Setelah itu muncul lagi bocor… jadi SF kira kebocoran blok bawah terulang lagi. 


Belum sempet SF tangani, SF ganti mobil Ertiga, sedangkan si Tarubi (Taruna Biru) SF kirimn ke Surabaya untuk menemani Ortu SF…  Saat perjalanan dari Bekasi menuju Surabaya itu timing belt putus untuk pertama kalinya di kecepatan 120 (menurut cerita adik SF yang bawa mobilnya)

Setelah kasus Putus kedua ini baru ketahuan… kebocoran oli berasal dari beberapa seal di dalam ruang timing belt… !bukan dari bagian bawah mesin yang sebelumnya sudah diatasi… 

Itulah penyebab umur timing belt jadi pendek …. timing belt getas kena cipratan oli!

Ingin menguji kesabaran anda….? coba naik kendaraan bermotor untuk harian. Rute SF sendiri antara 23-25 km (tergantung beberapa alternatif rute) dari harapan indah menuju kalibata. Waktu tempuh antara 1 jam hingga 1jam 45menit.


Godaan bagi biker sangat banyak di jalur ini. 

1. Trotoar sangat amat luas… bahkan mobilpun bisa lewat. Pejalan kakinya ? Hanya seorang dua orang. Ga percaya ?coba cek trotoar selepas flyover walikota jaktim (sebrang halte busway) klo gasalah jl. Ngurah Rai. Dijalur padat menyempit (karena halte busway) ini justru jalan dipersempit untuk bangun trotoar. Kalau pejalan kakinya rame oke lah untuk kepentingan umum juga. Lah ini pejalan kakinya sedikit…meski trotoar dibikin separuh pun masih terhitung lowong untuk pejalan kaki.

2. Sepanjang duren sawit ada jalur khusus sepeda dan pejalan kaki. Jalur ini pun sepertinya cukup dilalui mobil. Dihari kerja, warga yang memanfaatkan untuk olah raga atau bersepeda cukup sedikit. Alhasil beberapa ruas diserobot oleh pemotor setelah menggeser beton pembatas.

3. Jalur busway dibeberapa ruas dirasakan mubazir karena penumpang dirute ini terhitung minim. Sering  SF melihat penampakan bus trans sepi penumpang. Penumpangpun terlihat sepi dibeberapa spot halte antara jl. Ry bekasi timur hingga kantor walikota jakarta timur. Jalur khusus trans Jakarta ini pun memakan 1/3 ruas jalan yang jelas efeknya bikin jalan raya makin padat merayap.

4. Angkot ngetem sembarangan, lampu merah dan persimpangan yang harusnya, silarang berhenti malah jadi favorit tempat ngetem. Bahkan angkot/metromini sering menurunkan /menaikkan penumpang ditengah jalan

5. Tol seharusnya jalan bebas hambatan… di jakarta ini luar biasa… tol bisa macet parahhh! Sekedar sharing 2 rekan kerja SF (rumah di cikarang dan karawang) potongan gaji karena telat bisa mencapai sejuta lebih. Rutenya meski mayoritas lewat tol kalau sudah macet, bisa lebih parah dibanding jalur biasa. Lihat google map jam 4 pagi saja dah macet… !
Salut bagi anda yang sehari-hari naik kendaraan bermotor. Ibarat kata, umur habis dijalan…!

Pilihannya ya kudu sabar…. yang ga lolos ujian sabar buanyak banget… termasuk SF sering banget gagal menahan kesabaran. Tapi jangan sampai lah melupakan sisi kemanusiaan. Ada ibu gandeng anak anak nyeberang masih diserobot, ada yang kena musibah dijalan bukannya dibantuin malah diklaksonin suruh minggir, rame rame melanggar dianggap paling bener, dll

Kenapa sih tiap berangkat kerja penunjuk konsumsi bensin Average pada Nmax SF selalu turun… (artinya tambah boros). Penasaran SF terjawab setelah pagi ini coba ngetes konsumsi BBM… pas dirumah reset MID. Dan gas…

Gaya berkendara SF dimirip-miripkan saat ngetes BBM beberapa hari lalu dimana saat pulang kantor SF dapatkan konsumsi bensin 1:40,1 km/l . 

Keluar dari harapan indah sampai walikota Jaktim konsumsi bensin lebih irit melewati 1:42km/l karena jalanan lowong. Selepas itu konsumsi turun lumayan drastis karena jalanan merambat. Apalagi pas lampu merah yang lebih dari 2 menit… Bisa turun 1-2 digit pada MID.

Tercatat ada 3 lampu merah dan 1 Palang Kereta pada jalur antara Harapan Indah hingga Kalibata. Kali ini SF kena 2 lampu merah lumayan lama, plus 1 palang kereta di pengadegan-kalibata… SF kudu nunggu 3 kereta lewat sekitar 3 menitan lah, biasa ini mah.. pernah nunggu sampai 4 kereta lewat!!! 

Saat berhenti di Palang kereta deket kantor konsumsi bensin masih menunjukkan 1:35,5 km/l, ga sampai 300 ratus meter sampai kantor konsumsi bensin jadi 1:33,3 km/l. Cuma gara2 palang kereta .

Hasil pengetesan kali ini cukup jauh selisihnya dibanding saat pulang kerja Senin kmaren, dimana Nmax dengan BBM V-power dan filter Ferrox dapat hasil 1:40,1 km/l. Kok bisa jauh ya selisihnya… padahal waktu dan jarak tempuh sama…

Positif salah satunya karena saat berangkat kerja lewat 3 lamer dan 1 Palker, sedangkan saat pulang kerja cuma kena 2 Lamer (1 lamernya jarang kena karena jalur prioritas, lampu merahnya bentar bgt)

Kalau pengen irit gampang… pas lampu merah dan Palang Kereta matiin mesin saja.  ๐Ÿ™‚

Disini fungsi SSS melakukan tugasnya, ga mustahil dalam rute dalam kota bisa ngirit 4 km/l kalau banyak lampu merahnya.

Share pengalaman selama jadi penunggang Tiger dan GLmax. Saat stasioner di lampu merah RPM kadang naik sendiri tanpa sebab trus turun perlahan bahkan kadang sampai mati mesin. Apa ya kira-kira sebabnya… ini dia pokok masalahnya 

1. Manifol bocor

Manifol adalah karet penghubung antara karburator dan mesin. Kalau bocor, campuran udara dan bahan bakar jadi ga ideal… ada udara tak dikehendaki nyusup dari tempat yang bocor.

2. Spul pengapian tidak sehat

Tanda spull pengapian hampir koit adalah motor susah distater, RPM naik turun saat stasioner, dan brebet ditempat tertentu. Kalau sudah gini mending ganti spulnya . Pengalaman gulung spull umurnya ga panjang.

3. Skep karbu terkikis

GL max SF dulu pakai karbu imitasi punya GL Pro. Kualitas skep yang kurang bagus, bikin mudah aus/terkikis. Ngowos dah saat stasioner.

Semoga berguna infonya