tuas

All posts tagged tuas

Saat cari makan siang dengan Adik. Adik SF tiba-tiba belokin motornya ke toko variasi motor yang murmer. “Sapa tau ada yang cocok mas…”(tau aja klo SF suka gelap mata klo ketemu yang murah-murah). Setelah clinguk-clinguk akhirnya nyomot braket plat nomor Nmax plus sponge handle gas dan cover karet tuas rem. Murah bgt sihhh…. 3 item totalnya sekitar 40rban.
Braket plat nomer ditempel di tabung shock breaker bikin area windshield mudah dibersihkan. Klo ini ga ngefek kenyamanan cuma intermezo sajahhh….

Berikut parts yang SF maksud : Continue Reading

Sangat jarang sekali SF menggunakan gembok pengaman untuk Ninja atau Nmax saat diparkiran kantor… alasannya males ngolong pake nunduk atau jongkok. Belum lagi kalau posisi gembok yang awalnya bebas jadi terhalang motor lain, atau posisi motor bergeser.
Nah griplock ini solusi praktisnya

image

Continue Reading

Kejadian ini menimpa vixion adik ipar SF.  Tuas kopling tangan terasa berat saat ditarik.  Bukan hanya itu terasa geretan pada tangan saat menarik kopling.  SF berasumsi kabel kopling yang minta diganti.  Setelah diganti tetap saja kopling terasa keras.  Di semprot dengan penetran tetap saja ga bisa seringan seperti tiger atau ninja. 

image

Continue Reading

image

Penyebab kabel kopling cepet putus selain karena termakan usia juga karena pemakaian parts yang tidak original, yuk kita list :
-penggantian per kopling racing yang lebih keras dibanding original. Jelas akan menambah beban yang ditanggung tali kopling. Di forum ninja 250 banyak yang mengeluh tali kopling cepet putus semenjak ganti per kopling racing

image

– penggunaan kabel kopling imitasi : jelas lah keawetannya berkurang, yang ori diselongsongnya ada lapisan plastiknya dan kawatnya lebih tebal/berkualitas.

-penggunaan setang jepit… loh kok bisa bikin kabel kopling cepet putus? Pengalaman tiger SF dulunya pernah pakai stang jepit, kabel kopling jadi kepanjangen jadi posisinya ga selurus posisi semula tapi lebih ketekuk sehingga tarikan kopling berat.
-penggunaan tuas kopling non ori apalagi produk murah, biasanya rumah nipel kawat koplingnya kasar dan tajam sehingga saat tuas kopling dimainkan berulang kali akan menggerus kawat kopling . Putus dah… ini yang terjadi beberapa waktu lalu dengan tiger tunggangan SF, akhirnya pulang kerja ga langsung istirahat tapi mbengkel

image

Discuss ikutan mejeng 🙂

Ciri-ciri kabel kopling akan putus biasanya dapat dirasakan saat menarik tuas kopling jadi lebih dalam dari biasanya, lebih berat dan ga mulus (terasa geretan/gesekan), dan kalau parah meski tuas kopling dilepas kawat kopling lambat balik/bahkan macet sehingga bikin kopling selip. Ini akibat serabut kawat sebagian ada yang putus, jadi saat tuas kopling dilepas nyangkut di selongsong kopling. Kalau sudah gini buruan ganti… daripada putus dijalan berabe. Sebenernya pengen juga sih pasang kopling hidrolis tapi muahalnya ga nahan, yang lokal saja bisa diatas 500 rb apalagi yang bermerk bisa jutaan rupiah… mending pasang prospeed atau koso buat bolot 😛

image

Pengalaman pertama nyemplak motor berkopling tangan terjadi sekitar setahun sebelum SF dibelikan GL Max oleh ortu. Motor yang SF jajal ini bukanlah motor sport, namun sebuah vespa tua yang bodinya cukup gendut dan lampu depan kotak. Kalau ga salah tipenya sprint ( maklum kejadiannya belasan tahun silam). Untuk itungan bocah yang baru lulus SMP tentunya vespa ini tergolong gambot dan berlebihan beratnya, namun hal itu ga menyurutkan keberanian SF muda untuk menerima ajakan kakak sepupu belajar motor berkopling tangan. Dengan berbekal nekad meskipun lumayan jinjit niat tetep teguh 🙂 . Perlu setengah jam untuk belajar stop and go serta manufer ringan sebelum akhirnya memberanikan diri keluar dijalan aspal pedesaan (saat itu sedang liburan ke jogja). Ada satu kejadian yang terngiang hingga sekarang, saat riding santai kecepatan 60 tiba-tiba dari belakang muncul truk yang lumayan kencang dari arah belakang hingga motor goyang dan keluar kebadan jalan, untung ga sampai jatuh. :mrgreen:
padahal kakak sepupu yang SF bonceng sempet teriak :mrgreen:
Kesan yang tetap melekat dalam benak meskipun telah belasan tahun adalah vespa ini sangat amat nyaman, pantat sama-sekali ga pegel lah wong jok depan mentul-mentul ada pernya 🙂  namun yang bikin beda dengan motor lainnya yakni posisi setang cukup dekat dengan rider dan lumayan rendah, perlu pembiasaan bagi yang pertama jajal. Sensasinya jauh beda dengan grand milik bokap yang sering SF pinjam.
Beberapa tahun kemudian dikabari oleh sodara dari Jogja, rumahnya semalam kemalingan beberapa barang elektronik amblas termasuk vespa ini, namun anehnya vespa ditemukan tergeletak dipinggir jalan beberapa km dari rumah. Malingnya mikir-mikir kali …. motor ga ada suratnya, peminatnya terbatas, ga ada patokan harga, gimana njualnya.. ? Tinggal aja dahh… daripada kualat 😛
Vespa layaknya masterpiece of art di dunia roda dua, seperti VW pada mobil. Tak heran sampai sekarangpun masih banyak peminatnya.

Ket :Gambar dari www.scootermaniac.org

image

Awalnya sih ga ada niat ganti handle(tuas) kopling dan rem tapi karena yang lama sudah ilang catnya, dan tuas rem sudah kurang nyaman (jaraknya terlalu jauh), sedangkan tuas kopling belum nemu setelan yang pas karena habis ganti rumah kopling 6 per pada tiger kesayangan, akhirnya tertarik beli handle rem di bengkel kecil. Awalnya buka harga 50rb ane tawar kena 45 rb. Nyampe rumah langsung pasang sendiri, ga susah kok paling 10 menit dah terpasang. Nah keesokan harinya tiger dijajal buat kerja, jalan beberapa saat untuk uji coba, pas lampu merah berhenti sekalian cari setelan yang pas. Tuas kopling tinggal ditekan keluar trus knob setelan diputer-puter (ada 4 setelan kerenggangan). Saat jalan beberapa km terasa jari ga nyaman, sakit dibagian yang nempel dengan tuas. Nyampe kantor langsung buka internet cari yang jual karet handle, akhirnya nemu di kaskus. Harganya cukup murah cuma 10 rb 🙂 karena sayang ongkos kirimnya ane beli 2 pasang karet handle dan 1 easy thorttle. Esoknya nyampai, langsung pasang diparkiran. Maknyus hasilnya, jari ga sakit lagi aktivitas mainin tuas rem dan kopling jadinya kok makin ringan ya, atau perasaan saya saja :mrgreen:
Bagi SF, murah meriah kalau sudah nyaman kenapa harus beli yang mahal 🙂