Ini dia motor jaman mudaku dulu

image

Akhirnya nemu juga foto motorku dulu GL Max 125 neotech lansiran 1997, warna aslinya hijau tua metalik. Wah banyak sejarah SF sama motor ini sampai hampir tewas juga pernah :). Keinginan punya motor laki tercapai setelah kelas 2 SMA (sebelumnya pakai motor honda grand Bokap kemana2), awalnya pengen honda GL Pro eh malah dibeliin GL max karena mesinnya lebih halus dan irit , manut aja ah pertimbangan orang tua. Top speed 120kpj ternyata kurang bikin puas. Nah untuk menyalurkan hasrat, terpaksa SF menyimpan uang jajan untuk beli knalpot racing, setelah knalpot terbeli, jetting cukup dirojok, dan filter dilepas busanya. Eh top speed cuma mentok 125 🙂 nah tabungan uang jajan selanjutnya buat oprek si GL max nahas ini, alhasil seher ganti suzuki carry , dan noken dipapas, karburator pakai punya GL pro (bekas), puas deh bisa bikin motor loncat-loncat dan mengalahkan suzuki tornado 110 berknalpot racing. Akhirnya hobi kenceng-kencengan terbukti bikin celaka. Saat sedang kenceng boncengan dengan teman dijalan agak berpasir karena ada galian. Tiba-tiba ada taksi motong untuk balik arah, hasilnya. BRAKKK….!! motor ane sukses menabrak bagian samping taksi itu. sF dan teman tersungkur beberapa meter, untung ga nyebur galian karena tertahan tanah bekas galian. Hasilnya badan penuh luka motor ancur ga karuan. Proyek restorasi dimulai, motor dicat total warna hijau muda, footstep bengkok dibuang, ganti footstep racing nganggur di bengkel langganan, spedometer  pecah dilengserkan saja 🙂 . Selesai restorasi, motor masih sempet dibawa turing ke Jogja, Jember dll namun problem mesin datang beruntun., entah ngebul, kamrat loncat, laher noken jebol, dll. kapok dah ngoprek mesin. Main kosmetik ajah,…  proyek selanjutnya monoshock bikinan dhewe, dan ganti kaki2 milik tiger.
Akhir cerita, ortu kecewa berat karena GL ini minta jajan terus, selalu ada problem baik mesin, kelistrikan maupun lainnya. Motor terpaksa dijual dan dibeli bengkel di 2005 silam, motor dalam kondisi seadanya dan berpindah tangan seharga 4jtan. Berdasarkan pengalaman itu SF kapok ngoprek daleman mesin apalagi sampai boreup segala,  senengnya sebentar aja, susahnya berentetan 🙂

Roller Rocker Arm (RRA) /templar rontok. Resiko parts aftermarket.

image

Kira-kira seminggu kemaren salah seorang sahabat SF (thanks to Mas Gio) mengirimi foto mengejutkan sepasang RRA (Roller Rocker Arm) rontok setelah dipakai beberapa hari pada jupiter z yang sedang dioprek. Untuk mendapatkan informasi detail ini SF rela interlokal ke kota Malang tempat kediaman sobat SF ini 😆
Jupiter Z ini memang sudah mengalami modifikasi dibeberapa bagian untuk meningkatkan performanya diantaranya kapasitas sudah bengkak menjadi 125 cc, serta noken as pun custom alias bikinan sendiri. Padahal menurut sobat SF ini ukuran lift noken ini ga seberapa tinggi. Saat payung klep terbuka maksimal diukur hanya setinggi 6.8 mm, bahkan mio yang pernah doi garap saja angkatan payung 8mm lebih masih sanggup kok.
Selepas itu empunya motor sudah ga berani lagi memasang part aftermarket pada tunggangannya, sebagai gantinya doi memilih RRA OEM milik honda blade. Memang agak ribet masangnya karena harus dimodif dulu agar bisa terpasang pada Jupiter, namun kekuatannya lebih baik dari produk plug and play aftermarket. Mekaniknya menjelaskan masalah jebolnya sepasang RRA tersebut disinyalir karena kualitas bahannya yang kurang baik  bukan karena settingan mesinnya, buktinya setelah dipasang RRA milik honda blade dengan settingan yang sama persis dengan sebelumnya tidak mengalami kendala apapun. Padahal RRA yang jebol tersebut disinyalir import dari Thailand loh…. Nah entah bagaimana kekuatan RRA plug N play untuk motor lain. Silahkan kalau mau menambahkan pengalaman memakai RRA atau ninggalin jejak 🙂