Lomba mancing di Laut, pahami dulu aturannya biar ga kapok

Jujur saja SF dah kapok diajakin mancing kelaut dalam rangka mengikuti lomba mancing. Nah kali ini SF pengen sharing pengalaman sekaligus alasan kenapa SF males lomba mancing dilaut.

Ini baru angler Pro 😁….

Sebenarnya persyaratan lombanya itu yang bikin SF ogah mancing. Berikut ini contohnya.

1. Kapal / kapten kapal diacak . Peserta tidak bisa milih. Ada alasannya sih. Kalau bisa milih kapal/kapten kapal ditakutkan ada kesepakatan jahat antara peserta dan kapten kapal.

Mancing itu hobi, nyari seneng. Kapal dan kru yang dipakai kudu recomended. Pelayanan ramah, masakan uenak, tau spot-spot potensial… Wajib itu. Lah kalau pembagian kapalnya acak gimana. Pengalaman beberapa kali mancing hanya beberapa kapal dan kru yang bener-benar totalitas berusaha memuaskan pemancing. Lainnya fasilitas ga layak, kru ga ramah, beberapa cuma sekedar cari nafkah. Grup-grup pemancing biasanya juga menanam rumpon ditempat tertentu yang cuma mereka sendiri tau spotnya. Lah kalau ngajak kapten kapal lain , bisa-bisa di tag spot itu. Dicolong dah kalau pas ga mancing sama kita….

2. Jam mancing dibatasi

Kalau bosen zonk atau ikan dah dapat banyak…. Angler sendiri yang memutuskan balik. Ga lucu kalau semalaman zonk trus ikan pas lagi makan tapi terpaksa balik karena waktu abis.

3. Ikan yang masuk kategori di simpan panitia

Dengan alasan penimbangan dan akan dimasak bersama seluruh peserta , ikan ditahan panitia. Padahal angler juga pengen bawa ikan pulang, oleh2 buat keluarga.

Ada temen yang nyeletuk “Lu angler apa nelayan sih…. ” SF timpalin sajah…. “Awas yah next trip Jatah ikan Lu buat Gw …! ” Ikan laut laut segar itu priceless… Ga bisa disamain dengan ikan di Pasar, bahkan TPI.

4. Alasan utama…. Sayahhh bukan pemancing profesionalll…. Bisanya cuma jeblugan. Apalagi hobi ngotrek Malu kannnn… 🙂

Belum lagi abis mancing selesai masih ada acara lain pengumuman panitia, masak bareng, alamakkk…. Dah semalaman ga tidur kudu molor lagi, trus masih harus nyetir pulang puluhan KM…. Ogiahhh….

Jadi maapin ya yang mau ngajakin saya ikut lomba mancing… Saya pass saja deh. Nyari ya lebih pro sajahhh….
😁
Mungkin nanti kalau saya sudah Pro dan banyak waktu luang, serta ada subsidi… Bolehlah diajak lomba mancing lepas pantai…. 😅

Belanja online bukan hanya soal harga. Respon seller juga penting

Kebiasaan SF sebelum memutuskan belanja barang melalui marketplace adalah melakukan pencarian degan sortir harga terendah, kemudian cari yang reputasi seller bagus atau reviewnya banyak. Seperti pagi ini misalnya.

Dari kemaren googling sampai ga bisa tidur nyari speaker yang bagus buat menggantikan simbada jadul yang mulai turun performanya. Hingga SF memutuskan satu merk yang sesuai budget dan ukurannya pas dengan ruangan. Jelasnya keesokan harinya jelas ga sabar donk pengen segera hunting barangnya. Thonet & Vander Grub dicari diberbagai market place. Seller diPrioritaskan yang menawarkan harga termurah dengan review dari pengguna yang bagus. SF berusaha memastikan ketersediaan barang melalui chat maupun diskusi. 3 seller termurah sangat lambat memberikan respon sampai 1 jam lebih tidak merespon. Ada yang respon tapi reseller itupun harus memastikan ketersediaan barang digudang.

SF lantas perluas pencarian ke lapak selanjutnya yang harganya sedikit lebih mahal. Nah dilapak ini respon langsung terbalas, SF nanya-nanya juga dilayani dengan ramah. Selisih harga lumayan jadi ga signifikan lagi kalau buyer lagi kebelet :Mrgreen: respon selisih beberapa menit saja bisa jadi penentu 🙂  . Seller yang fast respon dan komunikatif jadi kunci transaksi SF kali ini.

Setelah SF deal dan barang sudah dikirim baru dah ada seller yang respon kalau barang ready dan bisa di kirim via ojek online…. Telattt… Salahnya sendiri ga responsif. SF terlanjur beli dari lapak lain.

 

Terlambat merespon atau bahkan mengabaikan pertanyaan konsumen jelas merugikan lapak itu sendiri. Hal ini yang sering ga disadari oleh seller.

Panduan memilih drum elektrik. Harus mendekati drum akustik agar bisa buat jangka panjang

Panduan memilih drum elektrik yang harus mendekati fitur drum akustik. “Kenapa ribet amat, ga beli sekalian saja drum akustik…!?” Mungkin begitu pertanyaan beberapa pembaca. Drum akustik suara alat musiknya paten ga bisa diubah jenisnya, suaranya kuenceng nembus kemana-mana dan dimensi besar, susah dibawa kemana2. Paham kan… Baca lagi ya asyiknya drum elektrik di artikel kemaren

Nah kali ini SF akan bahas panduan memilih drum elektrik paling tidak fiturnya menyamai drum akustik. Ini untuk keperluan lebih dari sekedar cari keringat. Tapi dah menuju ke next level . Si Faiz kan dah SF sekolahkan di Yamaha Music School (Max & Jeanny) harapan indah-Bekasi . Sayang kalau terlambat perkembangannya gara-gara alat drumnya.

Eh ya bagi yang masih bingung drum elektrik sama akustik. Ini singkatnya : Drum akustik dipukul langsung bunyi, sedangkan drum elektrik kudu pake speaker. :Lol:

DTX400, drum elektrik entry level dari yamaha

Karena kesalahan SF membeli drum elektrik entry level, kini SF kudu merogoh kocek lebih dalam dibanding beli baru dengan spec yang mumpungi. Karena itu SF share tips memilih drum elektrik.

Continue reading “Panduan memilih drum elektrik. Harus mendekati drum akustik agar bisa buat jangka panjang”

Syarat sebelum jadi anggota klub motor besar harus ikut safety riding

Usulan moge masuk toll menghasilkan ketidakpuasan pada pemilik moge karena usulan tersebut ditolak mentah-mentah Kapolri,  meski sebelumnya pengurus klub moge menjamin jika anggotanya akan tertib di tol karena semua telah dibekali pelatihan safety riding.

bukan masalah di toll yang SF bahas karena sudah banyak yang bahas soal ini. Masalah pelatihan safety riding itu loh…

sumber:pertamax7.com

Continue reading “Syarat sebelum jadi anggota klub motor besar harus ikut safety riding”

Sedih karena anak ga bisa baca? Mungkin metode ajarnya ga cocok. Pengalaman ngajari Faiz baca.

Sangat….sangat sedih sekali saat Faiz dinyatakan harus mengulang tes masuk SD (tidak lulus tes tahap awal). Untung masih diberi waktu hampir 2 bulan untuk ujian ulang. SF dan Bunda terlalu percaya dengan bimbingan belajar (sebut saja bimba X ) tempat faiz belajar prasekolah. Hampir 2 tahun belajar faiz masih tidak bisa baca. SF memilih Bimba X ini karena berdasarkan pengakuan banyak walimurid pada website bimba ini, anaknya bisa membaca dengan metode yang digunakan bimba (kosakata dilagukan) . SF sendiri sempat ngetes Faiz dihadapan guru bimba X  hasilnya dia bisa baca beberapa kosa kata… Tapi anehnya saat ujian masuk SD sama sekali tidak bisa..
Ternyata Faiz hanya menghafal beberapa kosa kata yang pernah diajarkan dibimba x. Tidak bisa baca kesatuan huruf yang membentuk kata. Continue reading “Sedih karena anak ga bisa baca? Mungkin metode ajarnya ga cocok. Pengalaman ngajari Faiz baca.”

Komunitas roda dua, perlukah mensyaratkan safety riding!?

image

Mungkin pembaca sudah baca artikel SF terdahulu mengenai pembenaran melipat spion. Sampai saat ini masih ada yang ngganjal dihati nih. Mengenai keberadaan komunitas motor baik di darat maupun didunia maya. Pertanyaan dasarnya cuma satu… perlukah komunitas tersebut mewajibkan anggotanya mentaati safety riding? Menurut opini pribadi SF… jelas perlu dan wajib! Komunitas saat menjadi besar dan ternama bakal diperhatikan rider maupun komunitas lainnya, jika komunitas itu berimage baik tentunya image baik juga melekat pada membernya. SF sendiri menyatakan kesalutan pada komunitas yang menekankan safety riding ini, bahkan sampai ada yang menyediakan media pelaporan online jika ada kelakuan membernya yang arogan atau melanggar aturan berlalu lintas. Sanksi bagi terlapor bisa dengan himbauan, teguran, kalau tetap membandel bisa sampai pemecatan (atau pemblokiran akun).
image

Komunitas besar jadi rujukan rider dengan kesamaan minat… jika diracuni hal-hal yang ga bener bisa bahaya…! Rider baru bakal menyerap info maupun tren dikomunitas itu. Nah jika melipat spion dianggap tren (atau sudah menjamur? ) , ban cacing dianggap gaul, pasang toa dan lampu strobo jadi berwibawa, turing kudu kenceng-kencengan …. lalu bagaimana image komunitas dan membernya yang beredar dimasyarakat? Nampak keren, gaul, berwibawa atau masyarakat malah menganggap alay, membahayakan dan arogan!?
Bagaimana komunitas motor yang baik menurut pembaca? Monggo di share jika berkenan….

image

Motor harian buat kerja jangan neko-neko

image

Afdolnya motor buat kerja sih cukup motor spec pabrikan saja karena ndak gampang rewel. Hindari motor korekan, modif kelistrikan atau modif kaki-kaki ekstreem, bakal nyusahin jika bermasalah dijalan. Dalam kasus SF terlambat masuk kantor apapun alasannya potong gaji! Jumlahnya cukup bikin cenut-cenut.
Motor korekan tentu riskan mesin rusak, misal motor bore up gampang overheat, modif per kopling racing rawan kabel kopling putus, dll. Modif kelistrikan ekstreem juga bikin motor bermasalah, misal pasang lampu pernak-pernik, klakson, lampu hazard, nah kalau sambungan kabelnya ga rapi bisa bikin korslet dan jika daya perangkat elektronik terlalu besar bisa bikin aki tekor bahkan kiprok jebol, apalagi motor injeksi, ngeri kalo sampai ada apa-apa dengan ICUnya. Modif kaki-kaki ekstreem juga bisa bikin problem dijalan, misal pasang kaki2 moge selain membebani kerja mesin, rantai serta baut gir juga gampang jebol. Kaki ceking seperti cacing apalagi, rawan bocor dan gampang selip. Gimana kalau motor oprekan, pake perangkat listrik aneh-aneh serta pake ban cacing? Keblinger namanya 😆
Namun bukan berarti motor harian buat kerja ga boleh dimodif loh. Menurut SF malah harus :mrgreen: tapi modif yang bikin nyaman, misal bikin kontur di jok agar empuk layaknya sofa, ganti shockbreaker yang lebih empuk dan nyaman, pasang raiser setang , ganti ban tubeless biar anti bocor, modif tuas perseneling jungkit jadi injakan,  dll. Motor nyaman saat tiba ditempat kerja tubuh ga capek dan semangat kerja tetap terjaga. Saat pulang kerja emosi masih terjaga dan bisa nglayani permainan si kecil (dan bundanya 😛 )